Sebuah gambar yang mengilustrasikan kematian manusia akibat wabah maut hitam (Foto disadur dari buku Homo Deus)
alterntif text

Kupang, Vox NTT-Virus Corona atau Covid-19 sedang memporak-porandakan dunia. Insan manusia dibuatnya ketar-ketir. Huru-hara sejagat membahana menanti datangnya wabah.

Namun sesungguhnya perang manusia melawan wabah virus punya catatan sejarah tersendiri.

Wabah yang paling terkenal bernama Maut Hitam meletup pada dekade 1.330 di suatu tempat di Asia Timur atau Tengah.

Wabah ini muncul ketika bakteri penumpang kutu Yersinia pestis mulai menginfeksi manusia yang digigit kutu.

Dari sana, dengan menumpang armada pedagang, pejabat dan peziarah yang ditumpangi tikus dan kutu, wabah dengan cepat menyebar ke seluruh Asia, Eropa dan Afrika Utara. Hanya dalam waktu kurang dari 2 tahun, mencapai pesisir-pesisir samudra Atlantik.

Antara 75 juta-200 juta orang mati-lebih dari seperempat populasi Eurasia. Di Inggris, 4 dari 10 orang mati. Populasi Inggris susut dari 3,7 juta jiwa sebelum wabah menjadi 2,2 juta setelah wabah.

Kota Florensia kehilangan 50 ribu dari 100 ribu penduduknya.  Kala itu, pejabat benar-benar tak berdaya menghadapi bencana wabah.

Pada 5 Maret 1520, satu rombongan kecil kapal-kapal Spanyol, bertolak meninggalkan pulau Kuba menuju Mexico. Kapal-kapal itu membawa 900 tentara Spanyol bersama kuda, senjata api dan budak Afrika.

Salah satu budak yang ikut dalam rombongan itu bernama Fransisco de Egula. Tanpa disadari, ia membawa satu kargo pasukan yang lebih mematikan dalam tubuhnya.

Fransisco tidak mengetahuinya tetapi di suatu tempat di antara triliunan sel dalam tubuhnya berdetik satu bom waktu biologis bernama virus cacar (smallpox).

Saat mendarat di Mexico, virus itu mulai membiak cepat dalam tubuhnya. Virus itu meletup keluar dari kulitnya dalam rupa ruam-ruam mengerikan.

Fransisco yang menggigil ditidurkan di rumah seorang keluarga pribumi Amerika, di Kota Cempoallan. Dia menulari para anggota keluarga, yang kemudian menulari tetangga-tetangganya.

Dalam waktu 10 hari, kota Cempoallan menjadi sebuah lahan kuburan massal. Para pengungsi menyebarkan penyakit itu dari Cempoallan ke kota-kota terdekat.

Kota Cempoallan dalam peta (Sumber: Wikipedia)

Setelah satu demi satu kota takluk pada wabah itu, gelombang baru pengungsi yang ketakutan membawa penyakit itu ke seluruh Mexico dan menyebar ke luar.

Pada September 1520, wabah sudah mencapai lembah Mexico. Pada bulan Oktober memasuki gerbang-gerbang ibu kota Aztec, Tenochtitilan, sebuah kota metropolitan megah berpenduduk 250 ribu jiwa. Dalam kurun dua bulan, sedikitnya 1/3 penduduk kota itu musnah, termasuk Kaisar Aztec bernama Cuitlahuac.

Sementara pada Maret 1520, saat armada Spanyol tiba, Mexico berpenduduk 22 juta jiwa, pada bulan Desember tinggal 14 juta yang masih hidup.

Dua abad kemudian, pada 18 Januari 1778, penjelajah Inggris, Kapten James Cook, mencapai Hawai. Kepulauan Hawai berpenduduk padat setengah juta jiwa, yang hidup terisolasi sepenuhnya dari Eropa maupun Amerika, dan karenanya tak pernah terpapar penyakit Eropa maupun Amerika.

James Cook (Foto: Ist)

Kapten Cook dan rombongannya memperkenalkan flu pertama, tuberkulosis, dan sipilis ke Hawai. Para pendatang Eropa berikutnya menambahkan tifus dan cacar. Pada 1853, hanya 70 ribu orang yang selamat di Hawai.

Pada Januari 1918, bala tentara di parit-parit Perancis Utara, mulai mati dalam jumlah ribuan akibat satu galur flu yang sangat ganas, yang dijuluki “Flu Spanyol”.

Garda depan itu merupakan ujung dari suplai global paling efisien yang pernah ada di dunia hingga sekarang. Manusia dan amunisi mengalir dari Inggris, Amerika Serikat, India, dan Australia.

