Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Lambaian di Balik Jaring Besi
Sastra

Lambaian di Balik Jaring Besi

By Redaksi8 April 20268 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Frt. Alvianus Tay

Sedang Belajar Teologi di Filipina

“Bawalah yang ini dulu. Nanti, jika paman sudah punya uang, akan kubelikan yang baru. Supaya semangat belajarmu tetap menyala dan lidah Inggrismu semakin mumpuni,” bisik paman pelan.

Suaranya bergetar, sehalus gesekan daun kering di musim kemarau, seiring dengan bola matanya yang berkaca-kaca menatap sebuah kamus bahasa Inggris usang di tangannya.

Sampulnya sudah lecet di bagian sudut, dan kertasnya telah berubah warna menjadi kekuningan, sebuah saksi bisu dari tahun-tahun yang telah luruh.

Aku hanya mampu melempar senyum tipis, mencoba menyembunyikan sesak yang mulai merayap di tenggorokan. Kuambil kamus itu dengan takzim, seolah memegang sebuah pusaka, lalu menyusunnya di dalam karton yang sudah sesak oleh deretan buku doa.

Pagi itu, sunyi masih memeluk erat perkampungan kami di Flores. Kabut tipis menggantung di pucuk-pucuk bambu, membawa aroma tanah basah dan sisa jelaga dari tungku dapur.

Hanya kokokan ayam jantan yang sesekali membelah sepi, menandakan bahwa fajar telah menyingsing dan mimpi-mimpi harus segera dirajut di tanah yang jauh. Keluargaku sibuk mempersiapkan keberangkatanku menuju Bandara Ture Lelo, Soa.

Pakaian seadanya terlipat rapi di dalam koper tua. Buku doa dan kamus usang itu kini menjadi penghuni tetap kotak kardus sederhana. Semuanya tertata dengan sangat apik, seolah-olah kerapian itu adalah cara mereka menutupi kegelisahan hati yang tak terkatakan.

Kulihat paman duduk termangu di sudut teras, menyandarkan punggung ringkihnya pada tiang bambu tua yang mulai menghitam.

Matanya kosong menatap perbukitan yang masih berselimut halimun, sekosong perasaanku saat itu. Ada kesedihan yang terurai jelas dari gurat wajahnya, sebuah ketidakrelaan yang samar namun perih untuk melepaskan keponakannya menjemput mimpi di tanah asing.

Ingin rasanya aku mendekat, memeluk bahunya yang gemetar, namun kakiku terasa seberat timah. Kubiarkan ia bernostalgia dengan kenangan yang pernah ada, sebelum akhirnya ia harus benar-benar melepas kepergianku nun jauh di sana.

Mobil pick-up yang menjemputku akhirnya tiba. Deru mesinnya memecah keheningan, memicu detak jantungku yang kian tak beraturan. Kami meluncur cepat membelah jalanan berliku menuju bandara. Di bak belakang, aku terdiam membisu, membiarkan angin pagi menampar wajahku.

Wajah paman tak lagi terlihat di antara kerumunan keluarga yang melepas di depan rumah. Hatiku seketika muram. Di mana paman? Mengapa ia tidak ikut mengantar hingga ke bandara? Tanyaku dalam hati sembari mengeratkan pelukan pada kardus berisi kamus pemberiannya.

Apakah ia terlalu sedih hingga tak sanggup melihatku naik ke tangga pesawat? Ataukah ada alasan lain yang disembunyikan oleh takdir?

Hari itu adalah garis awal bagi perjalananku keluar dari zona nyaman. Sebuah zona di mana kesederhanaan dalam kebersamaan adalah bahasa cinta yang tak terkalahkan.

Aku sadar, setelah kaki ini melangkah masuk ke bandara, kisah-kisah bersama keluarga tidak akan lagi hadir secara fisik. Semuanya akan berubah menjadi narasi berpusara yang terus menggenang dalam palung ingatanku.

Bandara Ture Lelo terlihat ramai pagi itu. Di kejauhan, pesawat Wings Air telah bersiap di landasan, seperti raksasa putih yang siap menelan asa para penumpang untuk diterbangkan ke angkasa. Mamaku menatapku dengan mata yang mulai basah.

Baginya, melepaskan anak adalah musik sendu paling piatu di hatinya. Ia tak mampu lagi menata simfoni rindu saat anak keduanya harus terbang jauh demi merajut kembali mimpi yang masih tercecer.

Ia memelukku erat, seolah-olah pelukan itu bisa menghentikan waktu. “Selamat jalan, Nak,” bisiknya dengan suara yang nyaris hilang ditelan bising mesin. Ada pesan cinta yang bertengger kokoh di kepalaku. Aku terdiam dengan bibir gemetar, sekuat tenaga menahan puisi rindu yang hendak tumpah lewat air mata.

