Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»Surat Gembala Keuskupan Ruteng Jadi Sarana Menghidupkan Iman Umat Paroki Timung
Regional NTT

Surat Gembala Keuskupan Ruteng Jadi Sarana Menghidupkan Iman Umat Paroki Timung

By Redaksi22 Maret 20267 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Pastor Paroki Roh Kudus Timung, Romo Vitalis Salung, Pr saat memimpin misa di Gereja Stasi Hati Kudus Yesus Mendo, Minggu, 22 Maret 2026 Foto: Leo Jehatu)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ruteng, VoxNTT.com – Pastor Paroki Roh Kudus Timung menegaskan pentingnya kebersamaan dalam menghidupkan iman umat saat membacakan Surat Gembala Keuskupan Ruteng Tahun 2026 di Stasi Hati Kudus Yesus Mendo, Minggu, 22 Maret 2026.

“Mudah-mudahan melalui Surat Gembala ini, kita menemukan sebuah wadah yang nyata untuk menghidupkan iman kita bersama,” ungkap Romo Vitalis.

Dalam khotbahnya, ia menekankan bahwa umat Paroki Timung dipanggil untuk bertumbuh bersama, bukan berjalan sendiri-sendiri, melainkan hidup dalam terang kasih Tuhan.

Romo Vitalis juga mengingatkan bahwa panggilan kekudusan merupakan tugas bersama seluruh umat beriman.

Menurut dia, panggilan untuk menjadi kudus tidak hanya ditujukan bagi segelintir orang, tetapi bagi semua umat.

Ia menambahkan, umat dipanggil untuk hidup dalam persaudaraan sejati dengan saling menerima, menguatkan, dan mengasihi, sebagai satu tubuh dalam Kristus yang dipersatukan dalam kasih-Nya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Surat Gembala Keuskupan Ruteng perlu menjadi sarana refleksi iman.

Surat tersebut, kata dia, menyadarkan umat bahwa Tuhan senantiasa menyediakan rahmat baru dalam kehidupan.

“Rahmat itu hadir juga di tengah kehidupan paroki kita saat ini, asal kita mau membuka hati, mau berubah, dan mau berjalan bersama dalam iman,” tegasnya.

Ia mengajak umat untuk tidak berhenti pada mendengar, tetapi mewujudkan iman dalam tindakan nyata sehari-hari.

“Kita dipanggil bukan hanya untuk mendengar, tetapi juga untuk mewujudkan iman itu dalam tindakan nyata setiap hari,” kata Romo Vitalis.

Semangat Surat Gembala itu diharapkan mampu menghidupkan kembali dinamika iman umat, sehingga Paroki Roh Kudus Timung semakin bertumbuh sebagai komunitas yang hidup, bersatu, dan kudus.

Isi Surat Gembala Keuskupan Ruteng

Surat Gembala Paskah 2026 Uskup Ruteng dengan Tema: “Akulah Kebangkitan dan Hidup” (Yoh 11:25)

Ketika derap ziarah iman kita memasuki Minggu Prapaskah Kelima, Gereja tampil dalam kesederhanaan yang justru menyimpan kedalaman makna. Salib dan patung-patung ditudungi kain ungu.

Liturgi seakan menahan pandangan kita, agar hati belajar melihat lebih dalam. Itulah penanda bahwa kita telah memasuki fase penting dalam peziarahan ini: awal masa sengsara Tuhan, passiontide, saat Gereja mengajak kita menapaki jejak-jejak penderitaan Kristus pada hari-hari terakhir hidup-Nya di Yerusalem.

Dalam suasana itu, kita tidak hanya mengenang sengsara Tuhan sebagai peristiwa masa lampau. Kita juga diajak membawa luka-luka dunia hari ini ke dalam lambung kudus-Nya yang tertikam oleh kejahatan dan dosa manusia: kekerasan dalam rumah tangga dan perang antarbangsa, kesenjangan sosial dan korupsi yang merajalela, judi online dan aneka kejahatan digital yang kian masif, juga perusakan lingkungan serta perubahan iklim yang makin parah.

Namun, pada Minggu Sengsara ini, kita tidak hanya berhenti pada duka. Kita juga ingin merasakan cinta Tuhan yang lembut dan mesra, cinta yang membuat-Nya rela menderita demi keselamatan kita.

