Peta petani di Desa Detubela, Ende sedang melaksanakan praktik lapangan yang diselenggarakan Pemdes setempat (Foto: Dok. Desa Detubela)
alterntif text

Ende, Vox NTT-Pemerintah Desa (Pemdes) Detubela, Kecamatan Wewaria, Kabupaten Ende mulai memanfaatkan dana desa untuk membangun mind set masyarakat pada bidang pemberdayaan.

Masyarakat yang mayoritas bertani tersebut diberi keterampilan mengolah lahan dengan program Sekolah Lapang oleh Pemdes setempat.

Kepala Desa Detubela Dion Dala kepada Wartawan menuturkan, Sekolah Lapang bertujuan untuk kepentingan meningkatkan pemahaman petani dalam pengolahan lahan.

Mulai dari persemaian benih, pola tanam, pemupukan hingga pola panen yang selama ini masih dilakukan secara tradisional.

Ia menuturkan, untuk melaksanakan program tersebut Pemdes Detubela bekerja sama dengan Balai Penyuluh Pertanian Wewaria untuk meningkatkan kapasitas 60 petani yang tergabung dalam empat kelompok tani melalui praktik lapangan.

“Iya, sejauh ini memang dana desa untuk pemenuhan infrastruktur. Nah, kali ini kita mulai meningkatkan sumber daya para petani,” katanya, belum lama ini.

Ia menambahkan, awalnya penggunaan dana desa lebih cenderung membangun jalan desa, termasuk beberapa infrastuktur pokok.

Kali ini, lanjut Dion, dana desa dimanfaatkan secara berimbang antara pembangunan fisik dan pembangunan manusia.

“Nah, kan kita disini mayoritas petani. Perlu juga untuk meningkatkan kemampuan, bagaimana pengolahan secara modern dan praktis untuk mendapatkan hasil yang maksimal,” pungkas dia.

Kepala Balai Penyuluh Pertanian Wewaria Feliks Meko mengaku bangga dengan kebijakan anggaran dana desa untuk peningkatan kapasitas para petani sawah.

Program pelatihan kelompok tani melalui Sekolah Lapang dinilai sangat dibutuhkan terhadap peningkatan kebutuhan petani.

Dengan itu dia berharap agar 15 are lahan petani dapat diolah dengan baik sesuai dengan ilmu yang sudah diberikan selama praktik Sekolah Lapang tersebut.

“Terakhir bahwa kita berharap ada peningkatan produksi setelah kegiatan ini. Kalau yang di Desa Fataatu setelah dievaluasi awalnya produksi hanya empat ton. Setelah dikelola dengan pola yang kita terapkan sekarang bisa mencapai delapan ton produksi padi gabah. Jadi ini sangat efektif,” ujar Feliks.

Penulis: Ian Bala
Editor: Ardy Abba