Para pemateri saat seminar ilmiah dengan tema “Dialog Interreligius sebagai Habitus Kristiani”, Rabu (18/12/2019)
alterntif text

Ruteng Vox NTT- Program Studi Pendidikan Teologi FKIP Unika Santu Paulus Ruteng, menggelar seminar ilmiah dengan tema “Dialog Interreligius sebagai Habitus Kristiani”, Rabu (18/12/2019).

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Aula Roosmalen Kampus Unika Santu Paulus Ruteng dan dibuka oleh Dekan FKIP Unika Santu Paulus Ruteng, Dr. Maksimus Regus.

Dalam sambutannya, Pastor Max Regus mengapresiasi program seminar ilmiah yang diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Teologi tersebut.

“Meskipun sekarang kita sudah berada pada akhir semester ganjil ini, tetapi Prodi Pendidikan Teologi masih tetap bersemangat untuk menyelenggarakan seminar ilmiah. Karena itu, kita perlu mengapresiasi kegiatan ilmiah seperti ini,” katanya.

Lulusan Doktor dari Universitas Utretch Belanda itu juga mengungkapkan, tema dialog inter-faith adalah tema yang aktual dan kontekstual.

Tema ini menurut Pastor Max, juga sering dibicarakan oleh FKUB di Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat dan Manggarai Timur.

“Sekarang orang tidak hanya berbicara tentang dialog tetapi juga trilog. Ini berkaitan dengan tiga agama besar dunia, yakni Kristen, Islam dan Yahudi,” ujarnya.

Pada kegitan seminar itu pembicara adalah dosen dari Program Studi Pendidikan Teologi, yakni Stanislaus Harmansi. Ia mempresentasikan makalah berjudul “Arti Penting Terminologi Samaria (samaritēs) dan Orang Asing (ho allogenēs) dalam Luk. 17:11-19”.

Ia mempresentasikan makalah berjudul “Mewartakan Injil Bercermin pada Nabi Yunus”.

Stanis Harmansi dalam makalahnya menyoroti kisah tentang orang Samaria dalam Injil Luk 17:11-19. Menurutnya, dalam cerita ini terdapat tiga kisah yang menarik.

Dalam kisah pertama, kata dia, penginjil Lukas menggambarkan situasi umum relasi antara orang-orang Yahudi dan orang-orang Samaria.

Kisah kedua, memusatkan perhatian pada kualitas relasi horisontal orang Samaria dengan menggambarkannya sebagai pribadi yang sanggup untuk mempraktikkan hukum mencintai sesama.

Sementara pada kisah ketiga, memotret orang Samaria sebagai figur yang mempunyai relasi yang sangat mendalam dengan Allah.

“Dalam ketiga kisah ini, penginjil Lukas memperlihatkan bagaimana Yesus secara bertahap mempresentasikan ‘kebesaran’ orang Samaria di hadapan orang Yahudi. Puncak ‘kebesaran’ itu terkandung dalam kisah ketiga,” kata lulusan Institute Biblicum Roma itu.

Menurutnya, penggunaan terminologi (orang) Samaria dan orang asing dalam kisah ketiga menjadi media untuk mengungkapkan puncak pandangan positif Yesus tentang orang Samaria.

Sekaligus puncak kritiknya atas pandangan negatif orang-orang Yahudi terhadap orang Samaria.

Sementara itu, Adrianus Jebarus dalam makalahnya menyatakan, panggilan dan tugas perutusan setiap orang merupakan kehendak Allah.

Allah yang memanggil adalah Allah yang menyerukan anugerah bagi semua orang di seluruh bangsa.

Dengan bercermin pada Nabi Yunus, Magister Teologi Kontekstual STFK Ledalero itu menyatakan, Allah selalu mendampingi pewartanya menerima pertobatan, dan Allah yang menyatakan diri-Nya untuk lebih dikenal oleh utusan-utusanNya.

“Panggilan Allah tidak pernah gagal sekalipun utusan-utusannya tidak bertanggung jawab atau dengan sengaja lari dari panggilan,” katanya.

Sementara itu Fransiskus Sales Lega, mempresentasikan makalah berjudul “Dokumen Abu Dhabi dan Implikasinya terhadap Dialog Interreligious di Indonesia”.

Ia menyoroti dialog antarumat beragama dengan bercermin pada Deklarasi Abu Dhabi yang ditandatangani oleh Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar, Sheikh Ahmad El-Tayeb.

Menurut mantan pengajar Universitas Palangkaraya itu, pluralisme adalah identitas keindonesiaan kontemporer.

“Pluralisme agama di Indonesia berhadapan dengan kenyataan paradoksal bahwa di satu sisi setiap agama berusaha mempertahankan doktrin keagamaannya tapi serentak di sisi yang lain terbuka terhadap kebenaran-kebenaran agama lain. Dalam konteks ini, intisari dari Deklarasi Abu Dhabi menemukan relevansinya,” ujarnya.

Untuk diketahui, kegiatan tersebut dihadiri oleh seluruh mahasiswa dan dosen Progam Studi Pendidikan Teologi dan Seminar ini dipimpin oleh Marselinus Robe.

KR: L. Jehatu/PK
Editor: Ardy Abba