Warga yang lahir di Boncukode, Paulus Jerobu saat memandu VoxNtt.com Kamis 14 November 2019 (Foto: pepy/Voxntt.com)
alterntif text

Ruteng, Vox NTT-Tak banyak yang mengetahui kampung Boncukode. Konon, nama kampung di Desa Perak, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai itu berasal dari dua kata yakni boncu yang artinya lompat dan kode yang berarti kera.

Boncukode secara harafiah dapat dimaknai ‘tempat kera melompat-lompat’.

Nenek moyang orang Boncukode tidak sembarang memberi nama. Daerah itu memang terletak di lereng gunung dan diapiti jurang. Di atas kampung berjejer bebatuan yang kapan saja bisa roboh mengenai rumah warga.

Salah satu batu yang terkenal ialah batu Rambung. Pesona batu alam yang terletak sejajar dengan kampung Boncukode itu memiliki cerita tersendiri. Di tepi deretan bukit bertebing, ia berdiri perkasa menantang langit.

Watu Rambung (Foto: Facebook) 

Di bagian bawah batu tersebut terdapat sebuah gua. Menurut legenda setempat, di gua tersebut ada penjaga yang akan membunyikan tongkat besinya untuk menyapa pengunjung.

Di sekitar gua itu terdapat banyak monyet. Dulu, orang-orang Boncukode dapat melihat para monyet menari-nari di atas bebatuan saat pagi dan senja.

Sunyi di Boncukode

Jarak dari Pagal, ibu kota Kecamatan Cibal sekitar 5 Km, melewati jalan yang permukaan aspalnya terkelupas sehingga menyisahkan batu-batu.

Sebelum sampai di Boncukode, pengunjung melawati kampung Rebuk. Selanjutnya, melewati jalan tanjakan curam dan berliku-liku hingga tiba di kampung Pusat.

Jalan menuju Boncukode yang sekarang ditumbuhi rumput karena jarang dilalui warga

Dari kampung Pusat, jalan menuju Boncukode belum diaspal, sehingga harus menanggalkan motor dan berjalan kaki sekitar 1,5 Km.

Jalan itu memang sudah ditelford, tapi karena jarang dilalui warga. Kini banyak  rumput liar mengakar di tengah jalan. Kami harus menyusuri rumput seukuran betis untuk sampai di kampung Boncukode.

Tak seperti kampung pada umumnya, suasana sunyi menjemput kedatangan kami di Boncukode tepat pukul 17.00, Kamis 14 November 2019.

Bayang-bayang senja di ufuk barat mulai tampak terlihat. Senja seakan menyembunyikan segala cerita entah bahagia atau luka.

Senja di mana dulu anak-anak biasa berjingkrak ria di halaman kampung, kini tak lagi terdengar. Tak ada tanda-tanda kehidupan selain sunyi diiringi sesekali suara burung yang kembali ke sarangnya.

Rumah salah satu warga Boncukode yang kini ratah dengan tanah.

Boncukode sore itu bagai kampung mati. Yang tersisa hanyalah dua rumah tanpa penghuni. Sementara yang lainnya hanya menyisahkan puing-puing rumah yang sudah rata tanah termasuk bekas rumah uskup Ruteng terpilih, RD. Siprianus Hormat, Pr.

Ya, beberapa hari terkahir, nama kampung itu memang sedang jadi perbincangan publik saat Pastor Sipri, putra Boncukode, terpilih menjadi uskup Ruteng, Rabu (13/11/2019).

 

Salah satu warga yang lahir di Kampung Boncukode, Paulus Jerobu mengungkapkan, warga kampung tersebut berangsur pindah saat bencana gempa bumi pada tahun 1982 silam.

Warga yang lahir di Boncukode, Paulus Jerobu

Kala itu, semua warga bergegas pindah ke beberapa kampung terdekat untuk menyelmatkan diri.

Beberapa tahun kemudian ada beberapa warga yang kembali ke kampung tersebut termasuk keluarga RD. Siprianus. Namun, pada tahun 2007, gempa kembali mengguncang daerah itu. Tak sedikit batu dari atas bukit jatuh di sekitar rumah warga. Beruntung, batu-batu tersebut tidak sampai merusak rumah warga apalagi menelan nyawa.

Mulai du hitu danong pindah taung ata cee mai beo hoo g pak, rantang manga kole bencana poli hitu (Sejak saat itu semua warga dari kampung ini pindah karena takut datang lagi bencana)” ungkap Jerobu yang setia menemani VoxNtt.com ke kampung Boncukode, Jumat (15/11/2019).

Sementara adik Uskup Ruteng, Aleksander Anggal mengungkapkan, saat gempa tahun 1982, pastor Siprianus masih berada di Seminari Pius XII Kisol.

Saat ia pulang libur ke kampung halamannya, ia kaget melihat keluarganya telah pindah ke kampung Perak, Desa Perak.

Kala itu, sebagaimana dituturkan Anggal, Pastor Sipri tak mampu menahan tangis dan meminta kedua orangtuanya kembali tinggal di Boncukode.

Bagi Pastor Sipri, Boncukode punya sejarah, arti dan makna. Boncukode adalah rumah yang menyimpan kerinduan untuk selalu ingin pulang.

“Saat dia (RD. Siprianus Hormat) pulang libur dulu, kami sudah tinggal di Perak. Kaka Sipri langsung menangis karena dia tetap mau tinggal di Boncukode. Saya tidak tahu apa yang dia pikirkan saat itu tapi yang jelas ada suasana yang telah berubah,” ungkapnya saat ditemui VoxNtt.com.

Karena permintaan itu, akhirnya keluarga Pastor Siprianus kembali tinggal di Boncukode sampai tahun 2007.

Namun, lagi-lagi bencana gempa bumi datang melanda. Semua warga kampung itu termasuk keluarga Pastor Sipri resmi angkat kaki ke kampung Rebuk, Desa Perak.

“Saat itu kami langsung bangun rumah di sini pada tahun 2008. Sebenarnya kami masih mau tinggal di Boncukode karena banyak cerita indah di sana, tapi takut sepi saja apalagi semua orang sudah pindah,” katanya.

Untuk diketahui, meski Boncukode sudah tidak berpenghuni lagi, dari situ lahir empat pastor katolik diantaranya Pastor Kletus Hekong, Pastor Simon Nama, Pastor Yustinus Mat dan uskup Ruteng terpilih, Pastor Siprianus Hormat.

Selain itu, menurut cerita yang beredar, ada beberapa suster yang juga berasal dari Boncukode dan sekarang bertugas di Italia.

Meski kampung itu kini tinggal kenangan, Cyprian Guntur, kepada VoxNtt.com, Sabtu (16/10/2019), mengatakan orang Manggarai harus banyak belajar dari orang-orang Boncukode.

“Meski situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan serta semua penduduknya petani, orang-orang Boncukode mampu mencetak orang-orang berkualitas. Orang Manggarai harus belajar dari spirit hidup orang Boncukode,” tutur Cyprian yang pernah berkarya di daerah itu selama masa transisi dari SVD ke OFM tahun 1993-1994.

Sementara, Prof. Frans Bustan, tokoh Manggarai asal Cibal di Kupang, berharap agar Boncukode dapat dijadikan sebagai tempat wisata rohani.

“Di situ bisa dibangun gua Maria, sehingga bisa menjadi tempat wisata rohani. Apalagi daerah itu kan sunyi. Cocok untuk tempat berdoa, meditasi dan merefleksikan hidup,” tuturnya.

Penulis: Pepy Kurniawan

Editor: Irvan K