Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»VOX POPULI»VOX DESA»Desa Lembur: Jejak Sejarah, Prestasi, dan Harapan Baru
VOX DESA

Desa Lembur: Jejak Sejarah, Prestasi, dan Harapan Baru

By Redaksi28 Agustus 20254 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Kantor Desa Lembur, Kecamatan Kota Komba Kabupaten Manggarai Timur (Foto: Staf Desa Lembur)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Borong, VoxNTT.com – Desa Lembur, yang terletak di Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, memiliki catatan sejarah yang panjang dan membanggakan. Dikenal sebagai desa yang bersinar di masa lalu, Lembur pernah meraih prestasi gemilang secara nasional.

Pada tahun 1993, di bawah kepemimpinan Kepala Desa Almarhum Simeon Olang, Desa Lembur meraih penghargaan sebagai desa terbersih dan terpanjang secara nasional. Desa ini membentang lurus sejauh kurang lebih 7 kilometer dan dikelilingi oleh perbukitan yang asri.

Sebagai bentuk penghargaan atas prestasi tersebut, pemerintah memberikan satu unit Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang dikelola langsung oleh desa dan terletak di belakang Kantor Desa Lembur. Sejak saat itu, warga Desa Lembur mulai menikmati penerangan listrik.

Asal Usul Nama dan Sejarah Desa

Nama “Lembur” memiliki latar belakang historis dan budaya yang kuat. Berdasarkan berbagai literatur dan cerita turun-temurun, kata “Lembur” sebenarnya berasal dari kata “Puran” yang berarti air yang tergenang atau rawa-rawa. Kubangan ini tidak pernah kering dan menjadi tempat favorit bagi ternak warga untuk berendam.

Konon, di lokasi puran tersebut pernah terjadi peristiwa tragis yang menimpa seorang warga bernama Bapak Kembung, atau akrab disapa “Mekas” Kembung. Saat sedang mencari kayu bakar, beliau jatuh dari pohon dan meninggal dunia.

Masyarakat Manggarai memiliki tradisi untuk menguburkan orang yang meninggal tidak wajar di lokasi kejadian. Hal ini membuat tempat tersebut menjadi angker dan sering disebut sebagai “puran sengit” oleh warga. Karena keunikan tempat ini, masyarakat pada zaman dulu mulai menyebut lokasi tersebut dengan nama “Lembur”.

Pada masa desa gaya lama, wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Lembur terdiri dari tiga desa, yaitu: Desa Lokom (dipimpin oleh Ambrosius Ndauk), Desa Mbapo (dipimpin oleh Gaspar Japang), Desa Rende (dipimpin oleh Lorensius Djaik, kemudian digantikan oleh Stanislaus Tandang).

Tahun 1968 menjadi awal terbentuknya desa gaya baru, di mana ketiga desa tersebut digabung menjadi satu dengan nama Desa Lembur, diambil dari gabungan nama ketiga desa tersebut. Sejak saat itu, kepemimpinan desa dipegang oleh: 1). Bapak Simon Olang, 2). Bapak Goris Ndoi, 3). Bapak Vinsen Reamur, 4). Bapak Antonius Jelorong, dan
5). Saat ini dipimpin oleh Bapak Yohanes Baos.

Penggabungan tersebut juga diikuti dengan pemekaran menjadi empat dusun: Pandu, Lokom, Rende, dan Mbapo.

Keberagaman Suku dan Sosial Budaya

Desa Lembur dihuni oleh berbagai suku yang hidup berdampingan secara harmonis sambil tetap menjaga adat istiadat masing-masing. Interaksi sosial yang kuat antar suku juga turut membentuk banyak pertalian perkawinan.

Adapun suku-suku yang ada di Desa Lembur antara lain: Weru, Suka, Aghos, Pejek, Kae, Keling,  Waling, Wake, Ngeko, Motu, Mbepi, Pejek Lemok, Roton, Wunas, Todo, Gunung,
Mokel Manus, Nege, Keteng, Pau Keteng, Nguzul, Bebong, Walan, Longga, dan Side.

