Borong, VoxNTT.com – Pasokan air dari proyek sumur bor di RT Randang, Dusun Randang Dua, Desa Nanga Mbaur, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur dilaporkan belum maksimal. Kondisi ini dikeluhkan petani karena tanaman padi belum mendapat suplai air secara penuh.
Proyek milik Dinas Pertanian Kabupaten Manggarai Timur yang dikerjakan Kelompok Tani Gelong Galung pada 2025 itu disebut belum memberi manfaat optimal bagi petani setempat. Salah satu petani, Warkah Jaludin, mengatakan sejak dibangun, air dari sumur bor belum mampu memenuhi kebutuhan irigasi sawah.
“Petani kecewa, air dari dalam sumur tidak naik, padi tidak dapat pasokan air yang maksimal. Lama-lama tanaman bisa mengering,” ujar Warkah.
Ia juga menyoroti sejumlah peralatan proyek, seperti pipa, yang belum terpasang dan masih berserakan di rumah ketua kelompok tani. Padahal, peralatan tersebut telah dibeli untuk mendukung pengerjaan sumur bor.
“Banyak pipa masih ada tetapi terlihat berserakan di rumah ketua kelompok tani,” ungkap Warkah.
Menurut Warkah, proyek sumur bor tahun 2025 tidak hanya berada di Desa Nanga Mbaur, tetapi juga tersebar di Kelurahan Pota dan Desa Nanga Mbaling. Seluruh proyek dikerjakan secara swakelola oleh kelompok tani dengan kedalaman sumur mencapai puluhan meter.
“Proyek sumur bor ini bukan hanya di Nanga Mbaur, tetapi di Logo Kelurahan Pota juga ada, terus ada juga di Nanga Mbaling, dikerjakan oleh kelompok tani dengan masing-masing kedalaman yang sama, tetapi untuk Desa Nanga Mbaur belum maksimal, airnya belum mampu naik,” kata Warkah.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur turun tangan mengecek kondisi sumur bor di tiga wilayah tersebut agar petani memperoleh pasokan air yang memadai. Selain itu, ia juga meminta pemerintah dan aparat penegak hukum memeriksa peralatan proyek yang masih berada di rumah ketua kelompok tani.
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Gelong Galung Desa Nanga Mbaur, Muhamad Kasim, membantah pernyataan tersebut. Ia menegaskan sumur bor sudah berfungsi stabil dan mampu memasok air secara maksimal bagi petani.
“Bukan kurang maksimal, sumur itu sudah ada, alat seperti mesin, dinamo dan pipa semua sudah lengkap, ditambah sumber mata air yang besar. Hanya sekarang petani harus berusaha sendiri bagaimana supaya air mampu naik ke selokan,” tutur Kasim.
Ia menyarankan petani untuk menambah peralatan seperti alat penghisap dan pipa berdiameter dua dim agar distribusi air ke sawah lebih optimal.
“Saya sarankan mereka beli alat penghisap dan pipa dua dim supaya air bisa naik,” tuturnya lagi.
Kasim menambahkan, proyek tersebut bukan lagi menjadi tanggung jawab kelompok tani karena pembangunan telah selesai dan anggaran sudah tidak tersedia. Menurut dia, pemanfaatan lanjutan menjadi tanggung jawab petani.
“Urusan selanjutnya tidak bisa lempar ke ketua kelompok lagi, pemerintah sudah kasih dan kami sudah buat, kalau ada yang masih belum maksimal yah seharusnya sudah menjadi urusan petani. Mereka sendiri bisa beli alat tambahan, seperti pipa atau solar untuk menghidupkan mesin,” ujar Kasim.
Ia juga meluruskan soal pipa yang disebut berserakan. Menurutnya, pipa tersebut sengaja disimpan sebagai cadangan jika terjadi kerusakan atau kebocoran.
“Pipa itu memang sengaja ditaruh di rumah sebagai alternatif pengganti kalau ada pipa yang rusak atau bocor. Jadi saya mau luruskan bahwa pipa ini disimpan bukan karena ada kesalahan penggunaan tetapi untuk berjaga-jaga siapa tahu ada pipa yang rusak,” jelas Kasim.
Penulis: Berto Davids

