Kegiatan kunjungan rumah, salah satu bentuk layanan yang diberikan selama Pandemi Corona (Foto: Istimewa)
alterntif text

alterntif text

Maumere, Vox NTT- Pandemi Covid-19 memaksa pemerintah mengeluarkan kebijakan work from home (WFH). Tak terkecuali di Sikka, NTT.

Tidak bagi Herlina Dengi penyuluh pertanian pada Dinas Pertanian Kabupaten Sikka. Agak sulit baginya untuk bekerja dari rumah. Pasalnya, ia adalah penyuluh pertanian. Kesehariannya adalah mendampingi para petani.

Ia tetap bekerja bersama petani di tengah pandemi saat banyak ASN lain menghabiskan waktu di rumah.

Kadis Pertanian Maurits da Cunha saat ditemui VoxNtt.com beberapa waktu lalu mengatakan para penyuluh Dinas Pertanian tetap bekerja.

Tentu, Herlina tidak sendirian. Ada banyak penyuluh lain yang barangkali tetap beraktivitas bersama petani.

Masuk Keluar Kebun

Kepada VoxNtt.com pada Rabu (29/4/2020) lalu, lajang lulusan UPN Veteran ini mengaku baru selesai membuat video dokumentasi kegiatan di lapangan.

“Bikin saja keperluan penyuluhan bukan untuk lomba atau apa,” ungkapnya.

Seminggu sebelum itu, ia dan kelompok petani cabai dampingannya di Desa Nita, Kecamatan Nita baru saja panen.

Herlina bukan hanya ikut panen. Ia memberikan beragam layanan bagi 15 kelompok tani dampingannya.

Herlina Dengi (memegang ayak di sisi kiri), PPL Desa Nita dalam satu kegiatan bersama kelompok tani (Foto: Istimewa).

“Saya turun ke lapangan baik termasuk ke kebun untuk melakukan monitoring keadaan tanaman, hama penyakit dan melakukan panen dan pasca panen seperti tanaman jagung, padi gogo dan tanaman cabe,” ungkapnya.

Selain itu, ia terlibat dalam kegiatan panen, dan pengambilan ubinan tanaman pangan seperti padi dan jagung.

Meskipun demikian, untuk menghindari adanya kerumunan Herlina tidak mengumpulkan petani. Dia berkunjung dari rumah ke rumah atau pun dari kebun ke kebun. Bahkan, ada layanan konsultasi petani dan informasi kepada petani melalui telepon atau pun SMS.

Semua itu dilakukannya karena bukan semata karena kewajiabannya sebagai ASN, melainkan karena kecintaannya pada aktivitas bertani.

“Ini saya punya kecintaan. Saya punya jalan hidup jadi saya nikmati. Di kebun saya tidak hanya membagi pengetahuan kepada petani tetapi juga belajar dari mereka,” terangnya.

Kedua orangtuanya pun tak masalah bila ia harus tetap beraktivitas dengan para petani.

Dampak Covid-19

Petani dampingan Herlina pada umumnya petani palawija dan hortikultura. Di tengah pandemi seperti sekarang persediaan pangan sangat penting.

Itu sebabnya Herlina ingin petani tetap bekerja. Selain untuk memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga juga untuk pemenuhan pangan masyarakat lainnya.

Sayangnya, bertani di masa pandemi sungguh menyulitkan seperti yang dialami Herlina dan petani dampingannya.

Selain harus tetap mengikuti arahan pemerintah seperti jaga jarak dan lain-lain, mereka harus bergelut dengan harga jual yang tak bersahabat.

Ini seperti yang dialami kelompok budidaya cabai. Mereka tidak bisa beraktivitas bersama di kebun contoh.

“Butuh perawatan atau pemeliharaan setiap hari. Agar kegitan tetap berjalan dan menghindari kerumunan di bagi menjadi sub klmpk. Jadi tidak semua anggota kelompok hadir. Kegiatan selanjutnya oleh sub kelompok lain tetap di bawah pendampingan Penyuluh Pertanian,” terangnya.

Artinya, Herlina harus meluangkan waktu lebih banyak di kebun contoh.

Namun, yang dirasakan berat adalah turunnya harga di pasaran. Biasanya harga cabai berkisar Rp 35.000 sampai Rp 40.000 per kg saat panen.

Belakangan selama pandemi Covid-19 harga cabai turun sampai Rp 10.000 per kg.

“Kasihan mereka sudah kerja cabai, habiskan tenaga dan modal tetapi harganya jatuh. Saya jadinya ikut bantu pemasaran via medsos,” terang Herlina.

Oleh karenanya, Herlina berharap pandemi ini segera berakhir dan situasi kembali normal.

Penulis: Are De Peskim
Editor: Ardy Abba