Ruteng, VoxNTT.com – Festival Golo Curu Maria Ratu Rosari tahun 2025 resmi digelar dengan mengusung semangat pariwisata religi yang holistik.
Ketua umum panitia festival, Th. Yosefus Nono menjelaskan, kegiatan ini bertujuan untuk memperteguh dan merayakan iman umat melalui berbagai kegiatan spiritual, budaya, ekonomi, hingga sosial.
“Jadi Festival Golo Curu sejatinya ingin mengejawantahkan pariwisata religi yang holistik,” ungkap Yosefus dalam konferensi pers yang digelar di Aula Pusat Pastoral Keuskupan Ruteng (Puspas), Selasa, 30 September 2025.
Festival tahun ini mengusung tema “Ekaristi Transformatif Sumber dan Puncak Kehidupan Gereja”.
Yosefus menyatakan, rangkaian kegiatan akan dimulai pada 1 Oktober 2025 dengan misa pembukaan di Gereja Paroki Ka-Redong, dilanjutkan dengan prosesi ke berbagai paroki di Kota Ruteng.
Ia menjelaskan, sebelumnya, pada 25 September 2025, patung Bunda Maria Ratu Rosari telah diarak meriah dari Paroki Karot menuju Paroki Ketang Rejeng, Kecamatan Lelak, lalu dilanjutkan ke Paroki Cancar, Wangkung, Ngkor, dan Kuwu. Rangkaian prosesi akan mencapai puncaknya pada 7 Oktober 2025 dalam sebuah prosesi akbar dari Gereja Katedral Ruteng menuju Bukit Golo Curu.
“Jadi Festival Golo Curu adalah kegiatan spiritual untuk memperteguh dan merayakan iman umat kepada Yesus Kristus Sang Penebus melalui Bunda-Nya Perawan Maria,” kata Yosefus.
Menurut dia, iman Katolik yang membentuk spiritualitas umat Manggarai perlu dirayakan dengan penuh makna dan partisipasi. Festival ini menjadi wadah selebrasi yang meriah, menyentuh, dan membumi. Iman, lanjutnya, seharusnya tidak hanya menjadi aspek rohani, tetapi juga meresapi seluruh dimensi kehidupan manusia.
Iman juga harus mendorong kesejahteraan masyarakat. Dalam konteks ini, festival menghadirkan pekan pameran UMKM yang dibuka pada 3 Oktober 2025, memperlihatkan bahwa spiritualitas juga menyentuh bidang ekonomi umat.
Lebih dari itu, Yosefus menekankan pentingnya akulturasi antara iman dan budaya lokal.
“Maka selama pekan festival diselenggarakan berbagai pentas seni yang menyajikan keindahan dan keunikan kultural Manggarai yang berpadu dengan atraksi kultural nusantara,” ujarnya.
Aspek ekologi juga menjadi perhatian penting. Pada 5 Oktober 2025 akan diadakan ibadat ekologi yang mencakup pembersihan lingkungan dan penanaman pohon. Dalam kegiatan sosial, festival ini akan menghadirkan aksi karitatif berupa pembagian sembako kepada kelompok rentan (Renceng Mose).
Lebih jauh, Yosefus menjelaskan, devosi masyarakat kepada Bunda Maria Ratu Rosari telah menyatu dengan realitas hidup sehari-hari, termasuk dalam perjuangan ekonomi.
Ia menyebut alam Manggarai sangat cocok untuk menghasilkan kopi berkualitas, yang sejak lama menjadi sumber penghidupan utama masyarakat. Maka, festival ini juga menjadi ekspresi dari kehidupan religius-kultural orang Manggarai yang dibentuk dalam devosi kepada Maria dan tradisi mengolah kopi.
Tarian kolosal dalam karnaval budaya pada 6 Oktober 2025 akan menampilkan lingkaran biji rosario sebagai simbol kesatuan spiritual umat Manggarai dengan yang Ilahi, komunitas adat, dan alam semesta.
“Ritus kopi dalam tari kolosal Maria Ratu Rosari kemudian dibingkai dalam momentum menikmati seribu cangkir kopi yang diikuti oleh aneka kelompok etnis, agama, utusan paroki, dan representasi masyarakat dari segala kelompok usia,” jelas Yosefus.
Ekaristi sebagai Jiwa Festival
Sementara itu, Direktur Pusat Pastoral Keuskupan Ruteng (Puspas), Romo Martin Chen, menjelaskan bahwa Festival Golo Curu 2025 menjadi bagian penting dalam program Ekaristi Transformatif, yang juga menjadi penanda 10 tahun implementasi Sinode III Keuskupan Ruteng (2016–2025).
“Ekaristi adalah sumber dan puncak kehidupan umat beriman Kristiani,” kata Romo Martin Chen.
Ia menambahkan, dalam Ekaristi, umat menimba kekuatan rahmat ilahi yang menginspirasi seluruh aspek kehidupan. Di dalamnya, umat menemukan kebahagiaan sejati dalam perjumpaan dengan Kristus dan Maria, Sang Tabernakel Ekaristi.
“Ekaristi yang menjiwai dan menggerakkan pergumulan nyata umat beriman dalam segala aspek kehidupannya yang ingin dirayakan dan diwartakan dalam festival Golo Curu,” ujarnya.
Festival ini, lanjut Romo Martin, merupakan buah dari kolaborasi erat antara Gereja, Pemerintah Kabupaten Manggarai, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
“Kerja sama jejaring inilah yang kiranya menjadi model kebersamaan Gereja dan Pemerintah serta masyarakat dalam mewujudkan tanah Nuca Lale yang makmur dan bahagia,” imbuhnya.
Ia juga mengajak insan pers untuk turut mempublikasikan kegiatan ini demi memperluas dampaknya bagi kehidupan iman umat.
“Melalui festival Golo Curu kiranya komunitas iman Gereja semakin rekat berpadu (nai ca anggit, tuka ca leleng), kehidupan ekonomi umat semakin sejahtera, keunikan dan kekayaan kultural Manggarai semakin tersebar indah, dan keutuhan ciptaan semakin bersemi di tanah Nuca Lale tercinta ini,” harapnya.
“Dalam dekapan Bunda Maria Ratu Rosari kita mempersembahkan seluruh harapan dan kecemasan serta suka duka umat Allah Keuskupan Ruteng,” tutupnya.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai, Aloisius Jebarut, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk mendukung penuh pelaksanaan Festival Golo Curu.
“Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Manggarai melalui Dinas Pariwisata siap mendukung penuh pelaksanaan Festival Golo Curu Maria Ratu Rosari tahun 2025, yang lidingsektornya ada di Keuskupan Ruteng,” ujarnya.
Menurut Aloisius, dampak dari festival ini sangat besar, terutama dalam mendorong kunjungan wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.
“Festival ini dampak besar bagi kami di Dinas Pariwisata. Dampak itu adalah bagaimana kita mengundang atau mendatangkan wisatawan-wisatawan, baik itu wisatawan asing maupun wisatawan lokal,” ucapnya.
Ia menambahkan, kegiatan semacam ini harus terus dilaksanakan secara berkelanjutan.
“Kami akan terus mendorong dan selalu berkolaborasi dengan Keuskupan Ruteng agar Festival Golo Curu Maria Ratu Rosari, tiap tahun dilaksanakan,” tutupnya.
Kontributor: Isno Baco

