Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»VOX POPULI»MAHASISWA»Mahasiswa STIPAS Ruteng Tanam Pohon Mangrove di Pulau Papagarang, Wujud Eko-moderasi
MAHASISWA

Mahasiswa STIPAS Ruteng Tanam Pohon Mangrove di Pulau Papagarang, Wujud Eko-moderasi

By Redaksi10 Februari 20243 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Mahasiswa STIPAS St. Sirilus Ruteng menanam pohon mangrove di Pulau Papagarang, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Sabtu (3/2/2024).
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Labuan Bajo, Vox NTT- Mahasiswa STIPAS St. Sirilus Ruteng menanam pohon mangrove di Pulau Papagarang, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Sabtu (3/2/2024).

Kegiatan penanaman dijalankan dengan tema “Eko-moderasi”. Eko-moderasi ialah salah satu pilar moderasi beragama yang diwujudkan dalam bentuk ekologi atau cinta terhadap lingkungan.

Kegiatan ini tidak hanya diikuti oleh mahasiswa STIPAS Ruteng. Beberapa pihak juga ikut terlibat antara lain; FKUB Labuan Bajo, Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Ruteng, Wakil Bupati Manggarai Barat beserta jajarannya, siswa dan para guru MAN Labuan Bajo, siswa Seminari Labuan Bajo, para Frater TOP Seminari Labuan Bajo, Komunitas NU, Komunitas GMIT, Pemuda Mumammadiyah, dan masyarakat Pulau Papagarang.

Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Ruteng Pastor Hironimus Bandur dalam sambutannya mengatakan, tujuan dari kegiatan Eko-moderasi ini antara lain; pertama, sebagai wujud keprihatinan bersama akan masalah ekologi. Sebab, krisis ekologi adalah masalah semua agama.

Hal ini menurut Pastor Hironimus, tidak lari jauh dari tema Tahun Pastoral Keuskupan Ruteng tahun 2024 yaitu Ekologi-Integral.

Kata dia, masalah ekologi bukan hanya menjadi masalah dari satu agama saja melainkan mencakup semua agama.

“Maka dari itu Keuskupan Ruteng ingin mewujudkan Tahun Pastoral ini dengan mengikuti kegiatan Eko-moderasi yang dilaksanakan di Desa Papagarang,” tandas Pastor Hironimus.

Kedua, lanjut dia, upaya penyelamatan ekologi sebagai bagian perwujudan iman. Artinya, kegiatan ini adalah sebagai manifestasi dari iman.

“Artinya menjaga lingkungan dipandang sebagai tindakan yang mencerminkan keyakinan atau keimanan kita. Inti dari kegitan ini adalah untuk menyadarkan manusia untuk bersyukur atas alam ciptaan yang diberikan oleh Tuhan,” jelas Pastor Hironimus.

Selain itu, kegitan Eko-moderasi ini bertujuan untuk menciptakan dialog antarumat beragama.

Melalui kegiatan ini umat beragama mampu membuka ruang untuk bekerja sama. Kemudian membuka mata untuk melihat masalah-masalah lingkungan yang terjadi sehingga bisa bahu membahu mencari solusi atau jalan keluarnya.

Senada, Wakil Bupati Manggarai Barat dr. Yulianus Weng mengatakan, kegiatan penanaman pohon mangrove merupakan bentuk kepedulian pemerintah terhadap masalah lingkungan serta untuk menjalin kerukunan umat beragama.

Karena itu, kata dia, selain melakukan penanaman pohon, rombongan juga memberikan dan membagikan bibit pohon ketapang dan kelor kepada setiap kepala keluarga (KK) di Desa Papagarang untuk ditanam, dirawat serta dijaga. Hal ini sebagai bentuk kepedulian merreka terhadap lingkungan.

Setelah melakukan penanaman pohon rombongan beserta masyarakat Papagarang membentuk relasi yang lebih erat dengan acara makan bersama, sekaligus menutup kegiatan Eko-moderasi.

Untuk diketahui, Papagarang adalah salah satu desa yang terletak di sebuah pulau kecil di Labuan Bajo dengan mayoritas umat beragama Islam.

Untuk sampai ke Pulau Papagarang sekitar satu setengah jam menggunakan kapal motor.

Papagarang adalah desa yang memiliki kondisi dan situasi yang memprihatinkan dalam hal ekologi atau lingkungan, seperti kekeringan, serta masalah air bersih.

Kontributor: Mutiara Gambur & Putriani S. Bahagia

Desa Papagarang Labuan Bajo STIPAS Ruteng Yulianus Weng
Previous ArticlePembangunan Ruko di Kuanino Tidak Hiraukan Protes Warga, Dinas PUPR Kota Kupang Terkesan Diam
Next Article Anggota Sumba SVD Youth Day Gores Kisah Lewat Pentas Seni

Related Posts

Menteri Transmigrasi RI Tinjau Pembangunan Sanitasi dan Lokasi HPL di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Manggarai Barat Dorong Koperasi Desa Merah Putih Beroperasi Meski Belum Punya Gerai

30 Mei 2026

Pemkab Manggarai Barat Evaluasi Seluruh Destinasi Wisata Usai Insiden WNA Austria Terjatuh di Jembatan Gantung

30 Mei 2026
Terkini

Polsek Amarasi Timur dan Pemerintah Kecamatan Tinjau Lokasi Kebakaran Rumah Warga di Pakubaun

6 Juni 2026

Peti Persembahan vs Peti Mati

6 Juni 2026

Jejak Skandal AKP Serfolus Tegu: Istri Simpanan, Dugaan Kekerasan hingga Laporan ke Propam

5 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Serahkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat Translok di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.