Salesius Medi, Anggota DPRD Matim (Foto: beritaflores/Vox NTT)
alterntif text

Borong, Vox NTT-Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Manggarai Timur (Matim) Salesius Medi meminta warga mempertimbangkan secara baik, apabila melakukan relokasi kampung.

Hal itu disampaikan Salesius saat melakukan kunjungan kerja bersama beberapa anggota DPRD di Luwuk, Desa Satar Punda, Kecamatan Lamba Leda, Kamis, 4 Juni 2020 lalu.

Menurut anggota DPRD Daerah Pemilihan (Dapil) Borong-Rana Mese itu kehadiran pabrik semen memberikan dampak yang baik dalam upaya penyerapan tenaga kerja di Manggarai Timur.

Tetapi kata dia, perlu juga mempertimbangkan nasib generasi yang akan datang.

Saat kunjungan tersebut Politisi PDI Perjuangan itu juga menyentil kehadiran perusahaan yang sempat melakukan eksploitasi tambang mangan di Desa Satar Punda beberapa waktu silam.

“Dia (perusahaan mangan) hanya tinggalkan tanah dan air di sini. Hasilnya dibawa pulang. Apa yang terjadi, erosi. Hingga demontrasi di Borong. Waktu itu saya belum menjadi anggota DPRD,” ujarnya.

Sebagai anggota DPRD dirinya tidak berada dalam kelompok pro maupun kontra. Tetapi menurut dia, jangan sampai peristiwa serupa akan kembali terjadi bila perusahaan semen mulai melakukan eksploitasi di Desa Satar Punda.

“Ada dampak baik dan ada juga dampak tidak baik di kemudian hari. Ada yang setuju dan ada yang tidak setuju. Setelah ini kami akan duduk bersama,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan, apabila ada warga yang menjual tanahnya ke pihak perusahaan itu merupakan hak mereka. Tetapi jelas dia, hal ini berurusan dengan perusahaan. Sebab itu, diperlukan keterlibatan banyak pihak baik provinsi, pusat dan kabupaten.

“Kalau mau pinda kampung tolong pikir baik-baik. Kaji baik-baik,” ujarnya.

Salesius pun menyarankan agar warga Luwuk dan Lingko Lolok melakukan dialog secara bersama, sehingga tidak menimbulkan perpecahan di kemudian hari, juga dampak bagi generasi yang akan datang.

“Semua masukan dan suara dari warga akan kami sampaikan di lembaga DPRD,” tukasnya.

Saat kunjungan itu seorang ibu rumah tangga di Kampung Luwuk, Karolina Hinam (56) dengan tegas mengatakan tidak akan menjual lahan untuk pendirian pabrik semen.

Bahkan pernyataan Karolina itu pun viral di media sosial. Dalam video yang berdurasi 1:6 detik itu dirinya dengan tegas menolak untuk memberikan tanahnya ke pihak perusahaan tambang.

Menurutnya, tanah itu merupakan peninggalan sang suami, sekaligus tanah pusaka yang diwariskan oleh nenek moyang.

“Itu makanya saya tidak akan beri. Baik tanah ladang maupun tanah sawah. Saya tidak kasih, karena dari situlah sumber mata pencaharian saya sekaligus membiaya pendidikan anak,” kata Karolina.

Ia menambakan, tanah tidak akan beranak seperti manusia. Bagaimana dengan nasib anak-anak nantinya bila tanah ini diberikan kepada pihak perusahaan.

Dalam video itu juga Karolina kembali menegaskan tidak akan memberikan tanahnya kepada pihak perusahaan.

Penulis: Sandy Hayon