Sesi foto bersama setelah penandatanganan MoU antara Fourgelina, Manajer Program YLAI dan Sairo Umbu Awang, Kadis Pendidikan Kabupaten Sumba Barat

Waikabubak, Vox NTT-Dinas Pendidikan Kabupaten Sumba Barat menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Yayasan Literasi Anak Indonesia (YLAI).

YLAI merupakan salah satu dari lima mitra INOVASI di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur.

Kehadiran mitra INOVASI ini memungkinkan terjangkaunya lebih banyak sekolah di Sumba dalam waktu yang singkat dengan bentuk intervensi yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing kabupaten.

INOVASI (Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia) adalah program kemitraan pendidikan antara Pemerintah Indonesia dan Australia yang bertujuan untuk menemukan dan memahami cara meningkatkan hasil belajar siswa, khususnya yang berkaitan dengan kemampuan literasi dan numerasi, baik di dalam kelas maupun di lingkungan sekolah secara umum.

Untuk memastikan keberlanjutan program yang dilakukan oleh mitra, INOVASI mendorong terbangunnya kerja sama langsung antara lembaga-lembaga berkompeten di bidangnya dengan pemerintah pada setiap kabupaten di Pulau Sumba.

Dalam press release yang diterima wartawan VoxNtt.com pada Rabu (28/08/2019) malam, Nota Kesepahaman tersebut diteken pada Rabu (28/08/2019) siang di aula kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Sumba Barat.

MoU yang berisikan kesepakatan untuk memperpanjang pelaksanaan program Membaca Berimbang di Sumba Barat itu ditandatangani oleh Sairo Umbu Awang sebagai Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumba Barat dan Fourgelina selaku Manajer Program YLAI .

Penandatanganan MoU disaksikan oleh Yehuda Malorung dan Paulus Ngongo Bili dari pihak Dinas Pendidikan Sumba Barat. Sementara saksi dari YLAI adalah Hironimus Sugi dan Novia Debi Wicaksono.

YLAI bersama INOVASI telah melaksanakan program Membaca Berimbang di Kabupaten Sumba Barat sejak September 2018 dengan 10 sekolah dampingan.

Program Membaca Berimbang tersebut terdiri dari membaca interaktif, membaca bersama, membaca terbimbing dan membaca mandiri.

Program ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca dari setiap siswa pada sekolah dampingan.

Dengan ditekennya kesepakatan ini, YLAI akan melanjutkan implementasi program di sekolah yang sama hingga Juni 2020. Selain program Membaca Berimbang, YLAI juga akan memberikan pembelajaran kesadaran fonemik.

Dalam sambutannya, Kadis Sairo menyampaikan ucapan terima kasih kepada INOVASI dan YLAI yang tetap setia menjadi mitra pemerintah Sumba Barat.

“Pada hari ini kita akan melakukan penandatanganan MoU dengan YLAI untuk keberlanjutan daripada program ini sampai dengan bulan Juni tahun 2020. Terimkasih atas segala pengertian baik dari INOVASI bersama mitranya”, ujar Sairo.

Sairo berharap kerja sama yang terus berlanjut serta bantuan dari INOVASI dan YLAI dalam meningkatkan mutu pendidikan di Sumba Barat.

“Kami masih tetap mengharapkan bantuan dari bapak-ibu. Mungkin yang kita tandatangan, walaupun hanya sampai Juni 2020. Ya, tapi di balik itu kami berharap supaya situasi ini mungkin lebih jauh lagi atau lebih panjang lagi”, imbuh Awang.

Aprile Denise selaku Penasihat Teknis YLAI dalam sambutannya menjelaskan tentang visi YLAI.

“Visi YLAI adalah untuk bekerja sama secara erat dengan Dinas Pendidikan setempat untuk membangun program keaksaraan yang kuat ke sekolah-sekolah di Sumba Barat”, jelas Aprile.

“Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk bekerja bersama untuk memastikan keberhasilan program sehingga dapat berlanjut di seluruh kabupaten untuk menjangkau anak-anak di kelas awal”, lanjut Denise.

Aprile menegaskan pentingnya kualitas dan keterampilan seorang guru dalam menanam budaya literasi kepada anak-anak.

“Melatih membaca tidak sulit, tetapi membutuhkan guru yang terlatih dan sumber daya yang sangat baik dalam memotivasi anak-anak. YLAI dapat menyediakan ini untuk sekolah tetapi membutuhkan kerja sama erat dari dinas, fasilitator, kepala sekolah dan guru”, tegasnya.

“Jika anak-anak tidak dapat membaca dan memahami apa yang mereka baca dalam tiga tahun pertama di sekolah dasar, pendidikan mereka akan semakin tertinggal dan akhirnya anak putus sekolah. Kami ingin memastikan ini tidak terjadi”, pungkas Aprile.

Hironimus Sugi yang menjabat sebagai Manajer Program INOVASI NTT dalam sambutannya mengatakan bahwa INOVASI siap menjembatani setiap lembaga swasta yang memiliki semangat untuk kemajuan dalam bidang pendidikan dan ingin bekerja sama dengan pemerintah daerah.

“INOVASI akan berkomitmen untuk menjembatani lembaga-lembaga yang punya kepedulian dan kompetensi di bidangnya dengan pemerintah daerah agar apa yang telah kita rintis dapat terus dilanjutkan”, tandas Hironimus.

Dalam skema kerja sama ini, YLAI dan dinas pendidikan melakukan cost-sharing.

YLAI akan menganggarkan Rp 153.000.000 untuk biaya operasional dan pengadaan buku.

Sementara Dinas Pendidikan akan membiayai penyelanggaraan Kelompok Kerja Guru (KKG) dengan anggaran senilai Rp 110.000.000.

Selain itu, masing-masing pihak juga akan mengangkat satu orang untuk menjadi koordinator lapangan .

MoU antara YLAI dan Dinas Pendidikan Sumba Barat merupakan kesepakatan pertama yang ditandatangani oleh mitra INOVASI dengan pemerintah daerah.

Sebelumnya, INOVASI bersama Forum Peduli Pendidikan Sumba (FPPS) memfasilitasi lokakarya pelembagaan hasil rintisan mitra INOVASI yang dihadiri oleh perwakilan dari Dinas Pendidikan dan Bappeda dari empat kabupaten se-Sumba pada tanggal 8 Agustus 2019 di Waingapu, Kabupaten Sumba Timur.

Pada Lokakarya tersebut, INOVASI menyerahkan dokumen yang berisikan rincian biaya yang dibutuhkan untuk mereplikasi  program-program yang dilakukan oleh mitra INOVASI kepada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang hadir pada saat itu.

Penulis: Ignas Sara

Editor: Irvan K

alterntif text