Mahasiswa Ngopi Malang saat memberikan penghargaan kepada Ibu Yustina Ndung selaku pemantik diskusi
alterntif text

Kupang, Vox NTT-Mahasiswa Manggarai di Malang yang tergabung dalam Komunitas Ngobrol Pintar (NgoPi) menggelar Diskusi Lintas Komunitas, Rabu, 13 November 2019.

Diskusi yang berlangsung di Aula Ning Ed-Hotel Jln. Mega mendung No.09 Malang itu, menghadirkan komunitas-komunitas mahasiswa asal Manggarai di Malang. Mereka mendiskusikan dinamika politik lokal di Manggarai Raya.

Diskusi yang dikemas dalam bentuk gathering community atau lintas komunitas, mengusung tema “ Masyarakat Cerdas Pemilu Yang Berintegritas Untuk Pemimpin Yang Berkualitas”.  Diskusi ini merupakan rangakaian acara untuk memperingati ulang tahun komunitas NgoPi keempat.

Ino Jehalu, selaku ketua pelaksana diskusi dalam sambutannya menuturkan, generasi muda tidak harus menunggu menyelesaikan pendidikan untuk dapat mengabdi ke kampung halaman. Akan tetapi memanfaatkan waktu sedini mungkin untuk melatih diri memahami dinamika yang ada melalui banyak hal salah satunya diskusi.

Encis Freinademetz selaku kordinator 1 dalam sambutanya menuturkan, konsoldiasi generasi muda merupakan bagian dari upaya membanguan demokrasi lokal.

Lebih lanjut Encis menambahkan, “Gerasi muda merupakan bagian dari pembangunan masa depan Manggarai dan masa depan Indonesia”.

Hadir sebagai narasumber dalam diskusi itu antara lain, adalah, Dosen Fakultas Ilmu Soial Dan Politik Dr. Yustina Ndung, Sp.d, MSi, Kordinator Divisi Bidang Penindakan Pelanggaran BANWASLU Kab. Malang, Goerge Da Silva SH, Komunitas Ksatria Nucalale,  Keluraga Besar Ignsius Loyola Malang ( KAILmalang ), Ikatan Alumni St, Klaus Kuwu Malang ( INSANKLAS MalAng), Kumpulan Roeng Manggrai Malang (KURMA), Ikatan Mahasiswa Unitri (IKAMTRI), Himpunan Mahasiswa Kesehatan Manggarai Malang (HMKM), Ikatan Alumni St. Klaus Werang, Ikatan Alumni Seminari Pius XII Kisol Malang, dan Ikatan Mahasiswa Manggarai Timur.

Suasana diskusi mahasiswa Malang tentang dinamika Pilkada Manggarai

Pantuan VoxNtt.com, diskusi berlangsung dinamis selama 2,5 jam dan dimoderatori oleh Novi Timung, mahasiswa semester 7 Fakultas Ilmu Hukum Universitas Merdeka Malang.

Dalam pemaparannya selaku akademisi dan politisi, Yustina Ndung memberi materi tentang “Mahasiswa dan Politik: Anomali Identitas Sosial Masyarakat” serta berbicara pemimpin dari perpektif budaya Manggrai.

“Keterlibatan mahasiswa dalam mewujudkan demokrasi sebenarnya sebuah langkah yang baik untuk memberi pendidikan politik kepada masyarakat,” jelasnya.

Selain itu terkait kepemimpinan dalam perspektif Manggarai, seorang pemimpin, jelas Yustina Ndung, harus menanamkan sikap 5T yaitu toing (mampu mengajarkan nilai yang baik), titong (mengarahkan atau menuntun ke hal-hal yang baik), toming (mampu memberi contoh), tatong (mensuport)  dan toto (menunjukan cara berpikir, cara bertutur dan cara bersikap yang mengandung nilai-nilai kebaikan).

Selanjutnya George Da Silva memberikan materi terkait strategi terwujudnya pilkada yang LUBERJUDIL dan menjelaskan rambu-rambu Pilkada.

“Pemilu dapat berjalan baik apabila asas-asal pemilu dapat dilaksanakan atas dasar kesadaran penyelenggara pemilu dan masyarakat sendiri,” jelas Da Silva.

Dalam pandangan setiap komunitas yang hadir, beragam masalah yang terjadi di Manggarai disampaikan di depan forum diskusi. Masalah-masalah itu seperti paradigma masyarakat yang minim tentang substansi demokrasi, partai politik belum menjalankan fungsi pendidikan politik, adanya budaya politik transaksional, tingkat partisapsi dalam pemilu yang pasif, adanya budaya politik oligarki yang kuat, dan pemimpin yang lahir dari pemilu belum menerjemakan budaya Manggarai dalam pengambilan kebijakan atau keputusan.

Terkait point terakhir, salah satu masalah yang dibahas ialah Fenomena penggunaan budaya lonto leok yang hanya dipakai di awal pencalonan. Akibatnya, keterlibatan publik dalam merumuskan kebijakan masih rendah.

Tidak hanya menuturkan beragam masalah, diskusi ini juga melahirkan beragam solusi diantaranya diperlukan pendidikan politik sedini mungkin dimulai dari keluarga dan di tengah masyarakat. Salah satunya dengan membentuk sekolah nonformal di tingkat desa yang berkolaborasi dengan partai politik, pihak gereja dan LSM. (VoN).