“Aku harus kuat, Ma,” ucapku lirih. Saat aku melepaskan pelukannya, kulihat pelangi yang mekar membentuk setengah lingkaran indah di pelupuk matanya. Mata pelangi itu tidak hanya menyimpan kesedihan, tapi juga keindahan doa yang tak kunjung pupus meskipun nanti akan terhalang jarak.

Saat aku melangkah menuju pintu pemeriksaan, rinduku tiba-tiba saja beranak-pinak. Setiap langkah terasa menarik beban ribuan ton. Aku menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya, melambaikan tangan kepada kerumunan keluarga. Air mata mama perlahan jatuh, menyentuh bumi kabut yang sebentar lagi akan kutinggalkan.

“Tuhan, aku sudah rindu mereka,” bisikku pelan sembari menyeka air mata. Aku mencoba meyakinkan diri bahwa di atas langit masih ada langit; bahwa ada kesuksesan yang menanti jika keberanian dan kerelaan menjadi pijakan utamanya. Kalimat itu menjadi kompas sederhana yang mengendalikan batinku agar tidak tenggelam dalam ingatan tentang keluarga yang masih menunggu di luar pagar.

Namun, di tengah segala penguatan diri itu, ada satu duri yang terus menusuk: ketidakhadiran pamanku. Ia adalah sosok yang sudah kuanggap sebagai ayah sendiri. Meskipun terkenal keras dan tegas, ia memiliki hati kebapakan yang luar biasa luasnya.

Pesawat sudah hampir lepas landas, namun wajah tuanya belum juga nampak. Aku mencoba menghibur diri; mungkin ia sangat kelelahan, atau mungkin ada urusan mendesak di kebun.

Langkahku gontai menuju tangga pesawat. Namun, tepat sebelum aku benar-benar masuk ke dalam kabin, sebuah pemandangan menggetarkan hati muncul.

Di balik pagar pembatas yang terbuat dari jaring-jaring besi yang kaku, kulihat seorang pria tua duduk sendirian. Itu paman. Ia berdiri dengan payah, lalu mengusap air matanya dengan punggung tangan yang kasar.

Ia melambaikan tangannya tinggi-tinggi ke arahku. Sebuah lambaian yang tidak hanya berarti selamat jalan, tapi juga sebuah restu yang paling murni. Seketika, hatiku terasa teduh. Kehadirannya di balik jaring besi itu menjadi kekuatan besar yang mendekap jiwaku.

Setibanya di Kupang, cuaca terasa lebih terik, namun sambutan teman-temanku terasa menyejukkan. Kami meluncur menuju Oebufu, tempat kami akan beristirahat selama tiga hari sebelum melanjutkan perjalanan menuju Atambua, tempat di mana aku akan menjalani masa formasi selama dua tahun penuh.

Tiga hari di Oebufu menjadi saksi sejarah baru bagiku. Di sini, aku belajar melupakan rindu sejenak dengan tertawa bersama saudara-saudara yang “beda rahim”. Ada kejujuran dan cinta yang tulus di balik kebersamaan kami. Malam-malam kami habiskan dengan berbagi mimpi yang belum ranum lewat kata-kata sederhana namun agung.

“Jangan takut, kamu tidak sendirian. Kita datang sebagai pribadi, namun dalam kebersamaan ini, kita akan membentuk satu komunitas cinta yang utuh,” ujar seorang teman menghiburku. Aku tersenyum sembari menyeruput kopi Kapal Api panas, membiarkan uapnya menghangatkan wajahku. Tiga hari itu adalah waktu yang indah untuk menyatukan variasi narasi hidup menjadi satu cakrawala.

Namun, waktu tidak pernah berhenti menunggu. Bus jurusan Kupang-Atambua melaju kencang menembus jalanan Timor yang berkelok-kelok. Sepanjang perjalanan, pikiranku anehnya terus tertambat pada paman.

Mengapa ia datang tepat di saat terakhir aku hendak naik pesawat? Tanda-tanda apa yang sedang bercerita di balik realitas ini? Aku mencoba menikmati pemandangan sabana di pinggir jalan, namun bayangan lambaian tangan di balik jaring besi itu tetap setia menemani. Setibanya di Nenuk, kami disambut oleh Formator dengan senyum jujur. “Selamat datang di rumah ini,” sapanya singkat. Aku membatin dalam hati, Inilah tempat ‘aneh’ yang pernah kualami.

Di tempat ini, sunyi adalah penguasa tertinggi. Tak terdengar bising kendaraan, yang ada hanyalah desau angin dan detak jantungku sendiri yang terasa nyaring. Hari pertama di biara terasa seperti seratus tahun. Namun, perlahan aku menyadari bahwa keindahan sering kali lahir dari keanehan. Di tempat ini, aku mulai menimba jejak-jejak kebaruan. Kucoba merakit rutinitas doa dan kerja menjadi rumah kediamanku yang baru.

