Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Terkini

Mediasi Pabrik Porang di Reok Belum Capai Kesepakatan, Warga Tetap Desak Relokasi

1 Mei 2026

Partisipasi Semesta: Semua Berarti Tanpa Terkecuali

1 Mei 2026

Polda NTT Terbitkan SP3 Kasus di Labuan Bajo Usai Mediasi Para Pihak

1 Mei 2026

Inn Room Hotel Hadir di Labuan Bajo, Tawarkan Konsep Hotel Zaman Now

1 Mei 2026

Polda NTT Belum Beri Penjelasan soal Kabar SP3 Kasus Dugaan Mafia Tanah Anggota DPRD Manggarai Barat

1 Mei 2026
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Partisipasi Semesta: Semua Berarti Tanpa Terkecuali
Gagasan

Partisipasi Semesta: Semua Berarti Tanpa Terkecuali

By Redaksi1 Mei 20267 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Andra Geraldo
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Andra Geraldo

Siswa Seminari St Yohanes Paulus II Labuan Bajo

Pendidikan merupakan jalan menuju manusia yang berakhlak dan berintegritas. Ki Hajar Dewantara membeberkan bahwa Pendidikan adalah tuntunan dalam hidup demi mencapai kebahagiaan dan kehidupan yang sebenarnya.

Pendidikan menjadi sebuah jalan agar manusia dapat menjadi manusia, bukan hanya sekedar ada tetapi turut aktif untuk memberikan kontribusi bagi orang lain.

Melalui Pendidikan kita tidak hanya menjadi manusia yang hidup dalam kenyamanan, tetapi berani untuk keluar dan menunjukkan eksistensi sebagaimana manusia yang mempunyai akal budi.

Pendidikan hadir di Indonesia tentu tidak dengan perjuangan yang mudah. Pendidikan lahir dengan munculnya tokoh-tokoh penting yang berjuang untuk memerdekakan Indonesia, bukan hanya sekadar perlawanan atas penjajahan fisik tetapi jauh dari pada itu melawan kebodohan demi membangkitkan daya kritis bangsa.

Tujuannya jelas agar kita tidak terus dibodohi dan jatuh dalam kebinasaan intelektual. Hadirnya salah seorang tokoh penting membawa perubahan itu, demi terciptanya manusia yang berintelektual. Tokoh yang selalu diperingati pada tanggal 2 Mei, yakni R.M. Suwardi Suryaningrat yang lebih dikenal dengan Ki Hajar Dewantara.

2 Mei menjadi sebuah momentum lahirnya Pendidikan di Indonesia. Bukan hanya sekadar formalitas semata, tetapi sebuah permenungan untuk kembali melihat dan membenah diri serta membangun komitmen baru.

Hari Pendidikan Nasional 2026 mengangkat tema “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”. Tema ini menjadi sebuah tanda bahwa Pendidikan tidak hanya dipegang oleh sebagian orang saja, tetapi menyeluruh oleh setiap lapisan masyarakat.

Pendidikan akan menjadi lebih bermakna, ketika semua orang terlibat untuk memberikan kontribusinya masing-masing. Terkadang beberapa oknum berpikir bahwa Pendidikan hanya mempunyai rana di dalam ruangan kelas, tanpa mereka sadari hal itu justru membiarkan kebodohan tetap mengakar dan bertumbuh.

Tidak setiap kita menyadari bahwa Pendidikan bukan hanya soal teori, tetapi jauh dari pada itu hal praktis juga adalah buah dari apa yang kita tahu.

Partisipasi setiap kita dalam memperjuangkan kehidupan dan keadilan merupakan sebuah Pendidikan. Pendidikan bukan hanya sekadar membaca dan menulis, tetapi pengalaman hidup juga merupakan Pendidikan.

Sebagaimana yang diungkapkan John Dewey, Pengalaman adalah guru terbaik. Pengalaman itu menjadi guru, ketika kita mampu menjadikan hal itu sebagai sarana untuk membangun refleksi.

Berbagai paradigma seperti itu semestinya patut kita ubah. Persepsi bahwa Pendidikan hanya berada di ruang kelas mesti diubah menjadi Pendidikan yang menyeluruh yang melibatkan setiap orang untuk berpartisipasi.

Bukan hanya Guru dan Siswa, tetapi orang tua dan masyarakat mempunyai andil penting dalam hal ini. Partisipasi semesta mengajak setiap orang untuk turut memberikan kontribusi, tidak hanya menjadi penonton di tengah dinamika Pendidikan yang tumpang tindih.

