Ben Isidorus saat menggelar reses di Desa Golo Lanak, Kecamatan Cibal Barat, Kabupaten Manggarai, Minggu (08/12/2019)
alterntif text

Ruteng, Vox NTT – Anggota DPRD Provinsi NTT Ben Isidorus mendorong masyarakat untuk berpikir maju atau out of the box.

Hal itu disampaikannya saat menggelar reses dalam rangka penjaringan aspirasi masyarakat masa persidangan I tahun 2019/2020 di Desa Golo Lanak, Kecamatan Cibal Barat, Kabupaten Manggarai, Minggu (08/12/2019).

Di awal kegiatan, ia menjelaskan tugas dan fungsi pokok DPRD Provinsi maupun kewenangannya.

Ben kemudian mendengar langsung berbagai keluhan masyarakat terkait pembangunan.

Baik masalah air minum, akses transportasi dan jaringan listrik maupun terkait harga komoditi yang dinilai sangat rendah.

Selain itu masyarakat juga mengeluhkan penghasilan pertanian yang semakin kurang, yang tidak berdampak pada peningkatan kesejahteraan.

Menanggapi hal tersebut politisi Hanura itu berjanji akan berkoordinasi dengan dinas terkait lingkup Pemprov NTT untuk bisa memenuhi kebutuhan masyarakat.

Namun ia belum bisa memastikan semua usulan tersebut bisa dipenuhi atau direalisasikan.

“Terkait usulan tersebut saya akan berkoordinasi dengan dinas terkait, karena ususalnnya tadi bervariasi, ada yang menjadi kewenangan pemerintah desa, pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat. Tapi saya tidak bisa memastikan apakah semuanya terealisasi, intinya kita sama-sama berusaha saja,” ujar mantan anggota DPRD Manggarai periode 2014-2019 itu.

Ia juga meminta masyarakat untuk berpikir maju dalam bertani. Masyarakat, kata dia, harus bisa memanfaatkan potensi yang ada di desa.

“Sekarang kita harus berpikir maju, jangan selalu mengikuti pola lama. Kalau dari dulu kita hanya manfaatkan sawah untuk tanam padi dan hasilnya tidak memuaskan, maka kita harus mencoba tanam sayur maupun tanaman lainya yang dianggap pengahsilannya lebih baik,” ujarnya.

Sementara untuk persoalan harga komoditi, DPRD Provinsi NTT asal Cibal Manggarai itu mendorong pemerintah desa untuk membuat organisasi pemasaran di desa.

Pemerintah desa, kata Ben, harus melihat peluang itu dengan memanfaatkan BUMDes.

Ia berharap agar BUMDes bisa menampung hasil komoditi dari desa tersebut, setelah itu baru dijual ke pihak lain.

“Saya berharap BUMDes bisa menampung hasil komoditi dari desa, setelah itu baru dijual ke pihak lain, yang pasti ada untungnya, sehingga uang itu bisa menambah modal di BUMDes ke depannya dan bisa dimanfaatkan juga oleh masyarakat desa,” ujarnya.

Penulis: Pepy Kurniawan
Editor: Ardy Abba