Para buruh sedang bermain sepak bola sembari menunggu alat berat (excavator) memecahkan batu, pada proyek pembangunan GOR Wolo Bobo. Foto diambil Senin, 13 Januari 2020 (Foto: Patrick/VoxNtt.com)
alterntif text

Bajawa, Vox NTT-Kota Bajawa baru selesai diguyur hujan disertai angin kencang pada Senin, 13 Januari 2020 lalu. Kondisi di wilayah ini mungkin sebagai dampak fenomena squall line, hingga jalanan di kota dingin itu tampak basah dan becek.

Suasana jalan pun tampak sepi saat VoxNtt.com bergerak dari ibu kota Kabupaten Ngada itu menuju kawasan hutan lindung dan pariwisata pegunungan Wolo Bobo, Kecamatan Bajawa.

Niat memantau ke sana bukan tanpa sebab. Berdasarkan informasi dari salah satu petugas Kejaksaan Negeri Ngada di sana ada proyek pembangunan Gelanggang Olahraga (GOR) Wolo Bobo yang teridentifikasi bermasalah dan tengah dalam penanganan Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Saya sudah turun lokasi, lagi diperiksa sama Polda, coba tanya Kapolres, cek sama Kapolres,” ungkap salah satu petugas Kejari Ngada.

Tak sampai 10 menit perjalanan, tepat di simpang tiga Kampung Bosiko, dari ruas jalan Negara Ende-Bajawa, Martinus (41) warga setempat menyempatkan berbagi informasi tentang indahnya kawasan pariwisata pegunungan Wolo Bobo.

Selain pariwisata dan pegunungan, pria dua anak itu juga turut melengkapi informasi bahwa di sekitar kawasan itu sedang dibangun GOR oleh Pemerintah Kabupaten Ngada. Pembangunan dilaporkan telah dimulai sejak tahun 2018 lalu.

“Kalau Pak sudah sampai di perempatan tu, langsung lurus saja e. Kalau Pak ambil (belok) kanan, itu ke lokasi GOR yang sementara pemerintah bangun, tapi dari tahun lalu macamnya tidak habis-habis,” demikian pesan petunjuk Martinus dengan dialeg Bajawa yang kental.

Sepeda motor Yamaha Vixion yang dikendarai VoxNtt.com pun melaju menerobos kabut frontal yang tampak keluar dari pepohonan pinus di kiri dan kanan jalan. Memang sedikit mengganggu jarak pandang bila sedang berkendara. Ditambah lagi, udara dingin sore itu, terasa menembus jacket dan dinginnya menggigit kulit. VoxNtt.com pun terus bergerak, mengikuti petunjuk Martinus.

Dari kejauhan, di sekitar lembah Gunung Wolo Bobo, suara mirip rentetan tembakan senjata api terdengar memecahkan kesunyian. Di antara rentetan suara itu, juga terdengar sayup suara sorak kegirangan.

Rupanya, sumber suara itu berasal dari aktivitas alat berat (excavator) yang tengah memecahkan gelondongan bongkahan batu, dipadu dengan suara para buruh yang sedang bermain sepak bola di lokasi proyek pembangunan GOR.

Begitu di lokasi, tiba-tiba, brukk..!!!! Bola hasil tendangan seorang buruh melayang dan jatuh tepat di samping VoxNtt.com yang tengah mengamati beberapa bagian proyek, termasuk mencari papan informasi proyek yang ternyata tak terpasang.

“Kami masih tunggu batu Pak. Itu yang sementara kasih pecah,” kata pria yang diketahui bernama Redem, asal Kabupaten Manggarai, sembari menunjuk ke arah excavator, lalu kembali ke formasi permainan.

Berdasarkan pengamatan VoxNtt.com, hingga memasuki hari ke-14 di bulan Januari, tahun 2020, tak ada progres fisik yang meningkat secara signifikan dari proyek itu. Hanya dua unit excavator yang ditempatkan di lokasi itu.

Satu unit sedang memecahkan batu (breaker), dan satu unit lagi tengah diparkir di antara tumpukan material pasir di sekitar area lapangan tanpa menunjukan tanda bahwa telah digunakan.

Pengamatan VoxNtt.com berpindah ke layar gawai, melihat situs resmi LPSE Kabupaten Ngada tahun 2019. Dari situ, teridentifikasi, proyek pembangunan GOR ini dikerjakan oleh PT Nunu Rada Bata, dengan pagu kontrak sebesar Rp 2,8 Miliar lebih yang bersumber dari APBD Ngada tahun 2019.

Dari pagu senilai, Rp 2.809.000.000,00, PT Nunu Rada Bata berhasil memberikan penawaran terendah sebesar Rp 2.802.027.025,57.

Masih di laman yang sama, berdasarkan hasil evaluasi pemenang, dari delapan perusahaan yang mengikuti tender, hanya PT Nunu Rada Bata yang mampu memenuhi semua syarat kualifikasi. Sedangkan tujuh perusahaan lain bahkan tak memberikan dokumen apapun dalam proses itu hingga digugurkan.

