Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»SMAS Santo Gregorius Reo Gelar Rekoleksi untuk Guru dan Tenaga Kependidikan
Regional NTT

SMAS Santo Gregorius Reo Gelar Rekoleksi untuk Guru dan Tenaga Kependidikan

By Redaksi28 September 20252 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Kegiatan rekoleksi bagi tenaga pendidik dan kependidikan di SMAS Santo Gregorius Reo dalam rangka memperingati Bulan Kitab Suci Nasional (Foto: Bastian Utu, Guru SMAS Santo Gregorius Reo)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ruteng, VoxNTT.com – Sekolah Menengah Atas Swasta (SMAS) Santo Gregorius Reo menggelar kegiatan rekoleksi bagi seluruh tenaga pendidik dan kependidikan, Sabtu (27/9/2025), sebagai bagian dari peringatan Bulan Kitab Suci Nasional.

Kegiatan ini mengusung tema “Berkarya Dalam Semangat Kasih Sebagai Perwujudan Kemuliaan Hidup”, yang bertujuan memperkuat nilai-nilai spiritualitas dalam komunitas pendidikan Katolik. Rekoleksi tersebut mengambil bacaan dari Injil Yohanes 17:1-8, yang menjadi dasar refleksi untuk menghayati panggilan hidup sebagai pendidik dan teladan dalam lingkungan sekolah.

Kepala SMAS Santo Gregorius Reo, RD. Sunday Cakputra dalam sambutan pembuka menegaskan pentingnya rekoleksi bagi para guru dan tenaga kependidikan.

Menurutnya, kegiatan ini bukan semata-mata sebagai peringatan Bulan Kitab Suci Nasional, tetapi lebih dari itu, menjadi sarana memperkuat semangat kebersamaan dan persaudaraan di antara sesama anggota komunitas sekolah.

“Dalam rekoleksi ini kita akan berdialog sembari menceritakan pengalaman kita masing-masing dalam kaitannya dengan panggilan sebagai guru,” ungkap RD. Sunday dalam sambutannya di hadapan para guru.

Ia juga menekankan, rekoleksi merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kesadaran spiritual dan kualitas iman para pendidik, sehingga dapat menjadi panutan yang baik bagi para siswa.

Sementara itu, RD. Mansuetus Hariman yang bertindak sebagai pemandu dalam kegiatan tersebut, menyoroti pentingnya eksistensi sekolah Katolik dalam menjawab tantangan zaman, sebagaimana disuarakan dalam rekomendasi Sinode.

Ia menyambut baik terselenggaranya kegiatan ini sebagai langkah awal yang positif dalam penguatan identitas kekatolikan di lingkungan sekolah.

“Sinode merekomendasikan agar sekolah Katolik terus dan lebih tampil dalam citra kekatolikan. Citra kekatolikan tidak hanya terlihat dalam simbol-simbol atribut Katolik, nama pelindung ataupun logo yang bersemboyan Praedikamus Christum, tetapi harus lebih terlihat dalam aksi-aksi nyata,” ujar RD. Mansuetus Hariman.

Dalam refleksinya, RD. Mansuetus menekankan tiga poin penting terkait pekerjaan guru sebagai tenaga pendidik. Pertama, bahwa guru dan siswa berasal dari ‘atas’, yaitu dari Bapa.

Kedua, pekerjaan Yesus yang memuliakan nama Bapa menunjukkan bahwa setiap pekerjaan adalah mulia dalam iman, sehingga tidak ada pekerjaan yang dianggap hina. Ketiga, setiap guru dituntut untuk mampu bekerja sama dengan orang lain dalam menjalankan tugasnya.

“Kemuliaan Wajah Allah akan nampak secara meluas di mana-mana apabila kita bersama-sama dengan orang-orang lain maburkan benih-benih perbuatan baik,” ungkap RD. Mansuetus.

Menutup sesi rekoleksi, Pastor Paroki Reo itu merangkum tiga poin penting sebagai kesimpulan.

Pertama, bekerja dalam semangat kasih berarti memiliki ketekunan, kesetiaan, kesabaran, dan pengorbanan. Kedua, setiap pekerjaan berasal dari Allah meskipun sifatnya sementara, namun tetap harus dijalankan dengan tanggung jawab penuh. Ketiga, kerja sama perlu menjadi prioritas utama dalam membangun komunitas yang solid dan harmonis.

Penulis: Berto Davids

Kecamatan Reok Manggarai SMAS Santo Gregorius Reo
Previous ArticleGubernur NTT Dorong HUT ke-60 GKR Jadi Gerakan Ekonomi Jemaat melalui OVOP
Next Article Anarki atau Aspirasi: Dilema Rakyat Indonesia dalam Berdemonstrasi

Related Posts

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026

Perjuangan Mama Martina, Banting Tulang untuk Hidupi Keluarga sembari Rawat Suami Stroke

5 Maret 2026

Rumah Warga di Cibal Barat Ambruk Diterpa Hujan dan Angin Kencang

5 Maret 2026
Terkini

Pengkab Taekwondo Sumba Barat Daya Dukung Ridwan Angsar Jadi Ketua Pengprov TI NTT

6 Maret 2026

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.