Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Perempuan Pembawa Luka: Antologi Puisi Epi Muda
Sastra

Perempuan Pembawa Luka: Antologi Puisi Epi Muda

By Redaksi15 Agustus 20212 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Epi Muda
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Perempuan Pembawa Luka

 

Di ujung waktu yang masih meruak

tangisan merdu melantun

memenuhi gendang telinga

merobek malam.

 

Sinar rembulan mengecup bibirnya

menjilat sisa kata-kata yang bersarang di ujung lidahnya

sangat tajam.

 

Perempuan rawat lara

membawa badai yang meluka

meninggalkan senyum pahit untuk menjinakkan rasa puas

sebelum embun pagi menghias waktu dengan pelukan mesrah

dan aroma kopi di waktu senja penuh imajinasi.

 

Unit Gabriel, 2021

 

 Yang

 

Yang memuntahkan rindu di tengah pilu

mencintai dengan sungguh.

Yang menghapus air mata dengan tarian sajak-sajak sakit

membawa pecahan jiwa yang  lunglai.

Yang menyentuh luka dengan kasar

meminta rintik hujan mengguyur  ribuan pilu

dalam batok kepala.

Yang mengkawal suka dengan cinta

melempar senyum melekat di kening

membakar jiwa penuh janji

bakalan kelelahan tak pernah kunjung di waktu luang.

 

Unit Gabriel, 2021

 

Berjalan di Malam Kelam

 

Cahaya lilin padam dalam ingatannya.

Ia berjalan dengan tangisan sendu menjiwa.

Dadanya sesak ketika mencintai titik-titik air hujan

dengan senyum paksa berjalan menemani malam kelam.

Dalam saku celananya meruak kata-kata resah.

 

Malam terus bersarang dalam kedua bola matanya.

Mulutnya mengomel gemetar

merawat catatan singkat yang masih buram,

tetapi ia tetap mencintai malam dengan rindu.

Berjalan dengan air mata kesal.

 

Unit Gabriel, 2021

 

Hujan di Waktu Subuh

 

Hujan mengguyur dengan desah yang pasti.

Rintik-rintik hujan menempel di jendela kaca.

Wajah perempuan elok tersenyum miris.

Aku masih menyebut namanya dalam selimut

sedangkan waktu subuh terus merajuk. 

Sebagian mimpi terpotong

menjelaskan perihal air mata yang tersu membasahi subuh

dengan titipan luka dalam ingatan.

Dan hujan di waktu subuh pergi dengan tenang sambil menitip berkat

untuk melunakkan dada yang sedang sakit.

 

Unit Gabriel, 2021

 

Penulis Epi Muda, seorang mahasiswa STFK Ledalero tingkat 1. Sekarang berdomisili di biara SVD unit Gabriel.

 

Epi Muda
Previous ArticleMuda adalah Kekuatan 
Next Article LKP Tata Boga Swakarya kembali Gelar Kursus dan Pelatihan Pembuatan Pastry dan Bakery

Related Posts

Elegi Luka Sang Pemaaf

19 April 2026

Tentang Pintu Kiri dan Pintu Kanan di Surga

19 April 2026

Senja di Atas Batu Sisa

13 April 2026
Terkini

Polsek Amarasi Timur dan Pemerintah Kecamatan Tinjau Lokasi Kebakaran Rumah Warga di Pakubaun

6 Juni 2026

Peti Persembahan vs Peti Mati

6 Juni 2026

Jejak Skandal AKP Serfolus Tegu: Istri Simpanan, Dugaan Kekerasan hingga Laporan ke Propam

5 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Serahkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat Translok di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.