Pendidikan tidak bisa bertumbuh dengan hanya beberapa pihak saja, Pendidikan mesti bertumbuh di tengah kehidupan sosio-politik masyarakat.

Hal ini akan menjadi sebuah bukti nyata bahwa Pendidikan mesti diperjuangkan bersama dengan keterlibatan berbagai pihak.

Hal di atas menjadi sebuah gagasan untuk menghantar kita agar kembali melihat Pendidikan yang ada di Indonesia, bukan hanya di dalam ruang kelas tetapi juga realitas yang hidup di tengah masyarakat. Ada beberapa masalah Pendidikan di Indonesia yang perlu kita sadari bersama.

Pertama, metode pembelajaran di dalam kelas. Pembelajaran yang tidak aktif atau hanya berjalan satu arah dari Guru ke murid adalah metode pembelajaran yang tidak dialektis.

Metode pembelajaran yang ideal sebenarnya ialah ketika murid mampu untuk melihat realitas yang sedang terjadi dan menyampaikan pandangannya mengenai realitas tersebut.

Mengajak murid untuk aktif dan tidak monoton, ketika murid diajak untuk berpikir dan berargumen di saat itulah dia belajar untuk mengasa kemampuan berpikir kritis terhadap realitas masalah yang di hadapi.

Metode pembelajaran satu arah membuat murid bermental instan, mereka merasa bahwa semua hal telah diberikan oleh pengajar dan tidak ada daya juang untuk mencari dan mengalinya lebih dalam. Oleh karena itu, ini menjadi sebuah tantangan yang kita sedang hadapi untuk menemukan Pendidikan yang dialektis.

Kedua, takut ketinggalan zaman atau Fear of Missing Out. Berbagai hal telah muncul dari luar, baik itu teknologi maupun budaya. Berbagai hal tersebut masuk dan berkembang untuk memudahkan manusia dan belajar untuk melihat realitas dunia.

Namun hal ini sering kali menyimpang dari nilai idealnya, berbagai pihak sulit untuk memfilter berbagai hal yang muncul dari luar. Akibat dari minimnya daya kritis, kita sering kali terjebak dalam kerangka berpikir yang salah.

Semua hal kita adopsi tanpa memilah yang baik dan buruk, sehingga kita sering kali jatuh dalam budak perkembangan zaman.

Budi Hardiman dalam bukunya yang berjudul “Aku Klik, maka Aku Ada” mengungkapkan, “Alat memang berguna, tetapi perlu kita sadari kita sedang diperbudak olehnya”.

Kita sering kali jatuh dalam arus zaman yang menghantar kita pada kenikmatan hidup semata, mencari eksistensi diri dengan mengikuti perkembangan yang ada.

Kita tidak ingin ketinggalan dari orang lain, baik jika itu berdampak baik tetapi jika tidak akan menghantar kita pada kebinasaan.

Ketiga, bersuara tanpa melihat fakta. Kita sering kali terjebak dalam informasi yang muncul di media sosial tanpa membaca secara menyeluruh dan mengkaji secara mendalam informasi tersebut.

Hal ini menimbulkan berbagai pendapat yang muncul tanpa mengetahui secara jelas informasi yang sedang beredar, terkadang kita sering menyimpulkan sesuatu tanpa mengetahui informasi secara mendalam.

Kita mudah diprovokasi  oleh berbagai berita yang muncul, terkadang hanya melihat judul tanpa membaca keseluruhan informasi. Bahkan kita langsung percaya tanpa memfilter informasi yang beredar dengan tidak mencari tahu secara mendalam informasi yang sedang terjadi, sehingga sering menghantar kita pada kesalahan berpikir.

Ini menjadi sebuah masalah besar ketika habitus ini menjadi sebuah budaya yang terus tumbuh dan bahkan dapat menjadi sebuah banalitas kejahatan. Oleh karena itu, hal ini mesti ditanggapi secara serius oleh berbagai pihak.

Kita mesti sadar berbagai hal yang terjadi mesti dipastikan kebenarannya agar tidak menimbulkan kekeliruan.

Berkaca pada realitas yang terjadi dewasa ini, tentunya diperlukan berbagai solusi yang efektif dalam menanggulangi masalah yang terjadi. Tentu hal pertama yang mesti kita bangun adalah partisipasi setiap orang untuk memberikan kontribusi.

