Oleh: Fransiskus Bustan
Dosen Universitas Nusa Cendana
Tidak dapat disangkal lagi. Konsepsi berpikir kita sebagai manusia hampir selalu diwahanai melalui pemakaian metafora atau ungkapan metaforis. Pemakaian metafora merupakan bagian dari keseharian hidup kita dalam memandang dan memahami dunia, baik dunia faktual maupun dunia simbolik.
Karena itu, tidak heran jika pakar sosiolinguistik, cabang linguistik yang mengkaji hubungan bahasa dan masyarakat, George Lakoff & Mark Johnson (1980) mengatakan, ‘metaphors we live by’.
Sesuai realitas faktual yang ditemukan dalam tata pergaulan di tengah masyarakat, bentuk metafora yang dipakai beragam. Setiap metafora yang dipakai memiliki karakteristiknya masing-masing yang bercorak khas dan khusus.
Kekhasan sebagai kekhususan pembeda karakteristik metafora yang dipakai bertalian secara maknawi dengan konteks sebagai lingkungan nirkata yang melatari kehadirannya.
Ditilik dari jenis kelas kata yang dipakai sebagai kata inti, salah satu bentuk metafora yang sering dipakai tata pergaulan kita di tengah masyarakat adalah metafora nominal yang ditandai dengan pemakaian nomina sebagai kata inti.
Sesuai jenis nomina yang menjadi kata inti, metafora nominal dapat dipilah dan dibedakan atas metafora manusia, metafora hewan, dan metafora tumbuhan.
Terlepas dari metafora manusia dan metaforan hewan, metafora tumbuhan ditandai dengan pemakaian nama tumbuhan atau bagian dari suatu tumbuhan seperti daun, buah, dan cabang sebagai kata inti.
Salah satu bentuk metafora tumbuhan yang sering dipakai dalam konteks kehidupan kita setiap hari tercermin dalam pribahasa ‘Kacang lupa kulitnya’ berupa kalimat pernyataan yang memuat informasi tentang relasi antara kacang dan kulitnya.
Pribahasa tersebut memang tampak begitu singkat dalam struktur mukaan, namun esensi isinya padat makna konseptual tentang perubahan sikap dan pola perilaku seseorang.
Sesuai konteks yang melatari pemakaian, peribahasa tersebut menyiratkan makna konseptual tentang perubahan sikap dan perilaku orang yang lupa asal-usulnya, orang yang tidak tahu diri, atau orang yang berlagak sombong dan congkak setelah meraih kesuksesan.
Orang yang sebelumnya hidup sederhana atau hidup dalam kondisi serba berkekurangan, namun setelah meraih kesuksesan, dia melupakan orang-orang yang telah membantunya atau dia lupa tempat asalnya lagi karena terbuai kesuksesan.
Orang semacam itu berubah rupa dalam sikap dan pola perilakunya menjadi orang sombong dan tidak lagi menghargai orang lain atau bahkan dia sama sekali melupakan keadaan dan kondisi hidup sebelumnya yang begitu memprihatinkan.
Peribahasa di atas menyiratkan pesan moral agar kita selalu ingat dari mana sedianya kita berasal atau, dengan perkataan lain, kita jangan lupa asal-usul. Selain itu, kita mesti menghargai orang-orang yang pernah membantu kita sekecil apapun bantuan yang diberikan.
Hal tidak kalah penting adalah kita tidak boleh menampilkan sikap dan pola perilaku sombong atau congkak setelah mencapai kesuksesan seperti memiliki kekayaan berlimpah, kedudukan atau jabatan tinggi, dan gelar mentereng.
Beberapa makna konseptual yang tergurat melalui bentuk satuan kebahasaan yang dipakai dalam peribahasa di atas menunjukkan, metafora bukan sekedar majas atau gaya bahasa, tetapi merupakan bagian dari sistem pengetahuan bersifat sosial-kolektif atau milik bersama yang meronai pelangi kehidupan dan tata pergaulan di tengah masyarakat.
Semoga tulisan ini bermanfaat sebagai salah satu bahan refleksi dan introspeksi bagi kita sembari bertanya, apakah kita termasuk komunitas ‘kacang yang lupa kulitnya’ atau komunitas ‘kulit yang dilupakan kacangnya’.