“Mulai dari harga penawaran, syarat kualifikasi hingga kemampuan menyediakan alat dan fasilitas serta perlengkapan, sudah tidak beres. Seharusnya, celah ini bisa dipakai oleh aparat pengawas, baik pengawas internal pemerintah maupun pengawasan dari aparat penegakan hukum untuk segera melakukan audit. Masa, dukungan alat yang harusnya penyedia mengerahkan enam unit excavator, tapi di lapangan terpantau yang beroperasi hanya dua unit, tapi PPK dan konsultan pengawas rasa aman-aman saja,” ujar Minyo, yang kini konsen sebagai pegiat media sosial asal Bajawa usai VoxNtt.com memintai tanggapannya, Selasa, 14 Januari 2020.

Anggaran Membengkak Menjadi Rp 8 Miliar

Guna memverifikasi informasi, VoxNtt.com pada Selasa, 14 Januari 2020, pun telah menghubungi Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Ngada, Silvester Tewe, melalui sambungan telepon.

“Esok baru ketemu di kantor Adek (adik). Saya masih di Mukun (Kecamatan Kota, Kabupaten Manggarai Timur), ikut dengan rombongan Wagub, di sini sinyal susah,” kata Tewe, di balik sambungan telepon, dengan suara terputus-putus.

Keesokan harinya, Rabu, 15 Januari 2020 sesuai janji Kadis PUPR, VoxNtt.com menyambangi kantor itu di wilayah Kelurahan Fao Bata, Kota Bajawa. Namun, sang Kadis pemberi janji itu rupanya tak tampak di sana.

“Sepertinya, sedang ikut misa pembukaan “Reba” di Langa,” kata Sekretaris Dinas PUPR Kabupaten Ngada, Wilibrodus Kaju.

Dia adalah orang pertama yang menyalami VoxNtt.com, sembari mengajak masuk ke ruangannya yang tampak sedikit rapi.

Sebagai penggantinya, Sekretaris peramah itu memanggil Kabid Bina Marga dan Penataan Ruang Dinas PUPR Kabupaten Ngada, Johannes Kristostomus Sedu, untuk diwawancarai VoxNtt.com.

Di ruangan itu kepada VoxNtt.com, di depan Sekretaris Dinas PUPR Kabupaten Ngada, Sedu menjelaskan panjang lebar tentang proyek pembangunan GOR Wolo Bobo di bidang yang dipimpinnya.

Menurutnya, dengan nilai kontrak sebesar Rp 2,8 Miliar, PT Nunu Rada Bata akan mengerjakan pekerjaan berupa galian, pembentukan lintasan dan pagar pacuan kuda, serta sebagiannya lagi untuk membangun tembok penahan tanah (TPT).

Ledu menerangkan, saat ini progres fisik pekerjaan itu sudah hampir mencapai empat puluhan persen, dengan sisa pekerjaan pada galian dan pengerjaan lintasan balapan kuda.

Dalam perencanaan penggunaan anggaran, menurutnya, anggaran sebesar itu memang hanya cocok membangun lintasan pacuan kuda.

Sedangkan untuk membangun seluruh fasilitas olahraga lazimnya sebuah gelanggang, dia mengaku bahwa saat ini Dinas PUPR belum memiliki master plan tentang total seluruh anggaran bila pekerjaan pembangunan GOR Wolo Bobo rampung dikerjakan.

Yang mengejutkan, pada tahun sebelumnya, yakni tahun 2018, Bidang Bina Marga juga pernah menggelontorkan anggran sebesar Rp 6 Miliar untuk proyek serupa.

Anggaran Rp 6 Miliar itu, Dinas PUPR Kabupaten Ngada juga melalui PT Nunu Rada Bata pernah mengerjakan dua item pekerjaan saja yakni penggusuran dan perataan (cut and fil) pada lokasi GOR Wolo Bobo.

Ditahun 2019, PT Nunu Rada Bata kembali memenangi tender proyek pembangunan GOR Wolo Bobo, melalui APBD Perubahan Kabupaten Ngada sebesar Rp 2,8 Miliar lebih.

Meski PT Nunu Rada Bata diinfomasikan tak memiliki pengalaman untuk mengerjakan GOR, namun Johannes Kristostomus Sedu berkilah bahwa hanya perusahaan itu yang mampu memenuhi syarat berupa Sertifikat Badan Usaha (SBU), di dalamnya termasuk untuk syarat pembangunan GOR Wolo Bobo.

Meski telah molor dari tanggal kontrak dengan progres fisik yang belum signifikan, Johannes tetap optimistis enam puluh persen lebih sisa pekerjaan itu dapat diselesaikan dalam tenggang waktu keterlambatan pekerjaan yang ada.

Penulis: Patrick Romeo Djawa
Editor: Ardy Abba