Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»HEADLINE»Jelang Pilkada di NTT, Banyak Kader Parpol Undur Diri, Gejala Apakah Ini?
HEADLINE

Jelang Pilkada di NTT, Banyak Kader Parpol Undur Diri, Gejala Apakah Ini?

By Redaksi12 Agustus 20202 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Agustinus Viky Jalong (Foto: Ist)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oelamasi, Vox NTT-Menjelang Pilkada serentak tahun ini, banyak kader partai politik khususnya di NTT menyatakan pengunduran diri.

Sebut saja Ketua PKPI Kabupaten Sumba Timur, Ketua Hanura Kabupaten Sumba Timur dan Ketua Hanura Kabupaten Belu. Tak hanya pucuk pimpinan, pengunduran diri juga disusul puluhan kader dari masing-masing partai.

Menanggapi fenomena itu, pengamat sosial politik asal Universitas Gadjah Mada (UGM), Agustinus Viky Jalong menyebut tiga gejala sedang terjadi dalam iklim partai politik.

Pertama, terkait tata kelola partai politik atau organisasi politik. Menurut Viky, tata kelola partai berhubungan dengan koordinasi.

“Kok bisa yah tidak ada koordinasi selama ini antara kabupaten, provinsi dan pusat,” ujar dosen politik Fisipol UGM itu.

Kedua, terkait dominasi patronase politik para elit dari tingkat kabupaten, provinsi dan pusat.

Menurut Viky, selama ini partai dianggap sebagai tempat untuk membangun kekuatan sendiri dengan mengandalkan uang dan kekuatan dukungan arus bawah.

Partai, kata dia, bukan lagi sebagai sebuah tempat untuk menemukan kesepahaman ideologi. Selain itu, pendidikan politik semakin menjadi jauh dari tujuan utamanya. Alhasil, siapa yang terkuat akan muncul sebagai dominasi dalam partai politik.

“Kerja kandidasi itu meski disiapkan. Apalagi kerja agregasi kepentingan,” tegasnya.

“Partai itu kan sama dengan orang kan gitu. Negosiasi itu sudah lebih penting dari pada kesepakatan-kesepakatan bersama dalam partai politik,” tambahnya kepada VoxNtt.com, Rabu (12/08/2020) siang.

Ketiga, kata dia, demokrasi yang ideal bersifat top down dan bottom up. Soal kompromi dari bawah dan dari atas.

Menurut Viky, kepincangan demokrasi meyebabkan terjadinya fenomena itu.

“Kasus yang diangkat itu menarik karena memang gejala itu sudah biasa terjadi. Lebih menarik, karena keberanian untuk mundur. Ada sikap perlawanan dari kabupaten,” jelasnya.

Menurut Viky, suara dari bawah (bottom up) perlu didengar oleh tingkat yang lebih tinggi.

“Suara yang di bawah itu juga perlu didengar oleh propinsi dan juga pusat. Itu sikap yang luar biasa bahwa kabupaten juga bisa melawan dengan mengambil langkah-langkah itu. Bagaimana mereka mau taat pada partai sementara partai tidak taat pada dirinya sendiri maupun pada asas demokrasi yaitu pembangunan kesepakatan,” tandasnya.

Ia menjelaskan bahwa, pola-pola tersebut hampir ditemukan di semua partai politik.

“Itu berlaku untuk semua partai politik hanya kebetulan saja, kasus yang diangkat itu di beberapa partai politik,” ungkapnya.

Penulis: Ronis Natom

Editor: Irvan K

Agustinus Viky Jalong Hanura Kabupaten Kupang Partai Politik PKPI
Previous ArticleTak Wajar, Saverius Bayar 900 Ribu untuk Dapatkan Salinan Putusan di PN Maumere
Next Article Terima SK NasDem, PAS-GUD Lanjutkan Bangun Ngada dari Desa

Related Posts

KemenHAM Serap Aspirasi Warga dalam Sosialisasi Penguatan HAM di Tiga Desa Manggarai Raya

25 Juni 2026

Julie Laiskodat Sumbang Rp100 Juta untuk MTQ Tingkat Provinsi NTT di Nagekeo

25 Juni 2026

Wakil Bupati Nagekeo Terjatuh dari Kuda Saat Penyambutan Peserta MTQ NTT

23 Juni 2026
Terkini

KemenHAM Serap Aspirasi Warga dalam Sosialisasi Penguatan HAM di Tiga Desa Manggarai Raya

25 Juni 2026

Julie Laiskodat Sumbang Rp100 Juta untuk MTQ Tingkat Provinsi NTT di Nagekeo

25 Juni 2026

Rutan Kupang Siap Serahkan Rekaman CCTV Terkait Dugaan Suap terhadap Saksi Kasus Jaksa Peras Kontraktor

24 Juni 2026

Undhira Bali Pertahankan Tradisi Ibadah Rabuan untuk Perkuat Karakter dan Spiritualitas Civitas Akademika

24 Juni 2026

Padma Indonesia Kecam Dugaan Intimidasi Warga Tonggurambang Terkait Rencana Pembangunan Fasilitas Militer

24 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.