Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Allah Tritunggal Mahakudus: Persekutuan Ilahi, Manusiawi, dan Ekologis
Gagasan

Allah Tritunggal Mahakudus: Persekutuan Ilahi, Manusiawi, dan Ekologis

By Redaksi31 Mei 20263 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Inosensius Sutam
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

(Minggu MB IX Tritunggal Mahakudus Tahun A; 31 Mei 2026; Kel 34: 4b-6.8-9; Mzm 3:52.53.54.55.56;2 Kor 13:11;13; Yoh 3:16-18)

Persekutuan ilahi, persekutuan manusiawi, selalu berarti persekutuan ekologis. Kasih karunia, damai sejahtera, dan sukacita dari Allah yang berjalan dan menyertai manusia adalah pengalaman historis dan spasial selalu berdimensi ekologis

Oleh: Rm. Inosensius Sutam

1

Tuhan yang Bersatu dan Berziarah Bersama Manusia

Kita merayakan Tritunggal Mahakudus hari ini. Bacaan hari ini menyingkapkan hal itu. Allah adalah Allah persekutuan karena Satu Allah Tiga Pribadi. Allah itu dekat dengan manusia, Ia menyertai kita, dan mengasihi kita.

2

Allah Pengasih Bertemu Manusia, Berjalan Bersamanya

Dalam bacaan pertama, kita mendengar (a) Musa taat pada perintah Tuhan: bangun pagi-pagi, naik ke Gunung Sinai, sambil membawa dua loh batu; (b) Musa menyerukan/memanggil Tuhan, berlutut, dan sujud menyembahNya;  (c) Musa memohon supaya Tuhan berjalan bersama bangsa Israel sambil mengakui kesalahan bangsa Israel dan mohon diampuni. (d) Allah adalah penyayang, pengasih, panjang sabar, dan berlimpah kasih setiaNya.

3

Persekutuan Tritunggal Mahakudus Menyertai Kita

Dalam bacaan kedua, (a) kita diajak untuk bersukacita dan selalu berusaha untuk hidup sempurna; (b) dasarnya adalah (i) Allah sumber kasih dan damai sejahtera; (ii) Allah Tritunggal: kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, kasih Allah Bapa, dan persekutuan Roh Kudus  menyertai kita; (iii) kita mendapat salam dan perhatian dari orang kudus; (c) jalan untuk hidup sempurna adalah (i) menerima nasihat rasul/pemimpin jemaat dan sesama; (ii) hidup sehati-sepikir dan damai sejahtera; (iii) saling memberi salam dengan ciuman kudus.

4

Bapa dan Putra Mengasihi Dunia untuk Menyelamatkannya

Dalam bacaan Injil (a) Allah mengasihi dunia: (i) mengaruniakan dan mengutus Allah ke dalam dunia untuk menyelamatkannya dan memperoleh hidup kekal; (ii) Allah tidak membinasakan dan menghakimi dunia; (b) Manusia harus percaya kepadaNya; (c) yang tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman: (i) Artinya sikap tidak percaya adalah sebuah hukuman, bukan sikap aktif Allah, (ii) itulah sikap menolak terang yang datang ke dunia; (iii) sikap itu adalah perbuatan jahat.

5

Pesan bacaan hari ini untuk kita hari ini berpusat pada sikap Allah terhadap manusia; siapa Allah dalam diriNya.

Pertama, Allah adalah Tritunggal yang bersatu dalam persekutuan kasih dalam diriNya dan dengan manusia. Hal ini ditunjukkan oleh bacaan kedua dan Injil. Karena Allah berada dalam persekutuan Ilahi maka Ia juga mau hidup bersatu dalam persekutuan itu dengan manusia dalam kasih yang sempurna. Karena itulah dalam kasih dan kesetiaanNya, Ia memberi perintah lewat nabi, datang bertemu dengan manusia, mengambil bagian dalam hidup manusia, dan menyertai manusia.

6

Kedua, karena manusia bagian dari persekutuan ilahi Tritunggal Mahakudus, maka Allah tidak menghakimi, tidak membinasakan, dan tidak mengutuk manusia. Ia panjang sabar, pengasih, setia, Ia adalah terang dan melimpahkan damai sejahtera kepada manusia.

7

Ketiga, sikap yang tuntut dari manusia adalah sikap yang ditunjukkan oleh masing-masing pribadi ilahi dalam persekutuan Tritunggal. Sikap itu adalah percaya kepada Allah dan sesama, sehati dan sepikir, saling memberi salam, mengakui kesalahan dan saling memaafkan. Dengan itu manusia berhasil membangun persekutuan dengan sesama dan dengan Allah.

8

Keempat, dimensi ekologis bacaan hari ini adalah batu, gunung, awan, dunia, terang. Allah mewahyukan diri dan bertemu manusia, dan sebaliknya manusia yang berdoa kepada Tuhan bukan di ruang kosong tetapi di tengah alam dan dengan tanda alam.Terang Tuhan kita lihat di tengah alam. Artinya persekutuan ilahi, persekutuan manusiawi, selalu berarti persekutuan ekologis. Kasih karunia, damai sejahtera, dan sukacita dari Allah yang berjalan dan menyertai manusia adalah pengalaman historis dan spasial selalu berdimensi ekologis. Mari mengasihi alam.

Ino Sutam Inosensius Sutam
Previous ArticleRezim Kebenaran Michel Foucault dan Tugas Intelektual Publik
Next Article Ijazah Boleh Usang, Kapabilitas Tetap Bertahan

Related Posts

Kesuburan  “Tanah” Hidup: Sinergi Sabda, Hati, dan Kelestarian Ekologis

12 Juli 2026

Apa yang Tersisa dari Manusia Ketika Artificial Intelligence Meniru Segalanya?

11 Juli 2026

Menakar Prioritas NTT: Antara Berburu Pajak Plat Luar dan Menelantarkan Terminal Tipe B

10 Juli 2026
Terkini

Kompak Indonesia Desak Kejati NTT Supervisi Kasus Dana BOK Puskesmas Benteng Jawa

14 Juli 2026

Dua Siswa SMPN 10 Poco Ranaka Lolos OSN Provinsi, Wakili Manggarai Timur

14 Juli 2026

JPIC OFM dan FORKASI Adukan Konflik Agraria Tonggurambang ke Komnas HAM

13 Juli 2026

Jelang Pelantikan Pejabat, Pemkab Nagekeo Bantah Isu Retaknya Hubungan Bupati dan Wakil Bupati

13 Juli 2026

Kesuburan  “Tanah” Hidup: Sinergi Sabda, Hati, dan Kelestarian Ekologis

12 Juli 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.