Kegiatan workshop di Bandung Utama Group Karot, Selasa (20/08/2019).

Ruteng, Vox NTT- Marianus Samsung, Kepala Desa (Kades) Galang, Kecamatan Welak, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) meminta semua pihak agar membantu pihaknya dalam mempromosikan tempat wisata Istana Ular.

Kades Marianus meminta hal itu saat kegiatan workshop di Bandung Utama Group Karot, Selasa (20/08/2019).

Workshop sehari bertajuk “Meneropong Geliat Perkembangan Perekonomian Kawasan Manggarai Raya Melalui Ekonomi Desa” itu diselenggarakan oleh Change Operator dan LP2MR.

“Istana Ular itu cuma ada satu di dunia. Saya ingin memperkenalkan Istana Ular ini seperti Komodo, harus booming seperti Komodo, karena sama-sama cuma ada satu di dunia. Untuk itu, saya sangat membutuhkan kehadiran kepala-kepala baru di desa saya untuk sama-sama berpikir bagaimana caranya untuk mengembangkan destinasi tersebut,” ungkapnya.

Kades Marianus juga mengajak pihak Bandung Utama Group untuk melakukan investasi wahana outbond di Sesa Galang. Hal itu untuk menunjang promosi destinasi wisata Istana Ular.

“Sejauh ini kami sudah melakukan berbagai upaya untuk promosi tempat unik ini, seperti mengundang rekan-rekan media, travel agent, dan semua teman-teman saya. Maka dari itu saya sekarang juga mengajak kita semua untuk mengunjungi Istana Ular. Tidak perlu bayar, cukup foto dan upload di media sosial. Saya berharap nanti Bandung Utama Group bisa hadir dan buat outbond di sana,” katanya.

Kades yang meraih predikat penghargaan desa dengan pengelolahan keuangan desa terbaik di Manggarai Barat ini juga sempat mengemukakan beberapa terobosannya dalam pembangunan ekonomi.

Namun, baginya, Pemerintah Desa Galang masih terkendala dalam aspek pemasaran.

Ia mengungkapkan, hampir 90 persen masyarakat di Desa Galang berprofesi sebagai petani.

Per-2017, penghasilan padi dari sawah di desa itu mencapai 70 ton/tahun. Selanjutnya, kemiri 18 ton dan ternak 300 ekor.

Kemudian ungkap Kades Marianus, pihaknya pernah menggerakan sebuah kelompok tani cabai. Saat itu hasilnya mencapai 80 Kg.

Namun demikian, cabai tersebut tidak bisa terjual karena ternyata kebutuhan pasar masih sedikit.

“Saya berharap nanti petani saya yang jadi produsen, dan LP2MR yang akan memfasilitasi pemasarannya,” harap Kades Marianus.

Penulis: Pepy Kurniawan
Editor: Ardy Abba

alterntif text