Oleh: Elias Sumardi Dabur*
Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golongan Karya (Golkar) NTT ke X di Kupang, (2-3/3/2020) patut diapresiasi. Golkar berhasil menuntaskan salah satu agenda penting yang biasanya ribet, panas, penuh intrik dan manuver, yakni pemilihan Ketua DPD Golkar NTT 2020-2025 dengan cara elegan, jalan damai, yakni melalui musyawarah mufakat.
Disadari atau tidak, Golkar NTT memberi contoh, teladan yang baik bagaimana demokrasi berjalan dan mengakar dalam konteks keindonesiaan. Dengan menempuh metode ini, Golkar NTT sebetulnya telah menghidupkan, memberi nyawa kembali nilai-nilai demokrasi yang bermula dari tradisi “ musyawarah majelis rakyat.”
Para pendiri negara kita dengan sadar memilih gagasan demokrasi permusyawaratan untuk membuat—dalam istilah Robert Putnam (1993)—“demokrasi berjalan” (making democracy work), atau apa yang disebut Michael Saward (2002) “mengakar” (to take root), dalam konteks keindonesiaan. Suatu model demokrasi dengan cita-cita kebudayaan berdasarkan daya cipta, rasa, dan karsa bangsa Indonesia sendiri, sesuai sifat-sifat “tanah air”, kondisi sosial, dan perjalanan sejarah bangsa.
Masalah terbesar di negeri ini adalah ketidaksambungan antara ledakan pemburu jabatan politik di satu sisi dan merosotnya kepercayaan rakyat kepada pemimpin politik di sisi yang lain. Situasi ini bisa membuat demokrasi bersifat korosif dan koruptif.
Seperti dikatakan Montesquieu, “prinsip demokrasi dikorup bukan saja ketika spirit kesetaraan hilang, tetapi juga ketika spirit kesetaraan yang ekstrem berlangsung—manakala Setiap orang merasa pantas memimpin.”
Figur yang Tepat
Golkar memilih menghidupkan spirit kesetaraan itu, kesetaraan yang dibimbing hikmat kebijaksanaan, yang penuh kebesaran jiwa mengakui potensi dan prestasi Ketua DPD Golkar NTT saat ini, Emmanuel Melkiades Laka Lena dalam membesarkan Golkar NTT di masa transisi (2017-2020).
Alhasil, mereka pun sepakat dalam semangat kekeluargaan dan spirit musyawarah-mufakat memilih dan menetapkan kembali Melki untuk memimpin Partai Golkar NTT lima tahun mendatang (2020-2025).
Pertimbangan dan keputusan Gokar NTT itu sangat tepat dan pas baik untuk kepentingan kebesaran Golkar NTT maupun dalam membawa manfaat sebesar-besarnya untuk kesejahteraan umum masyarakat NTT.
Emmanuel Melkiades Laka Lena, sang Ketua Golkar terpilih boleh dikatakan personifikasi nilai demokrasi musyawarah itu. Melki bukan figur yang suka konfrontatif. Dia selalu mau merangkul, mengedepankan musyawarah, selalu mencari titik tengah dalam pelbagai perbedaan.
Sikap ini sudah menjadi signature, ciri yang melekat dan menonjol dari figur Melki sejak lama, jauh sebelum dia terjun dalam kolam politik praktis. Model Melki ini sangat tepat untuk mengelola Partai seperti Golkar yang selalu dinamis, penuh kompetisi antar individu dan faksi.
Keunggulan lain Melki dari sekian banyak kelebihannya yang amat berguna untuk perkembangan Golkar adalah kecakapannya dalam membangun dan merawat jaringan. Modal yang amat diperlukan seorang politisi, apalagi dalam memimpin partai Golkar untuk terus menjadi partai dibarisan papan atas.
Perihal ini, sudah dirasakan manfaatnya oleh Golkar NTT sendiri. Selama Melki memimpin Golkar NTT, gerak Golkar jadi lincah, merangkul, bergaul dengan anak-anak muda, milenial dan perempuan. Sehingga, Golkar sukses melewati momentum pemilihan baik gubernur, pileg dan Pilpres dengan hasil gemilang.
Modal dasar ini tentu tidak hanya menguntungkan Golkar, tapi juga masyarakat NTT secara keseluruhan. Dengan posisinya saat ini sebagai Wakil Ketua Komisi IX DPR RI plus jaringan yang luas dan telah lama dibinanya menambah daftar potensi yang bisa disumbangkan Melki sebagai Ketua DPD Golkar NTT untuk kebesaran Partai Golkar dan kesejahteraan masyarakat NTT.
Elias Sumardi Dabur, Advokat dan peminat politik.

