Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»NTT NEWS»Kalau Ada Caleg yang Pasang APK di Pohon, Tidak Usah Pilih
NTT NEWS

Kalau Ada Caleg yang Pasang APK di Pohon, Tidak Usah Pilih

By Redaksi5 Juni 20232 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Diskusi Publik WALHI NTT pada Senin 06 Juni 2023
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kupang, Vox NTT-Ketua Komisi II DPR NTT Kasimirus Kolo setuju dengan pernyataan audiens saat Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Nusa Tenggara Timur menggelar diskusi publik pada Senin (05/06/2023).

“Kalau ada caleg yang gantung baliho di pohon tidak usah dipilih. Dia tidak menjaga pohon sebagai bagian dari alam yang memberikan kehidupan bagi kita,” tegas Kasimirus pada sesi tanya jawab.

Kegiatan yang mengusung tema “Menagih Janji Pemulihan Ekologi menuju Pemilu 2024” bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup sedunia.

Diskusi tersebut dihadiri bebarapa narasumber yakni Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTT Ondy Ch. Siagian dan Ketua Komisi II DPRD NTT Kasmirus Kolo, Aktivis dan Petani Perempuan Yustina Kosat, Deputi WALHI NTT Yuvensius S. Nonga, Akademisi dan Pengamat Pembangunan Didimus Dedi Dhosa, Akademisi dan Pengamat Politik Yonathan Lopo dan Grace Gracellia sebagai moderator.

Pada saat membuka kegiatan diskusi publik, Direktur Eksekutif WALHI NTT Umbu Wulang Tanaaman Paranggi mengatakan bahwa WALHI melihat selama ini di NTT proses eksploitasi dan eksplorasi sumber daya alam terus terjadi.

Dikatakan Umbu, proses eksplorasi dan eksploitasi bahkan dilakukan sejak jaman kolonial hingga sekarang. Praktik-praktik ini menyasar sumber daya alam seperti Cendana, Gaharu, Mangan, Emas dan sebagainya.

“Begitu banyak ajang-ajang eksploitasi dan eksplorasi lingkungan, sampai kita lupa bahwa praktik-praktik untuk pemulihan ekologisnya, praktis tidak dilakukan. Sehingga hari ini NTT mulai kehilangan Cendana sebagai identitasnya,” ujarnya.

Umbu berharap, lewat ajang diskusi yang dilaksanakan tersebut, akan melahirkan gagasan dan ide tentang bagaimana nasib ekologi di NTT.

“Bicara ekologi NTT  bukan hanya soal keanekaragaman hayati, dan sumber daya alam, tetapi juga soal masyarakat adat, pengetahuan adat, juga soal kehidupan masyarakat di pedalaman,” imbuhnya.

Penulis: Ronis Natom
Editor: Ardy Abba

Walhi Walhi NTT
Previous ArticleSesuai Permenhub, Speedboat BPOLBF Bebas Surat Izin Berlayar
Next Article Dana Desa Tablolong Kabupaten Kupang Diduga Diselewengkan

Related Posts

KemenHAM Serap Aspirasi Warga dalam Sosialisasi Penguatan HAM di Tiga Desa Manggarai Raya

25 Juni 2026

Julie Laiskodat Sumbang Rp100 Juta untuk MTQ Tingkat Provinsi NTT di Nagekeo

25 Juni 2026

Wakil Bupati Nagekeo Terjatuh dari Kuda Saat Penyambutan Peserta MTQ NTT

23 Juni 2026
Terkini

KemenHAM Serap Aspirasi Warga dalam Sosialisasi Penguatan HAM di Tiga Desa Manggarai Raya

25 Juni 2026

Julie Laiskodat Sumbang Rp100 Juta untuk MTQ Tingkat Provinsi NTT di Nagekeo

25 Juni 2026

Rutan Kupang Siap Serahkan Rekaman CCTV Terkait Dugaan Suap terhadap Saksi Kasus Jaksa Peras Kontraktor

24 Juni 2026

Undhira Bali Pertahankan Tradisi Ibadah Rabuan untuk Perkuat Karakter dan Spiritualitas Civitas Akademika

24 Juni 2026

Padma Indonesia Kecam Dugaan Intimidasi Warga Tonggurambang Terkait Rencana Pembangunan Fasilitas Militer

24 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.