“Kuatkan sabuk pengaman imanmu melalui doa dan ekaristi,” tegas pemimpin biaraku dalam sebuah konferensi sore. Hari-hariku kini habis dalam ritme doa, kerja, dan harapan. Doa menjadikanku kuat dari dalam, kerja mematangkan fisikku, sementara harapan menjadi kesimpulan dari mimpi yang sudah kurakit sejak lama. Rumah “aneh” ini perlahan berubah menjadi rumah cinta paling sunyi dan murni.

Novisiat St. Joseph Nenuk benar-benar menjadi bentara kasih Allah yang menguatkanku.
Waktu berjalan tanpa kompromi. Kebahagiaanku di tempat ini semakin mengakar kuat. Aku merasa “terjerat” dalam kenyamanan yang suci, sebuah zona nyaman baru yang membawaku terbang. Aku bahkan merasa tidak ingin pulang. Inilah keanehan baru yang kutemukan, ketika rumah yang awalnya terasa asing kini menjadi tempat yang paling kuinginkan.

Sebelum menyelesaikan masa kanoniku dan beranjak menuju masa missionis, fokus kami hanyalah satu: doa. Doa adalah napas kami.

Namun, saat menginjak tahun kedua, kami mulai diperbolehkan untuk sedikit melihat dunia luar, merasakan “perbedaan” antara dua dunia yang sebenarnya berada di tempat yang sama namun memiliki jiwa yang berbeda.

Hari pertama aku diizinkan keluar biara, aku langsung menuju kota Atambua. Kota itu terlihat sangat ramai, kontras dengan kesunyian biara yang selama ini memelukku. Aku duduk di sebuah warung telekomunikasi, tempat para novis menghirup sedikit udara segar dunia luar.

Kucoba membuka akun Facebook lamaku. Jantungku berdegup kencang. Aku segera mengirim pesan kepada adikku di kampung, menanyakan kabar mereka. Namun, entah mengapa, hatiku terasa sangat berat.

Ada kerinduan yang mendesak terhadap paman. Tanpa menunggu balasan, aku bertanya: “Bagaimana kabar paman? Aku merindukannya.”

Tak ada jawaban untuk beberapa saat. Hening. Ketakutan mulai merayap di nadiku, mendinginkan ujung-ujung jariku. Akhirnya, sebuah balasan muncul di layar:

“Kami minta maaf… paman sudah pergi.”
Duniaku seolah runtuh seketika. Aku sudah menerka maknanya, namun kenyataan itu tetap saja menghujam jantungku.

Pamanku, ayahku, pelindungku, telah tiada. Ia telah pergi jauh ke tempat yang tidak bisa lagi dijangkau oleh pesawat mana pun.

Dan aku menyadari satu hal yang paling menyakitkan: aku tidak akan pernah bisa menagih janjinya. Janjinya untuk membelikanku kamus bahasa Inggris yang baru.

Air mataku jatuh tanpa henti, membasahi meja kayu di wartel itu. Aku hilang lenyap dalam kerinduan yang kini menggantung setinggi gunung. Ia telah pergi sebelum aku sempat membuktikan kepadanya bahwa kamus lama pemberiannya pun sudah lebih dari cukup untuk membuat bahasa Inggrisku mumpuni.

Ternyata, lambaian tangan di balik jaring besi hari itu bukan sekadar selamat jalan. Itu adalah lambaian perpisahan selamanya. Mungkin semesta memang sengaja mengatur agar pertemuan terakhir kami hanya berupa lambaian dari jarak jauh, sebuah pengantar menuju keabadian. Di balik jaring besi itu, ia telah menitipkan doa terakhirnya untukku.

Selamat jalan, paman. Tuhan lebih mencintaimu, dan di sini, di bawah langit Nenuk yang sunyi, aku akan selalu mengenangmu dalam setiap doa dan kata bahasa Inggris yang kuucapkan. Kamu adalah kamus hidupku yang paling sejati.

Alvianus Tay
Previous ArticleAhli: RUU Narkotika Jangan Melemahkan Peran BNN
Next Article Pasokan Air Sumur Bor di Nanga Mbaur Belum Maksimal, Petani Keluhkan Sawah Terancam Kering

Related Posts

Elegi Luka Sang Pemaaf

19 April 2026

Tentang Pintu Kiri dan Pintu Kanan di Surga

19 April 2026

Senja di Atas Batu Sisa

13 April 2026
Terkini

Menteri Transmigrasi RI Serahkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat Translok di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026

Pemkab Manggarai Barat Usulkan Satgas Perizinan untuk Perkuat Pengawasan Usaha

4 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Tinjau Pembangunan Sanitasi dan Lokasi HPL di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Kejari Manggarai Barat Pulihkan Kerugian Negara Rp2,09 Miliar dari Dua Kasus Korupsi

4 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.