Pasar Tingkat Maumere (Foto: Are de Peskim/VoxNtt.com)
alterntif text

Maumere, Vox NTT- Pasar Tingkat Maumere belakangan disebut-sebut publik di Sikka lantaran rencana investasi oleh sebuah perusahaan bernama PT Yassonus Komunikatama Indonesia.

YKI sebenarnya merupakan perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi (pembangunan menara BTS kamuflase) mengajukan tawaran untuk membangun sebuah pasar semi modern. Selain pasar, di dalam bangunan yang sama direncanakan pula mall, hotel, kolam renang dan lain-lain.

Rencana investasi, latar belakang perusahaan sampai bentuk investasi tersebut saat ini menjadi polemik publik di Sikka. Belum lagi persoalan hukum antara DPRD Sikka dan salah satu Forum Pedagang Pengguna Pasar Tingkat Maumere.

Forum Pedagang Pengguna Pasar Tingkat Maumere secara tegas menolak. Pada Jumat (05/06/2020) lalu, secara tegas menyatakan menolak rencana pembangunan tersebut di hadapan Bupati dan DPRD serta calon investor.

Belakangan, Bupati Sikka Robi Idong akhirnya menghentikan rencana investasi tersebut. Meski demikian, Pemda Sikka tetap melakukan kajian terkait revitalisasi Pasar Tingkat Maumere.

Dari Don Thomas Sampai Alex Idong

Pasar tersebut bukanlah sebuah entitas baru. Ia tumbuh dan bertahan dalam sejarah dari pemimpin ke pemimpin.

Pasar Tingkat Maumere terletak di tengah Kota Maumere, tepatnya di pintu masuk selatan kawasan pertokoan.

Matias Ratu Dedo bersama dua ibu pedagang Pasar Tingkat Maumere di depan lapak tenun ikat milikinya (Foto: Are de Peskim/VoxNtt.com)

Pasar ini dikelilingi ruas Jl. Ahmad Yani di sisi utara, Jl. Raja Centis di sisi barat, Jl. Moa Toda di sisi timur dan Jl. Nenas di sisi utara.

Nama Pasar Tingkat Maumere merupakan nama baru lantaran berdiri bangunan tingkat berlantai dua yang menandai era baru pasar tersebut.

Dalam sejarahnya, pasar ini dikenal dengan banyak nama, mulai dari Regang Alok, Pasar Baru, Pasar Lama, Pasar Padang sampai Pasar Tingkat.

Menurut Oscar Mandalangi Parera, pasar tersebut sudah ada sejak zaman Raja Don Thomas. Kala itu, Raja Don Thomas memindahkan pusat kota kerajaan dari Kota Uneng ke Kota Baru.

Di sana dibangunlah lapak-lapak yang menjadi kios jualan dan rumah dinas. Bagian tengahnya kemudian menjadi tempat para petani menjajakan hasil kebun.

Cucu Raja Don Thomas, Dedi da Silva lapak-lapak jualan di sekelilingnya itulah yang belakangan berubah menjadi toko-toko dan tempat usaha keturunan Tionghoa.

Cerita di atas sejalan dengan yang dituliskan E.P. da Gomez dalam buku Don Thomas, Peletak Dasar Sikka Membangun.

Dalam Bahasa Krowe, pasar berarti regang atau tempat orang bertemu. Kala itu, di Sikka hanya ada dua regang yang terkenal yakni Regang Bajo di Geliting dan Tegang Alok di Maumere.

Akan tetapi, kala itu pedagang belum menetap seperti sekarang. Pedagang dan petani punya tempat lain di Kota Maumere yakni di pesisir pantai (area sekitar Toko Nita) dan di kopeta (sekarang area Monumen Tsunami).

Baru di zaman Bupati Laurens Say, pasca bencana banjir yang melanda Maumere, para pedagang mulai membangun lapak-lapak secara swadaya di areal tersebut. Mereka menyebutnya ‘Lepo Gaden’ artinya pondok atau tempat berjualan.

Menurut Gabriel Manek Pedo, kala itu mereka menyebutnya Pasar Baru karena berpindah dari Pasar Lama di areal pertokoan pesisir pantai.

Di akhir masa kepemimpinan Bupati Laurens Say dan awal kepemimpinan Bupati Daniel Woda Pale, yakni antara tahun 1977-1978 dibangunlah sebuah los. Para pedagang menyebutnya Inpres atau Instruksi Presiden, sebuah nama umum untuk produk pembangunan di zaman Orde Soeharto.

Pasca gempa 1992, pemerintah kembali membangun pasar tersebut. Pemda Sikka kala itu juga membangun pasar di Jl.Anggrek, tepat di lokasi Pusat Jajanan dan Cinderamata (PJC) saat ini.

Di Pasar Tingkat, dibangun juga los-los yang dijadikan lapak dagangan. Karenanya masyarakat Sikka menyebutnya Pasar Lama sementara pasar di Perumnas disebut Pasar Baru.