Kepala Desa Lembur, Yohanes Baos (Foto: Dok. Pribadi)

BUMDes dan Koperasi Merah Putih

Kepala Desa Lembur, Yohanes Baos, menyampaikan bahwa Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Lembur dibentuk pada Tahun Anggaran 2025 melalui mekanisme musyawarah desa yang melibatkan berbagai unsur dari tingkat desa hingga kabupaten.

“Pada Tahun 2025 ini juga BUMDES sudah mendapatkan persetujuan nama bumdes yang diusulkan melalui portal kementerian hukum dan HAM dengan Nama Bumdes: BUMDes LEMBUR BERSERI,” kata Yohanes.

Ia menambahkan, nama tersebut disepakati dalam musyawarah desa. Selaras dengan program Ketahanan Pangan dan amanat Peraturan Menteri Desa PDT Nomor 2 Tahun 2024 serta Keputusan Menteri Desa PDT Nomor 03 Tahun 2025, BUMDes menjadi pelaksana program ketahanan pangan desa. Tujuannya adalah memperkuat produksi pangan lokal, mengurangi ketergantungan pasokan luar, serta meningkatkan ekonomi desa.

Adapun alokasi dana ketahanan pangan Desa Lembur tahun 2025 sebesar Rp229.438.000.

Terkait pembentukan Koperasi Desa Merah Putih, Yohanes menjelaskan bahwa proses pendiriannya mengikuti tahapan sesuai Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025.

“Harapan Pemerintah Desa dan Masyarakat, dengan terbentuknya koperasi desa merah putih ini dapat mengoptimalkan potensi lokal dengan memanfaatkan sumber daya serta penyediaan layanan terpadu pada jenis gerai usaha,” pungkasnya.

Hingga saat ini, Koperasi Desa Merah Putih Lembur telah memiliki pengurus, akta notaris, NIB, NPWP, dan rekening bank.

Deretan Penghargaan Desa Lembur

Sejak terbentuk dari penggabungan tiga wilayah, Desa Lembur telah menorehkan berbagai prestasi, terutama dalam bidang kebersihan dan pemerintahan desa.

Menurut Kepala Desa Yohanes Baos, pada tahun 1993 saat dipimpin oleh Almarhum Simeon Olang, desa ini mendapat sejumlah penghargaan, antara lain: 1). Juara II Lomba Kebersihan Tingkat Nasional, 2). Juara I Lomba Kebersihan Tingkat Provinsi, 3). Juara Harapan II Lomba Pelaksanaan 10 Program Pokok PKK Terbaik, 4). Piala Bergilir Penilaian Tugas Kepala Desa Terbaik.

Pada tahun 2016, di bawah kepemimpinan Antonius Jelorong, Desa Lembur kembali mendapatkan piagam penghargaan juara dua lomba desa, sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Bupati Nomor: HK/137/2016.

Namun sejak 2016 hingga kini, desa ini belum kembali memperoleh penghargaan dalam tata kelola pemerintahan desa.

Data Penduduk dan Pemilih

Jumlah penduduk Desa Lembur saat ini adalah 3.781 jiwa, terdiri dari: Laki-laki 1.743 orang dan Perempuan 2.038 orang

Sementara jumlah wajib pilih dalam pemilu tercatat sebanyak 2.887 pemilih, dengan rincian: Laki-laki 1.423 orang dan Perempuan 1.464 orang

Penulis: Ronis Natom

Desa Lembur Kota Komba Manggarai Timur Matim
Previous ArticleKonferensi Talitha Kum Asia ke-5 Digelar di Jakarta, Perkuat Solidaritas Melawan Perdagangan Manusia
Next Article Tipu Nama dan Mengaku Aparat Negara, Pencuri dari Gianyar Ditangkap di Manggarai Timur

Related Posts

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Perjuangan Mama Martina, Banting Tulang untuk Hidupi Keluarga sembari Rawat Suami Stroke

5 Maret 2026

Profil Desa Paka, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai

4 Maret 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.