Minyak dikirim dari Timur Tengah, gandum dan sapi dari Argentina, karet dari Malaysia, dan tembaga dari Kongo. Sebagai gantinya, mereka mendapat Flu Spanyol. Dalam beberapa bulan saja, sekitar 500 juta orang atau 1/3 populasi global ambruk oleh virus.

Di India, virus membunuh 5 persen populasi atau 15 juta jiwa. Di pulau Tahiti, 14 persen penduduk mati. Di Samoa 20 persen. Di pertambangan tembaga Kongo, 1 dari 5 buruh tewas.

Wabah itu sekaligus membunuh antara 50 juta-100 juta dalam waktu kurang dari satu tahun, sementara perang dunia pertama, membunuh 40 juta orang dari tahun 1914-1918.

Di abad ke 21, setiap beberapa tahun manusia dicemaskan oleh satu ledakan potensial wabah baru seperti SARS pada tahun 2002-2003, Flu Burung pada tahun 2005, Flu Babi pada tahun 2009-2010, dan Ebola pada tahun 2014.

Namun berkat langkah-langka penanggulangan yang efisien, insiden-insiden tersebut sejauh ini menimbulkan jumlah korban yang secara komparatif rendah.

SARS menyebabkan kematian hanya kurang dari 1.000 orang di seluruh dunia, Ebola di Afrika Barat menjangkiti 30 ribu orang dan menewaskan 11 ribu orang.

Bahkan AIDS yang tampaknya kegagalan medis terbesar dalam beberapa dekade terakhir bisa dipandang sebagai tanda kemajuan jika merujuk ke sejarah kelam perjuangan manusia melawan virus.

Sejak mencuat pada awal 1980-an, lebih dari 30 juta orang tewas akibat AIDS. Dan, puluhan lainnya menderita kerusakan fisik dan psikologis.

Tahun 2019, wabah baru muncul dengan nama novel Corona Virus atau yang biasa dikenal dengan Covid-19.

Artikel dr Stevi Harman di VoxNtt.com berjudul Mengenal nCovid-19, menjelaskan penyakit ini disebabkan oleh jenis virus korona yang menyerang saluran pernapasan, yaitu SARS-CoV-2.

Nama COVID-19 itu sendiri adalah singkatan dari COrona VIrus Disease yang ditemukan pada tahun 2019.

Selain COVID-19, penyakit yang disebabkan infeksi virus korona pada manusia adalah SARS-CoV (Severe Acute Respiratory Syndrome related coronavirus) pada tahun 2002 dan MERS-CoV (Middle East Respiratory Syndrome coronavirus) pada 2012.

COVID-19 untuk pertama kali diidentifikasi di Wuhan, Cina pada 20 Januari 2020 lalu. Sedangkan kasus pertama ditemukan pada Desember 2019.

Siapapun dapat tertular penyakit ini melalui transmisi tetesan air liur/droplets dari orang yang terinfeksi dan mengenai bagian tubuh terutama mulut dan hidung.

Artinya, seseorang dapat terinfeksi jika ia berada pada jarak yang sangat dekat (sekitar 1 m) dengan yang orang yang telah terinfeksi.

Selain itu, proses transmisi terjadi jika menyentuh benda-benda yang terkena tetesan/droplet yang mengandung virus korona.

Virus Corona. Gambar disadur dari google.com/coronavirus

Informasi terbaru menunjukkan tetesan dapat bertahan di luar sekitar 24 jam, tergantung pada kekerasan permukaan benda. Perlu digarisbawahi, proses infeksi melalui tetesan air liur berbeda dengan infeksi melalui udara/airborne disease. Artinya, siapapun tidak dapat terinfeksi hanya dengan menghirup udara yang sama dengan orang yang terinfeksi.

Kementerian kesehatan RI melaporkan pada 16 Maret 2020 sudah terdapat 134 orang yang positif COVID-19 di Indonesia.

Di dunia sebanyak 81 negara yang terjangkit virus Corona. Sebanyak 153.517 orang terinfeksi virus, dengan jumlah kematian sebanyak 5.735 orang.

Peningkatan kasus maupun kematian diperkirakan akan terus bertambah pada waktu yang akan datang.

Mungkinkah penyebaran virus corona ini akan berhenti pada waktu yang relatif singkat sebagaimana penyebaran virus Ebola, SARS, Flu Burung dan Flu Babi?

Kita terus menanti perkembangannya sembari mendukung langkah-langkah pemerintah dan organisasi kesehatan dunia menangani pandemi ini.

Sumber Utama: Buku Homo Deus karya Yuval Noah Harari

Sumber lain: infeksiemerging.kemkes.go.id dan www.who.int