Ruteng, VoxNTT.com – Manfaatkan potensi lokal kembali menunjukkan dampak nyata di Desa Rai, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai. Melalui program Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu (TEKAD), seorang kader muda, Teodulus Faldi Tanggung atau akrab disapa Faldi, menggagas inisiatif pemberdayaan masyarakat berbasis hasil pertanian lokal, yakni produksi cemilan kacang tanah.
Program ini tidak hanya menghadirkan inovasi baru, tetapi juga membuka jalan bagi penguatan ekonomi rumah tangga petani di desa tersebut.
“Gagasan ini lahir dari pengamatan sederhana namun bermakna. Desa Rai dikenal sebagai salah satu wilayah dengan produksi kacang tanah cukup besar di Kecamatan Ruteng,” kata Teodulus Faldi Tanggung, kepada VoxNtt.com, Jumat, 12 Desember 2025.
Faldi menjelaskan, sebagian besar penduduk menggantungkan hidup pada hasil tani komoditi tersebut. Namun selama ini, kacang tanah hanya dijual dalam bentuk mentah, sehingga nilai ekonominya terbatas.
Melihat peluang itu, Faldi tergerak untuk mengubah komoditi lokal tersebut menjadi produk olahan bernilai tambah yang bisa meningkatkan pendapatan warga.
Atas dasar itu, ia mengajak warga untuk memproduksi cemilan kacang tanah secara mandiri di desa. Ia kemudian menggandeng Pemerintah Desa Rai serta Kelompok Tani KPB Koja Rai, sebuah kelompok yang beranggotakan 17 orang petani asli Desa Rai.
“Melalui pendampingan terstruktur, pelatihan, hingga pembuatan konsep usaha, produksi cemilan kacang tanah resmi dimulai pada November 2025,” ujarnya.
Ia menjelaskan produk cemilan yang dihasilkan diberi kemasan sederhana namun menarik, dijual seharga Rp50.000 per bungkus dengan berat 500 gram. Kehadiran produk ini disambut antusias oleh warga, sebab untuk pertama kalinya hasil panen mereka tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi menjadi produk olahan yang bisa dipasarkan lebih luas. Usaha ini sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan keluarga petani dan mendorong pertumbuhan ekonomi desa.
Faldi menjelaskan bahwa inisiatif ini lahir dari niat sederhana, melihat potensi lokal dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan warga.
Menurutnya, Desa Rai memiliki sumber daya alam dan manusia yang sangat besar, namun seringkali kurang difokuskan pada pengembangan ekonomi kreatif berbasis hasil tani.
“Saya melihat masyarakat Desa Rai banyak yang hidup dari menanam kacang tanah. Selama ini mereka menjualnya mentah, sehingga pendapatannya terbatas. Dengan diolah menjadi cemilan, kacang tanah tidak hanya punya nilai jual lebih tinggi, tapi juga membuka peluang usaha baru bagi warga,” katanya.
Faldi menambahkan, keberhasilan program ini bukan hanya soal produksi cemilan, tetapi juga soal membangun kesadaran warga bahwa mereka bisa mandiri secara ekonomi.
“Yang kami lakukan adalah membimbing, memberikan pelatihan, dan menunjukkan bahwa dengan kolaborasi, warga desa bisa mengubah hasil tani menjadi produk bernilai tambah yang bisa bersaing di pasar,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani KPB Koja Rai, Maksimus Terima, menilai program TEKAD membawa semangat baru bagi para petani di Desa Rai.
Menurut dia, selama ini anggota kelompok hanya mengandalkan hasil panen mentah, sementara potensi olahan makanan berbasis kacang tanah belum pernah dijajaki secara serius.
“Pendampingan TEKAD sangat membantu. Kami belajar bagaimana mengolah kacang tanah menjadi cemilan yang menarik dan layak dijual. Program ini juga memberi kami motivasi, bahwa kami bisa menjadi produsen, bukan hanya petani. Ini jelas meningkatkan semangat dan rasa percaya diri anggota kelompok,” ujar Maksimus.
Ia menambahkan, melalui kegiatan ini, anggota kelompok tidak hanya mendapatkan keterampilan baru, tetapi juga wawasan tentang pemasaran, pengemasan, dan manajemen usaha.
“Kami berharap produk cemilan ini bisa diterima konsumen luas, sehingga usaha ini dapat berkelanjutan dan berdampak langsung pada kesejahteraan keluarga kami,” kata Maksimus dengan optimis.
Dihubungi terpisah, Penjabat Kepala Desa Rai, Gabriel Ilang, menegaskan bahwa pemerintah desa akan terus mendukung setiap inisiatif pemberdayaan masyarakat yang berbasis potensi lokal.
Menurutnya, kehadiran TEKAD bukan sekadar membantu produksi cemilan, tetapi juga bagian dari strategi pembangunan ekonomi desa yang inklusif dan berkelanjutan.
“Kami menyambut baik program ini. Kader TEKAD dan kelompok tani telah menunjukkan bahwa potensi lokal, bila dikelola dengan baik, bisa menjadi motor penggerak ekonomi desa. Pemerintah desa akan mendukung pelatihan, pemasaran, dan pengembangan kapasitas warga agar produk ini terus berkembang,” ujar Gabriel, kepada VoxNtt.com, Jumat Sore.
Ia mengatakan, pemerintah desa juga berencana mendorong kolaborasi lebih luas dengan BUMDes dan koperasi desa agar produk cemilan kacang tanah dapat menjangkau pasar yang lebih luas dan memberikan dampak ekonomi yang lebih signifikan.
“Ini adalah contoh nyata bahwa desa bisa mandiri, selama ada pendampingan dan kolaborasi yang baik antara pemerintah, masyarakat, dan program pemberdayaan seperti TEKAD,” tegasnya.
Kata Gabriel melalui ikhtiar bersama ini, Desa Rai diharapkan mampu melahirkan produk-produk unggulan baru yang bersumber dari potensi lokal. Inovasi pengolahan kacang tanah ini hanyalah langkah awal menuju kemandirian ekonomi masyarakat desa.
Ke depan, pemerintah desa dan kader TEKAD berencana memperluas jaringan pemasaran serta meningkatkan kualitas produksi agar produk cemilan kacang tanah Desa Rai dapat bersaing di pasar yang lebih luas.
“Program pemberdayaan ini menegaskan bahwa ketika masyarakat diberi ruang, arahan, dan pendampingan yang tepat, potensi lokal dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi yang berdampak langsung pada kesejahteraan warga,” tutupnya.
Kontributor: Isno Baco