Sebab cinta yang sejati tidak pernah menolak penderitaan. Cinta yang sejati tidak hanya tumbuh dalam rasa senang dan keadaan yang serba nyaman. Ia justru menyala dalam malam panjang kegelapan, dan lahir melalui lika-liku perjuangan yang menegangkan.

Cinta Tuhan yang menghidupi inilah yang dapat kita rasakan, baik di tengah penderitaan pribadi maupun di tengah luka-luka dunia zaman ini.

Iman Kristiani bukanlah “obat bius”, bukan pelarian yang menghibur kita dengan mimpi-mimpi indah agar terhindar dari kenyataan hidup yang pahit.

Sebaliknya, iman Kristiani menggerakkan kita untuk terlibat sepenuhnya dalam kenyataan hidup, termasuk pada bagian-bagian yang buram dan perih.

Pada saat yang sama, iman ini memberi jaminan batin yang kokoh: siapa yang berjalan bersama Tuhan akan dimampukan mengolah penderitaan menjadi jalan menuju kebahagiaan.

Siapa yang bersandar pada Tuhan akan sanggup berjalan teguh melewati lorong dunia yang fana dan gelap, bahkan ketika lorong itu berujung pada kematian, menuju fajar kehidupan baru yang diterbitkan oleh Tuhan sendiri.

Itulah yang kita rayakan dengan sukacita dalam Paskah. Paskah adalah jawaban Allah atas rintihan penderitaan manusia: Aku tidak pernah meninggalkan engkau sendirian.

Paskah adalah jawaban terhadap kebisuan kematian: di balik gelapnya kubur, terbit cahaya hidup yang abadi.

Paskah adalah tenaga baru bagi langkah-langkah kita yang telah letih dan rapuh, agar tetap berjalan di lorong hidup yang fana ini dengan kekuatan dari-Nya. Sebab Tuhan berkata:

“Akulah kebangkitan dan hidup. Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati” (Yoh 11:25).

Injil Minggu ini menghadirkan kisah iman yang memukau dari dua perempuan bersaudara, Maria dan Marta.

Mereka mengalami duka yang sangat dalam: Lazarus, saudara mereka satu-satunya, meninggal dunia. Penyangga kasih dan harapan mereka seakan runtuh seketika.

Namun, justru dari dua perempuan yang pada zaman itu kerap dipandang lemah dan tak berdaya, lahir kekuatan iman yang menggetarkan. “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati,” ujar Maria lirih.

Dan Marta menegaskan dengan keyakinan yang teduh, “Tetapi sekarang pun aku tahu: Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya.”

Dari pengakuan dan keyakinan iman dua perempuan inilah, peristiwa besar itu terjadi: Lazarus dibangkitkan. Maka benarlah kata Rasul Paulus: juga dalam situasi yang paling gelap dan paling hampa, “pengharapan tidak mengecewakan” (Rm 5:5). Di titik ketika manusia merasa semuanya selesai, Tuhan justru membuka kemungkinan baru.

Berziarah bersama dalam Pengharapan.” Itulah semangat yang menghidupi Sinode IV Keuskupan Ruteng pada tahun 2026 ini.

Di tengah dunia yang dilanda rangkaian krisis kemanusiaan dan bencana alam, di tengah kehidupan Gereja yang juga tidak luput dari pelbagai kesulitan dan persoalan, kita ingin tetap berdiri teguh sebagai saksi-saksi pengharapan.

Pengharapan yang kita tawarkan kepada dunia bukanlah janji-janji palsu atau optimisme kosong, melainkan ungkapan iman yang berakar dalam kasih setia Allah.

Karena itu, Sinode IV dibingkai oleh motto: Beriman, Bersaudara, Misioner. Ziarah bersama Umat Allah Keuskupan Ruteng bertolak dari persekutuan yang mesra dengan Allah, diwujudkan dalam persaudaraan dan solidaritas, lalu dipancarkan dengan gembira ke tengah dunia.

Pengharapan ini bukanlah mimpi yang melayang di ruang hampa. Ia berpijak pada kebaikan Allah yang telah kita alami bersama dalam pelaksanaan Sinode III Keuskupan Ruteng selama sepuluh tahun terakhir.

