Pendamping sosial PKH di Colol Amandus Cahaya Tukeng bersama Marselinus Subadir saat menujukkan kerajinan tangan. Foto diambil pada Minggu (01/03/2020) (Foto: L. Jehatu)
alterntif text

Borong, Vox NTT- Marselinus Subadir salah satu warga asal Kampung Colol, Desa Colol, Kecamatan Poco Ranaka Timur, Kabupaten Manggarai Timur (Matim) tengah merintis usaha mikro ekonomi kreatif dalam rangka menyambut Festival Wisata Lembah Kopi Colol.

Adapun usaha mikro yang dirintisnya saat ini antara lain, kerajinan gelas, cangkir, sloki, cerek (Teko) yang terbuat dari bahan baku seperti bambu.

Pria paruh baya itu, mengatakan saat ini ia menjalankan usaha mikro dengan modal yang sangat sedikit dan peralatan yang sederhana untuk memproduksi kerajinan tangan.

“Alat yang digunakan seperti, gergaji, parang, pisau, pisau kater, alat amplas mesin, lem cina,” kata Marselinus kepada VoxNtt.com di rumahnya, Minggu (01/03/2020).

“Meski begitu hasil tetap memuaskan dan hasilnya baik,” katanya.

Mantan Kepala Desa Colol itu mengatakan, usaha tersebut karena terinspirasi dari masa kecilnya yang minum kopi dari alat yang sederhana seperti sajian kopi dari sloki yang terbuat dari bambu.

Marselinus mengaku, usaha yang dirintisnya semenjak 4 Januari 2020 lalu, sudah mampu memproduksi berbagai bentuk dan jenis kerjinan dari bahan baku bambu.

“Saat ini sudah ada 300-an gelas, cangkir, sloki, cerek (teko) dan sendok, dengan berbagai jenis dan ukuran,” katanya.

“Sendangkan mengenai pemasarannya, kata dia, dilakukan dengan jumlah paket sesuai kebutuhan permintaan konsumen.

Harganya pun bervariasi. Harga gelas dan cangkir berada di kisaran Rp 500.000-700.000/lusin dan sloki Rp 300.000-500.000 per lusin.

Kemudian, paket lengkap cerek (teko), cangkir, gelas dan sloki dan satu buah sendok, berada di kisaran harga Rp 1.000.000-1.500.000.

Marselinus pun mengaku, wadah gelas yang terbuat dari bambu, ternyata memiliki rasa khas yang sangat berbeda dibandingkan dengan gelas yang yang biasa dari perusahaan.

“Ada peningkatan rasa yang berbeda ade saat kita minum kopi kalau kopi disajikan dengan wadah gelas yang terbuat dari bambu,” katanya.

“Puji Tuhan, dari kerajinan ketekunan saya ini sudah ada yang terjual dan dibeli oleh masyarakat sekitar Colol Raya,” sambung dia.

Meski jenis usaha rumahan dan kecil, ia tetap menampilkan jiwa kreatif.

Ia menargetkan bisa menggunakan karyawan kalau jumlah permintaan konsumen meningkat.

Ia menjadikan ajang Fetival Wisata Lembah Kopi Colol yang dicanangkan Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur nanti, sebagai moment promosi kerajinan tangannya.

Marselinus mengatakan, ia terbuka dan bersedia jika ada pihak yang ingin bekerja sama dalam bentuk modal dan keahlian.

“Saya berharap kepada Pemerintah Kabupaten Matim, jika berkenan, memberi dorongan dalam bentuk modal untuk meningkat modal usaha yang sedang saya geluti dalam bentuk kerja sama,” katanya.

Hingga saat ini memang usaha Marselinus masih menggunakan modal kecil. Namun usaha kerajinan seperti ini, kata dia, membutuhkan keseriusan dan keterampilan yang sangat unik.

KR: L. Jehatu
Editor: Ardy Abba