Selain nama tersebut, pernah ada suatu masa dimana pasar ini dikenal dengan nama Pasar Padang. Hal ini lantaran dominasi pedagang pakaian asal Padang yang membuka lapak jualan di lokasi tersebut.

Tahun 1995 pasar tersebut terbakar habis pada suatu malam. Kebakaran tersebut berkaitan dengan kerusuhan pasca peristiwa Pencemaran Hosti.

Gabriel Manek Pedo di tempat usaha jahitnya di lantai dua Pasar Tingkat Maumere (Foto: Are de Peskim/VoxNtt.com)

Menurut Matias Ratu Dedo, pasca kebakaran tersebut para pedagang berjualan di pinggiran jalan.

Pada masa Bupati Alex Idong, ayah dari Bupati Sikka saat ini, Robi Idong, dibangunlah bangunan dua lantai berbentuk huruf H. Sejak saat itu, pasar tersebut terkenal sebagai Pasar Tingkat Maumere.

Konflik

Pasar itu menjadi tempat hidup rakyat yang turut menghidupi Pemda Sikka meski hubungan ini tak pernah luput dari konflik.

Gabriel Manek Pedo dan Matias Ratu Dedo telah menyandarkan hidup dari pasar tersebut sejak masa mudanya. Gabriel adalah penjahit sementara Matias awalnya berjualan pakaian belakangan fokus berjualan tenun ikat.

Matias sudah berdagang sejak tahun 1977. Usianya saat ini 67 tahun.

Awalnya berjualan pakaian, Matias lantas banting stir berdagang tenun ikat Flores terutama Sikka. Dari sanalah ia menghidupi istri dan anak-anaknya. Semua anaknya bisa sekolah dan sudah berkeluarga.

“Saya ingat 15 September 1999 kami yang sebelumnya jual di jalan dan di Kopeta ditarik masuk oleh Pemda Sikka setelah bangunan selesai dikerjakan,” ungkapnya.

Menurutnya, relasi di pasar tidak selalu baik apakah itu antar pedagang atau pun pedagang dengan pengelola pasar.

Menurut Matias, peristiwa kebakaran pasar pada tahun 1995 ada kaitannya dengan soal relasi tersebut.

“Dulu suhu politiknya agak beda. Situasi dan pelayanan di pasar juga kurang baik. Pas ada kasus pencemaran hosti oleh beberapa pekerja di bronjong (Kali Kabir, -red) masyarakat mengamuk,” ungkap Matias.

Menurutnya, saat ini pun ada yang tidak beres. Banyak pedagang yang tak bisa buka lapak karena pasar makin sempit. Namun, di saat bersamaan pengelola menginzinkan orang tertentu untuk membuka lapak.

Menurutnya, ada sesuatu di balik itu semua yang perlu ditelusuri.

“Saya tidak ada masalah dengan mama-mama yang jualan di depan lapak,” ujarnya mengenai beberapa ibu yang menjual hasil kebun tepat di depan lapaknya.

Lain lagi cerita Gabriel Manek Pedo. “Dulu saya dipaksa untuk sewa tempat ini demi menyelamatkan PAD,” ungkap Gabriel.

Pasca dibangun, pedagang enggan menempati bangunan 2 lantai tersebut. Calon pembeli pun enggan masuk. Lebih banyak, muda mudi yang datang berkunjung sekadar pelesiran atau pacaran.

Gabriel akhirnya mulai membangun usahanya di tempat tersebut sampai saat ini. Ia, sama halnya juga Matias dan pedagang lainnya adalah penyumbang PAD bagi Sikka dari pengelolaan pasar.

Selain cerita itu, di awal 2000-an pernah terjadi konflik antara pedagang dan pengelola pasar.

Kala itu, Pemda Sikka menyerahkan konsesi pengelolaan Pasar Tingkat Maumere kepada KPR Beringin sejak tahun 1999.

“Dalam perjalanan kami rasa pengelola kurang beres. Kami bersatu bentuk serikat pedagang lalu bersuara. Akhirnya Bupati Alex setuju cabut kontrak dengan KPR Beringin,” kisah Matias.

Sejak 2004 Pasar Tingkat Maumere kembali dikelola Pemda Sikka melalui PD Pasar.

Namun, tak berarti masalah selesai. Para pedagang masih terus bersuara bila ada persoalan. Sebut saja di antaranya terkait renovasi sejumlah lapak yang terbakar di tahun 2015 dan relokasi pedagang kala pembangunan los tekstil di tahun 2017.

Persis seperti saat ini, mereka pun merespon rencana investasi. Mereka tegas menolak dan mempersilahkan investor mencari tempat lain untuk membangun mall.

Bagi mereka semrawutnya pasar bukan alasan mall dibangun. Pedagang sudah memenuhi kewajibannya. Pihak pengelolaan yang mesti bertanggung jawab dan menegakkan aturan agar pasar tertata, menghidupi pedagang dan juga Pemda Sikka.

Penulis: Are De Peskim
Editor: Ardy Abba