Hasil survei dan diskusi mengenai ketercapaian arah dasar Sinode III menunjukkan buah yang sangat menggembirakan. Gereja lokal kita semakin bertumbuh menjadi persekutuan Umat Allah yang beriman secara utuh, dinamis, dan transformatif.

Hal ini terutama ditopang oleh pola dan praksis pastoral kontekstual-integral yang telah dijalankan.

Ketika titik tolak pelayanan pastoral adalah kebutuhan dan harapan umat—itulah yang disebut kontekstual—maka reka pastoral sungguh menyapa hidup nyata dan menggerakkan partisipasi umat secara kreatif dan optimal.

Itulah yang kita alami dalam pelaksanaan fokus-fokus pastoral seperti Tata Kelola Pelayanan Kasih, Pariwisata Holistik, Ekonomi Berkelanjutan, Ekologi Integral, dan Ekaristi Transformatif.

Demikian pula ketika program-program pastoral dijalankan secara terintegrasi lintas bidang kehidupan Gereja, dikawal oleh lingkaran manajemen pastoral yang andal, serta diperkuat oleh jejaring kerja sama lintas stakeholder atau pemangku kepentingan, buahnya nyata: iman umat diteguhkan, persaudaraan dan solidaritas dipererat, dan ibu bumi di tanah Nucalale tercinta semakin dijaga dan dirawat.

Pada tahun 2026 ini, melalui empat sesi sidang sinodal, kita hendak merenungkan mosaik indah karya-karya pastoral yang selama ini telah bersinergi dalam bidang pewartaan, pengudusan, pelayanan, persekutuan, tata kelola, dan pelayanan pastoral.

Dari sana, kita ingin bersama-sama merumuskan arah dasar dan desain program pastoral untuk sepuluh tahun ke depan, dengan membiarkan diri diilhami oleh Roh Kudus.

Sinode, menurut Paus Fransiskus, adalah perjalanan bersama: saling mendengarkan, dan terutama mendengarkan suara Roh Tuhan. Itulah yang kini sedang kita hayati melalui doa dan ibadat, katekese umat, diskusi, survei pastoral, serta aksi-aksi sosial-ekologis yang bernapas sinodal.

Lebih daripada itu, sinode adalah cara hidup (modus vivendi) sekaligus cara bertindak (modus operandi) Gereja. Sinode bukan sekadar sidang pastoral, melainkan napas seluruh hidup Gereja dalam pelbagai dimensinya, yang dijalankan dalam semangat kebersamaan dan persaudaraan.

Paus Leo XIV menegaskan bahwa sinode bukanlah kampanye atau panggung pencitraan, melainkan sungguh sebuah jalan pertobatan dan pembaruan sikap, agar Gereja semakin menjadi Keluarga Allah yang misioner dan setia memberi kesaksian tentang kabar gembira keselamatan dalam Kristus.

Karena itu, marilah kita bersinode. Marilah kita berjalan bersama di jalan Tuhan dan dalam tuntunan Roh-Nya. Marilah kita terus merangkai harapan dalam kekuatan kasih-Nya. Dalam semangat sinodal itulah, saya menghaturkan salam sukacita Paskah 2026.

Kontributor: Leo Jehatu

Keuskupan Ruteng Manggarai Paroki Timung
Previous Article29 Napi Rutan Ruteng Dapat Remisi Idul Fitri
Next Article Menggugat MBG dan Menagih Kedaulatan Pangan Lokal Manggarai

Related Posts

Edi Hardum Minta Menteri HAM Awasi Penanganan Laporan Bupati Hery Nabit di Polres Manggarai

4 Juni 2026

Advokat Publik Nilai Laporan Bupati Manggarai terhadap Edi Hardum Tidak Sesuai Mekanisme UU Pers

3 Juni 2026

‘Gema Mabar’ Diluncurkan, Pemkab Manggarai Barat Fokus pada Ketahanan Pangan hingga Pariwisata Berkelanjutan

2 Juni 2026
Terkini

Menteri Transmigrasi RI Serahkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat Translok di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026

Pemkab Manggarai Barat Usulkan Satgas Perizinan untuk Perkuat Pengawasan Usaha

4 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Tinjau Pembangunan Sanitasi dan Lokasi HPL di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Kejari Manggarai Barat Pulihkan Kerugian Negara Rp2,09 Miliar dari Dua Kasus Korupsi

4 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.