Ikustrasi. (Foto: validnews.id)
alterntif text

Kupang, Vox NTT- Musim kemarau menjadi tantangan tak terperi bagi petani untuk berproduksi, terlebih bagi mereka yang menggarap lahan-lahan kering di provinsi ujung timur negeri ini.

Pemenuhan kebutuhan air untuk usaha pertanian seringkali tidak pernah optimal karena harus bersaing dengan pemenuhan kebutuhan air untuk keperluan domestik, belum lagi teknik pengairan, suhu dan kondisi tanah membuat produktivitas air cenderung rendah. 

Namun inovasi-inovasi dan teknologi yang telah mulai diadopsi membuat tantangan- tantangan itu mulai dapat diatasi.

Methy Omenu petani muda dari Kabupaten Timur Tengah Utara mengakui ketersediaan air menjadi kian terbatas di musim kemarau sehingga sumber daya air harus digunakan sebaik mungkin, tingkat efisiensi penggunaan air harus ditingkatkan, produktivitas air harus dioptimalkan.

Terinspirasi dari program LSM dan belajar secara mandiri di internet, sejak tahun 2017 Methy telah memasangi instalasi irigasi tetes (drip irrigation) di lahan pertaniannya.

Gubernur NTT, Viktor B. Laiskodat dan Bupati Sikka, Robi Idong saat mengunjungi kebun hortikultur dengan Irigasi Tetes milik Yance Maring di Waikiti, Alok Barat, Sikka, Minggu 26 Juli 2020 (Foto: Are de Peskim)

Menurutnya teknologi irigasi tetes telah terbukti mengatasi sejumlah tantangan sekaligus, terutama meningkatkan produktivitas air, sehingga setiap individu tanaman mendapatkan asupan air dan nutrisi yang sama langsung pada akarnya.

Petani muda yang belum genap 30 tahun ini mengungkapkan penghasilanya meningkat drastis dengan penggunaan teknologi ini.

“Saya dulu susah-susah bertani hasilnya satu juta, hanya mengandalkan musim hujan saja, sekarang seperti tak kenal musim, penghasilan saya bisa puluhan juta dan lahan yang mampu saya garap dengan inovasi ini meningkat dari 20 Are menjadi 2 Hektar, dan kini dengan dukungan keluarga akan menambah luasan satu hekar” jelasnya gembira.

Ia juga menjalaskan bahwa skema pembelian tekologi irigasi Tetes saat ini kian memudahkan bagi petani dan kelompok tani. 

Gestianus Sino berpose di lahan pertanian terpadu miliknya seluas 1000 meter persegi di Desa Penfui Timur, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang (Foto: Boni/VoxNtt.com)

Luasan lahan kering di Provinsi NTT termasuk yang terluas yang tersebar di gugusan pulau-pulau Flobamora yaitu mencapai 1,5 juta Hektar.

Perhatian untuk pengelolaan lahan kering di NTT telah menjadi perhatian pemerintah, perguruan tinggi, swasta, hingga lembaga swadaya masyarakat. Power Agro Indonesia adalah salah satunya.

Perusahaan sosial yang mengusung inovasi dan teknologi untuk pertanian dan perdesaan mendukung dengan menyediakan produk-produk teknologi yang dapat meningkatkan produktivitas petani di wilayah NTT salah satunya adalah Irigasi Tetes dengan Pompa Bertenaga Surya. Sejak tahun lalu Power Agro membantu pemerintah melahirkan pengusaha-pengusaha muda di bidang pertanian. 

Alex Pandang, Sales Manajer Power Agro Indonesia mengungkapkan upayanya ini adalah dalam rangka mengoperasionalkan gagasan visioner dari pemimpin-pemimpin di setiap daerah.

“Kita melihat Gubernur dan para Bupati sudah memiliki ide dan arah pembangunan pertanian, tentu pertanian yang dimaksud berbeda dengan di Jawa atau Sulawesi Selatan, dengan kekhasan wilayah, NTT memiliki potensi yang tidak terbatas, dan kami mencoba berkontribusi dengan cara menghadirkan teknologi-teknologi pertanian dan perdesaan ini yang murah dan mudah”.

Ia menjelaskan model penjualan teknologi irigasi tetes bertenaga surya dari perusahaan sosialnya meliputi perencanaan, desain instalasi, pemasangan hingga menyediakan konsultasi menerus pada para petani. 

Informasi lanjutan: Alexander Lani Pandang Power Agro Indonesia Jl. R. W. Monginsidi No.6, Nefonaek, Kota Kupang Email: alex@poweragro.id; alex.poweragro@gmail.com Tep.: 081239582142 Web.: www.poweragro.id