Aktivis mahasiswa dari PMKRI sedang menggelar aski demonstrasi terkait sejumlah pembangunan dalam Kota Ende (Foto: Ian Bala/Vox NTT)
alterntif text

Ende, Vox NTT-Aktivis mahasiswa di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur menggelar aksi demonstrasi, Sabtu (07/12/2019). Aksi mahasiswa berkaitan sejumlah pembangunan yang terjadi dalam Kota Ende.

Mahasiswa mempersoalkan progres pembangunan kolam air mancur dan penataan Taman Monumen Pancasila (TMP). Terutama akselerasi proyek yang dinilai mengabaikan aktivitas transportasi kota.

“Kami meminta Kementerian PUPR dan Balai Jalan NTT memberi klarifikasi secara tertulis dan terbuka kepada publik soal penutupan sebagian jalan dalam kota,” ucap sejumlah aktivis PMKRI dalam aksi tersebut.

Selain itu, mereka juga meminta pemerintah untuk membuka akses jalur alternatif terutama pada objek vital kawasan Bandara H. Hasan Aroeboesman.

Mahasiswa menilai, konsep perencanaan dalam proyek penataan kota tersebut justru menghambat perputaran ekonomi rakyat khususnya di jalur Bandara. Untuk itu, mereka meminta dinas teknis mempertanggungjawabkan ke publik.

Selain PMKRI, aktivis mahasiswa dari GMNI Ende juga menggelar aksi serupa sehari sebelumnya dengan tuntutan yang sama soal progres pembangunan dalam kota.

Mereka mengajukan protes kepada pemerintah terkait proses pengawasan sejumlah proyek dalam kota termasuk Pasar Mbongawani Ende.

Bahkan beberapa proyek yang belum kelar hingga akhir tahun ini dinilai ada dua kemungkinan yakni kekurangan karyawan dan kelalaian.

Dengan itu mereka menyarankan kepada pemerintah maupun pihak rekanan untuk menambahkan karyawan serta pembagian waktu kerja siang dan malam dalam pelaksaan proyek.

Di sisi lain, mahasiswa juga mendesak pemerintah untuk melakukan pengawasan yang masif terutama kualitas pekerjaan.

Sementara terhadap rekanan yang lalai, mereka mendesak pemerintah memberi peringatan bahkan dapat memutus kontra kerja atau blacklist.

Baik GMNI maupun PMKRI, mereka berkomitmen akan terus mengawal, memantau bahkan melakukan aksi jika proses pelaksanaan dan pengawasan tidak dijalankan maksimal.

Penulis: Ian Bala
Editor: Ardy Abba