Petani di Malaka yang lagi membersihkan bawang merah untuk kemudian dijual (Foto: Frido Raebesi/ Vox NTT)
alterntif text

Betun, Vox NTT- Para petani bawang merah di Dusun Loofoun, Desa Rabasahain, Kecamatan Malaka Barat, Kabupaten Malaka mengeluhkan kesulitan hasil panenan mereka.

Ketua kelompok tani di Dusun Loofoun Fransiskus Meak mengaku hingga kini para petani bingung untuk memasarkan hasil panenan bawang merah.

Menurut Fransiskus, program Revolusi Pertanian Malaka (RPM) yang digagaskan oleh Bupati Stefanus Bria Seran sangat bagus.

Hal itu karena semua fasilitas dan bahan diberikan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malaka.

Fasilitas dan bahan tersebut seperti pupuk, bibit bawang, mesin air, dan lain sebagainya.

Tak hanya itu, demi mendukung program RPM, Pemkab Malaka juga mendatangkan ahli pertanian untuk memberikan arahan kepada petani tentang cara merawat bawang.

Namun Fransiskus mengaku, para petani bingung mencari pasar untuk menjual bawang merah yang telah dipanen.

“Kelompok kami memiliki lahan lima hektare, jumlah anggota 10 orang dan untuk bawang merah semua sudah hampir selesai panen, tapi yang membuat kendala lagi bagi kami adalah pemasaran bawang yang begini banyak mau dikemanakan, kalau kita lepas begini saja lama kelamaan bawang ini bisa rusak,” katanya kepada VoxNtt.com, Selasa (16/10/2019).

Ia mengaku, lantaran belum ada pasar dalam skala besar, para petani terpaksa menjual bawang secara eceran dengan harga Rp 10.000 per kilogramnya. Mereka menjual di Pasar Motamasin.

“Itupun tiap hari bawa dua karung pulang malam dan tidak habis terjual juga,” aku Fransiskus.

Ia pun berharap agar Pemkab Malaka segera mencari jalan keluar atas kesulitan pemasaran bawang dari para petani. Para petani pun tentu saja akan menanam lagi untuk musim tanam berikutnya, jika hasil panen kali ini sudah laku terjual.

Kata dia, jika ada solusi pasar yang pas maka program RPM bisa berguna bagi para petani.

”Tetapi karena bawang yang sekarang dipanen belum habis terjual, yang pasti kami berhenti tanam yang berikutnya lagi karena tanam lagi mau dikemanakan bawang yang masih banyak ini?” pungkasnya.

Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Rabasahain Imelda Maria Kofi kepada VoxNtt.com juga menyampaikan hal serupa.

Menurut dia, tak ada kendala dalam proses penanaman bawang tersebut. Bahkan hingga panen tak ada kendala.

“Jadi, saya harapkan untuk pemerintah setempat agar bisa memperhatikan juga masyarakat yang sementara panen, sehingga semangat untuk lajutkan program tersebut bisa tetap dilanjutkan. Kalau untuk yang lain-lain terkait proses tanam semua berjalan lancar,” ungkap Maria.

Penulis: Frido Raebesi
Editor: Ardy Abba