Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Tiga Cerpen Bertemakan ODGJ Jadi Pilihan Karya Terbaik
Sastra

Tiga Cerpen Bertemakan ODGJ Jadi Pilihan Karya Terbaik

By Redaksi12 Desember 20193 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Direktur Klinik Jiwa Renceng Mose, dr. Ronald Susilo (Foto: Facebook Ronald Susilo)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ruteng, Vox NTT-Pemenang Lomba menulis cerpen dengan tema Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dalam rangka Lustrum Klinik Jiwa Renceng Mose telah diumumkan, Selasa (10/12/2019).

Kegiatan yang diinisiasi oleh Yayasan Karya Bakti Ruteng dan Klub Buku Petra ini telah melewati beberapa tahapan penilaian hingga akhirnya terpilih 5 besar sebagai karya terbaik.

Itu dia antaranya, cerpen ‘Nadus dan Sembilan Roh yang Merasukinya’ karya Marto Rian Lesit (Juara 1), ‘Seru Serangga Dalam Kepalaku’ karya Kristian Dadi (Juara 2), ‘Nian Ina Ema Bulakan’ karya Yanti Mesakh (Juara 3), ‘Orang Gila Berisik Sekali karya Yuf Fernandez (Juara 4) dan ‘Penemu’ karya Saverinus Suhardin (Juara 5).

Direktur Klinik Jiwa Renceng Mose dr. Ronald Susilo, yang juga berperan sebagai salah satu juri pada lomba ini mengatakan, setelah melewati empat pekan yang panjang, terhitung sejak 9 November 2019 yang lalu hingga 6 Desember 2019, terdapat 22 cerpen yang berhasil melewati tahap kurasi.

“Setelah tahap kurasi, kemudian masing-masing juri menentukan 7 cerpen unggulan yang didiskusikan hingga akhirnya mengerucut menjadi 5 besar pilihan dewan juri, di mana tiga di antaranya menjadi karya terbaik yang menempati posisi 1, 2, dan 3,” jelas dr. Ronald.

Dari data di google form yang disiapkan panitia, ada 102 peserta yang telah mengisi formulir pendaftaran lomba. Tetapi hingga hari terakhir batas pengiriman karya, hanya 54 cerpen yang masuk ke surel panitia. Karya-karya tersebut kemudian dikirim secara bertahap ke meja kurator.

Banner lomba (Foto: Istimewa)

Ronald menjelaskan, lomba cerpen ODGJ ini adalah sayembara cerpen dengan tema dan tujuan khusus untuk pengarusutamaan isu ODGJ.

Namun, kata dia, cerpen sebagai teks sastra memiliki seperangkat konvensi, baik dalam proses penciptaan maupun dalam proses penilaiannya.

Menurut dia, strategi-strategi naratif yang digunakan seorang pengarang untuk menciptakan sebuah dunia cerita yang meyakinkan dapat ditelaah dan dinilai paling tidak dari tiga elemen yang tak terpisahkan. Ketiganya seperti konten, keperajinan, konteks.

Ronald menjelaskan, konten atau subject matter pada dasarnya adalah ide-ide, gagasan, perspektif, atau tawaran isi.

“Yaitu apa yang umumnya muncul sebagai jawaban dari pertanyaan apa yang ingin disampaikan seorang pengarang dalam cerita tertentu,” terang dia.

Dikatakan, otentisitas seorang pengarang bisa ditilik dari gagasannya. Keberpihakan pengarang atas isu tertentu dapat disingkap dari posisi ideologisnya, baik yang secara gamblang tampak pada permukaan teks maupun yang tersembunyi dalam lapis bawah teks.

Selanjutnya, jelas Ronald, dari sisi keperajinan atau craftmanship, pada dasarnya adalah kecakapan teknis atau pertukangan dalam mengolah bentuk, yang secara esensial menentukan bagaimana sebuah cerita diolah, dibangun, dan dikonstruksikan.

Dengan kata lain, kemampuan menciptakan komposisi, baik yang padu sesuai pakem story telling atau yang rumpang by-design.

Termasuk dalam elemen ini adalah kemahiran berbahasa dalam menyusun kalimat dan memilih diksi, kepiawaian mengeksekusi sudut pandang penceritaan, kelenturan memunculkan voice yang unik, dan anasir-anasir stilistika lainnya.

Salah satu dewan juri lomba ODGJ, A.N. Wibisana mengatakan, pada bagian konteks, karya cerpen memiliki dua kaki, yaitu khazanah dan realitas.

Khazanah berkaitan dengan sejauh mana sebuah cerita dapat dihadapkan dan dibandingkan dengan karya-karya yang telah ada sebelumnya. Lalu, bagaimana posisi sebuah cerita dalam tegangan antara invensi dan konvensi.

Realitas, atau secara longgar bisa disebut sebagai “konteks kebudayaan”, adalah sejauh mana sebuah cerita berhubungan dengan situasi sosial-budaya tempat seorang pengarang melahirkan karyanya.

“Apakah cerita itu lahir dalam modus mimisis sebagai pencerminan, peniruan ataupun pembayangan kenyataan empirik atau lahir dalam modus creatio sebagai sebuah upaya penciptaan dunia alternatif, dunia yang mungkin, atau bahkan dunia yang sama sekali baru,” tutupnya.

Sumber: Rilis
Editor: Ardy Abba

Kabupaten Manggarai
Previous ArticleDerita Jantung Bocor, Keluarga Bayi di Ende Ini Butuh Bantuan
Next Article Catatan Penting Dewan Juri: Cerpen Bertemakan ODGJ Minim Riset

Related Posts

Maju Pilkades Loce, Wilibrodus Rian Usung Penguatan Pertanian hingga Wisata Budaya

1 Juni 2026

Mobil Avanza Tabrak Rumah di Cibal, Empat Warga Luka-Luka

30 Mei 2026

Petani Desa Meler Sukses Budidayakan Bawang Merah di Daerah Dingin

29 Mei 2026
Terkini

Gabriel Goa Desak Penuntasan Kasus TPPO Mariance Kabu dan Yuliana Dopo

6 Juni 2026

Ahli Waris Yakin PN Kupang Putus Objektif Gugatan Peralihan Sertifikat dan Rumah

6 Juni 2026

Polsek Amarasi Timur dan Pemerintah Kecamatan Tinjau Lokasi Kebakaran Rumah Warga di Pakubaun

6 Juni 2026

Peti Persembahan vs Peti Mati

6 Juni 2026

Jejak Skandal AKP Serfolus Tegu: Istri Simpanan, Dugaan Kekerasan hingga Laporan ke Propam

5 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.