Masyarakat adat Lidak menampilkan tarian Tebe Bot (Foto: Marcel Manek/Vox NTT)
alterntif text

Atambua, Vox NTT- Penyelenggaraan sebuah festival berbasis ekosistem merupakan amanah kultur dan panggilan peradaban.

Lewat kegiatan kebudayaan seperti festival Foho Rai yang dikemas dalam tema “Belu Panggil Pulang”, tradisi yang telah dan sempat ada kembali ditampilkan dalam kemasan baru.

Menjadi suatu keharusan ekosistem budaya untuk kembali mengumandangkan kekayaan peradaban yang telah teruji dalam perjalanan waktu yang panjang.

Festival ini lahir dari sebuah kepekaan, gotong-royong, partisipasi dan inisiatif kultur masyarakat adat pemilik ekosistem budaya.

Tanpa ekosistem budaya maasyarakat
adat, sebuah tradisi tidak akan mungkin terangkai dalam satu alur sejarah hidup yang panjang demikian.

Festival yang mengemas keterjaringan rangkaian ekosistem ini dirangkai melalui sebuah proses produksi yang kompleks.

Dalam kompleksitas demikian, kembali digarisbawahi bahwa kewenangan dan
otoritas tertinggi dari simpul-simpul kekayaan budaya ada dalam rangkai ekosistem budaya setempat, yang tentunya meliputi budaya material dan budaya non-material yang sudah ada.

Demikian dijelaskan Pastor Sixtus Bere Pr, selaku penanggung jawab komunitas Foho Rai saat ditemui di Desa Sadi, Kecamatan Tasifeto Timur, Minggu (10/11/2019).

Sebelumnya, dalam rilis yang diperoleh VoxNtt.com, dijelaskan bahwa sesuai amanat UU Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, telah digariskan bahwa aspek-aspek pemajuan kebudayaan tidak bisa dipisahkan dari lingkaran ekosistem budaya.

“Ekosistemlah yang memiliki identitas, cerita dan jati diri sebuah peradaban. Atas dasar keyakinan inilah, tahun 2019 Komunitas Fohorai dalam platform Indonesian kembali mengemas sebuah festival budaya berbasis ekosistem,” jelas Pastor Sixtus.

Disampaikannya, ada dua ekosistem budaya Belu yang diangkat dalam rangkaian Festival Fohorai 2019.

Pertama, nama Foho Rai sendiri menggambarkan entitas jati diri dan identitas kultur masyarakat Belu yang selalu terikat dengan tradisi menghargai leluhur dalam semua aspek dan unsur budaya yang dihidupinya.

Mai Ita Fila Ba Uma. Festival ini kembali membangkitkan kesadaran baru dan rasa cinta masyarakat Belu pada kekayaan budaya yang sedang dihidupinya. Ema (orang) Belu diharapakan dapat menemukan spirit kultur dan peradaban dengan setiap kali berkiblat kepada akar kehidupan atau rumah peradaban dari mana ia berasal.

Orang Belu kembali disadarkan akan arti pentingnya kekayaan tradisi sebagai identitas dan kebanggaan kultur leluhurnya sebagai tatanan nilai kehidupan yang sampai kapan pun tidak boleh tergerus oleh arus perubahan.

Kedua, ekosistem adat yang menjadi fokus eksplorasi rangkaian Festival Fohorai 2019 adalah Kampung adat Uma Metan Manuaman Lidak Tukuneno-Berkase dan Kampung Adat Sadi.

Dengan menggambil dua kampung adat ini, Fohorai Festival 2019 berupaya membidik kesadaran dan rasa bangga akan foho no rai ema belu.

Bahwa tradisi yang dimiliki selalu ada dalam perspektif jejak berkat, bukan sebuah keterlemparan nasib yang terpaksa harus dihidupi.

Safari eksplorasi ini mengemas rangkaian festival ini dalam dua segmen, yakni segmen utama dan segmen pendukung.

Segmen utama meliputi Pagelaran Kekayaan yang meliputi tarian “Tebe Bot dan Ai Tahan Timur” di Uma Metan Lidak Tukuneno Berkase, Desa Tukuneno, Kecamatan Tasifeto Barar, Kabupaten Belu.

Upacara Ritual “Ha’a Luha” sebagai tradisi khas ekosistem ada di Kampung adat Sadi.

Sementara, segmen pendukung mencakupi semua acara pendukung yang turut menyemarakkan pesta ekosistem budaya masyarakat adat setempat.

Segmen penyemarak ini meliputi atraksi seni budaya, permainan tradisional, pertunjukkan tenun ikat, pameran tradisional hasil karya masyarakat lokal, pameran kuliner tradisional, Likurai dan interpretasinya, jelajah gunung Lidak, konser musik tradisi, bazar, pameran foto, pameran dan studi tenun, dan jelajah rumah adat.

Kegiatan-kegiatan ini dirangkai sebagai satu kesatuan ekosistem yang ada dan dihidupi masyarakat adat.

Penyelenggaraan Foho Rai Festival ini didukung oleh komunitas masyarakat adat pada kedua kampung adat ini, serta dukungan dari Pemkab Belu dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Penulis: Marcel Manek
Editor: Ardy Abba

alterntif text