Tidak hanya satu orang yang turut terlibat, tetapi mesti setiap lapisan masyarakat memberikan sumbangsih dengan caranya masing-masing.

Pertama, membangun kelas yang dialektis. Masalah mengenai pembelajaran yang bersifat satu arah mestinya dapat kita ubah dengan membangun kelas yang penuh diskusi.

Berbagai masalah yang membuat murid merasa tidak perlu untuk mengkaji lebih dalam berkaitan dengan materi yang diberikan, membuat mereka sulit untuk meningkatkan daya berpikir kritis.

Ketika pembelajaran dilakukan dengan penuh dialog dengan sendirinya merangsang murid agar turut memberikan pandangan mereka mengenai fenomena yang terjadi, kelas terasa lebih hidup dengan suasana pembelajaran yang penuh diskusi.

Murid dipaksa untuk berpikir dengan berkaca pada masalah yang terjadi. Sehingga dengan hal tersebut menciptakan budaya baru bagi murid untuk terus membaca dan berpikir, karena kita bukan lagi pewaris tetapi kita adalah perintis.

Kedua, meningkatkan daya kritis dengan membaca dan memilah skala prioritas. Kehidupan sosial tidak akan pernah lepas dari perkembangan dunia. Kita tidak mungkin diam, kita mengikuti perkembangan tetapi perlu dibarengi oleh nalar kritis.

Artinya kita juga mengikuti perkembangan dunia, tetapi kita perlu sadar. Sadar siapa kita dan apa tujuan kita. Ketika kita di hadapkan oleh berbagai realitas perkembangan zaman, kita tidak mungkin lari.

Kita mesti menghadapi hal tersebut dengan bijak, membaca dan memilah skala prioritas adalah solusi yang ditawarkan penulis. Membaca mengajak kita untuk melihat apa sebenarnya yang sedang terjadi dan melihat konsekuensi dari setiap tindakan yang kita ambil.

Memilah skala prioritas membuat kita agar pandai menempatkan diri dengan melihat status kita. Jangan sampai kita memprioritaskan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu untuk kita gunakan atau kita konsumsi.

Ketiga, belajar untuk membaca secara menyeluruh dan mengkaji secara lebih mendalam. Berbagai informasi muncul dari luar, berbagai orang terkadang mencari keuntungan dengan menyebarkan informasi yang tidak benar.

Kita sebagai konsumen perlu untuk memilah dengan kritis apa yang sebenarnya terjadi.

Penulis mengajak para pembaca agar membaca secara menyeluruh informasi yang beredar dan mengkaji lebih dalam apakah fenomena itu benar-benar terjadi.

Ini merupakan upaya preventif yang dapat kita cegah agar tidak terjebak dalam berita bohong apa lagi di tengah fenomena penipuan yang semakin merajalela dewasa ini, kita perlu untuk memikirkan segala hal ini dengan daya kritis yang mapan agar tidak diperbudak oleh informasi yang membuat kita menjadi manusia yang tidak berakhlak.

Hardiknas 2026 merupakan momentum berharga untuk kembali mengenang perjuangan lahirnya Pendidikan di Indonesia. Perjuangan yang tidak mudah, mengubah orang untuk menjadi manusia yang manusia.

Setiap kita diajak untuk melangkah bersama menghadapi realitas yang terjadi dewasa ini, bukan hanya dalam ruang kelas, tetapi mesti ditransformasi dalam kehidupan sosial masyarakat.

Kiranya tulisan ini menjadi tempat untuk kita dapat melihat kembali masalah yang kita hadapi dan membangun komitmen baru untuk berkembang. Tidak ada kebenaran yang mutlak, semua kita dituntut untuk turut bersuara. Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026. Indonesia Maju!

Andra Geraldo
Previous ArticlePolda NTT Terbitkan SP3 Kasus di Labuan Bajo Usai Mediasi Para Pihak
Next Article Mediasi Pabrik Porang di Reok Belum Capai Kesepakatan, Warga Tetap Desak Relokasi

Related Posts

Dibaptis: Menjadi Altar dan Pintu Kehidupan

25 April 2026

Memahami Kepemimpinan Transformatif sebagai Perjalanan Manusia Secara Holistik

24 April 2026

Memahami Krisis Iklim dan Pendidikan Keadilan Sosial Ekologis

22 April 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.