Anggota klub motor KKRC sementara melakukan aksi pembersihan di lokasi obyek wisata Tanjung Bastian TTU, Minggu, 19 Januari 2020 (Foto: Arsip klub motor KKRC)
alterntif text

Kefamenanu, Vox NTT-Kuan Kefa Riders Club (KKRC) merupakan klub motor yang berpusat di Kota Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).

Sejak awal berdiri, klub motor yang beranggotakan pemilik motor 150 CC ke atas itu sudah berkomitmen penuh untuk mendukung promosi wisata di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Salah satu bentuk promosi tersebut dengan melakukan touring jelajah dan touring wisata ke obyek-obyek wisata ternama di seluruh kabupaten yang ada di Provinsi NTT, khususnya Pulau Timor.

Bentuk promosi tersebut yakni dengan mendokumentasikan keindahan obyek-obyek wisata yang dikunjungi, baik berupa foto dan video, kemudian disebarluaskan di media sosial.

Ketua klub motor KKRC, Rahman menuturkan komunitas yang dipimpinnya tersebut berdiri sejak tahun 2017 lalu.

Pose bersama anggota klub motor KKRC usai membersihkan obyek wisata Tanjung Bastian TTU, Minggu, 19 Januari 2020 (Foto: Arsip klub motor KKRC)

Sejak awal berdiri, KKRC telah melakukan touring di hampir seluruh obyek wisata yang ada di daratan Timor.

“Kalau di Kabupaten Kupang itu ada gunung Fatuleu, bendungan Raknamo, kalau di TTS itu ada pantai Kolbano, Oeltune. Sementara di Belu ada teluk Gurita, hutan mangrove. Sementara kalau di TTU hampir seluruh obyek wisata kita sudah sampai,” kata Rahman saat ditemui wartawan di kediamannya di Kota Kefamenanu, Senin (20/01/2020).

Ia menuturkan, selain berwisata dan mengabadikan keindahan di obyek wisata tersebut, saat melakukan touring pihaknya juga melakukan kegiatan sosial.

Kegiatan sosial seperti melakukan aksi bersih-bersih di obyek wisata yang dikunjungi.

“Seperti kemarin, Minggu (19/01/2020) saat kita touring, kita lakukan aksi bersih-bersih di obyek wisata Tanjung Bastian, kemudian baru kita terus ke hutan mangrove, kemudian kita ke teluk Gurita dan berakhir dengan acara Natal dan Tahun Baru bersama OMK Paroki St. Maria Bunda Penebus Umanen Fatuketi,” tuturnya.

Rahman pada kesempatan itu juga memberikan beberapa catatan kritis dan masukan dalam pengembangan pariwisata.

Ia mengaku, di beberapa obyek wisata yang dikunjungi terlihat masih terdapat kekurangan tempat sampah.

Akibatnya, banyak sampah yang dibuang begitu saja oleh pengunjung di sekitar lokasi wisata.

Selain itu, di setiap obyek wisata perlu disediakan MCK.

“Memang sudah ada tempat sampah tapi jumlahnya masih sedikit seharusnya ditambah lagi,vselain itu juga harus ada MCK, kan kasihan kalau yang bawa keluarga pergi berjam-jam di obyek wisata itu lalu tidak ada MCK pasti akan kesulitan apalagi yang bawa anak-anak,” tuturnya.

Penulis: Eman Tabean
Editor: Ardy Abba