Ruteng, VoxNTT.com – Festival Golo Curu Maria Ratu Rosari 2025 resmi dibuka pada Jumat sore, 3 Oktober 2025, di halaman Gereja Katedral Ruteng. Acara pembukaan berlangsung meriah dengan diawali penampilan drum band dari SMAK Fransiskus Ruteng, dilanjutkan dengan tarian tradisional Tiba Meka dari SMPN 4 Langke Rembong.
Ketua Panitia Festival, Th. Yosefus Nono, dalam sambutannya menjelasakan, tema pastoral Keuskupan “Ekaristi Transformatif, Sumber dan Puncak Kehidupan Gereja” menjadi dasar utama penyelenggaraan festival tahun ini.
Ia menegaskan, festival ini bukan hanya perayaan iman, tetapi juga merupakan pesta rakyat inklusif yang melibatkan berbagai elemen masyarakat lintas agama.
Menurut Yosefus, rangkaian inti Festival Golo Curu meliputi ziarah dan prosesi patung Bunda Maria Ratu Rosari yang akan melewati sejumlah paroki.
“Rutenya dimulai dari Paroki Karot menuju Rejeng, kemudian pass through Paroki Cancar, Rejeng, Wangkung, Ngkor, Kuwu hingga paroki-paroki dalam kota Ruteng,” jelasnya.
Ia menambahkan, puncak acara akan berlangsung pada 7 Oktober 2025. “Puncaknya akan digelar di Bukit Golo Curu pada 7 Oktober, diawali dengan misa akbar di Katedral,” kata Yosefus.
Selama lima hari pelaksanaan, festival ini juga diramaikan dengan berbagai pagelaran budaya di halaman Katedral. Masyarakat disuguhi tarian Caci, musik tradisional, dan atraksi seni khas Manggarai. Sajian utama pada 6 Oktober adalah tarian kolosal Maria Ratu Rosari yang berpadu dengan ritus kopi.
“Festival ini juga mengusung corak kultural, selama 5 hari akan dipentaskan berbagai atraksi budaya seperti tarian caci, dan seni musik lainnya yang akan merupakan kekayaan tradisi masyarakat Manggarai,” ujarnya.
Selain kegiatan budaya dan spiritual, festival ini juga mengangkat nilai-nilai sosial dan ekologi. Pada Minggu, 5 Oktober, panitia akan menggelar ibadat ekologi di Mbaru Wunut, Kelurahan Watu, serta kegiatan karitatif berupa pembagian sembako di Klinik Renceng Mose.
Yosefus menjelaskan, Festival Golo Curu dirancang untuk memperkuat pariwisata berbasis budaya, spiritualitas lokal, dan kepedulian lingkungan.
Ia berharap kegiatan ini dapat mendorong pertumbuhan UMKM dan komunitas seni budaya.
“Semangat Bhinneka Tunggal Ika diwujudkan lewat kolaborasi gereja, pemerintah, masyarakat, dan lintas agama, agar wisatawan dapat menikmati pengalaman religius dan budaya yang unik serta berkesan bagi Manggarai,” ucapnya.
Wakil Bupati Manggarai, Fabianus Abu, turut hadir dan memberikan sambutan. Ia mengatakan, Pemerintah Kabupaten Manggarai menaruh harapan besar agar Festival Golo Curu dapat segera masuk dalam kalender Kharisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Menurutnya, pencantuman dalam KEN penting untuk memperluas promosi pariwisata daerah, meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, khususnya dalam segmen wisata religi dan budaya, serta memberi dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat.
Ia juga mengajak masyarakat Manggarai untuk menghayati nilai-nilai spiritual dalam tindakan nyata di kehidupan sehari-hari. “Mari kita menjadikan momentum ini untuk membangun kesadaran akan pengelolaan sampah, menjaga kebersihan lingkungan sekitar, serta menanam pohon sebagai upaya menjaga kelestarian alam,” ujarnya.
Sementara itu, Uskup Ruteng, Mgr. Sipri Hormat menegaskan, Festival Golo Curu Maria Ratu Rosari merupakan wujud nyata dari sinodalitas Gereja lokal Keuskupan Ruteng.
Ia menekankan pentingnya kebersamaan umat dalam seluruh rangkaian kegiatan, termasuk partisipasi dari pelaku UMKM, seniman, dan budayawan.
“Kita membangun komunio sebagai Gereja, tidak hanya lewat prosesi atau liturgi, tetapi juga melalui solidaritas ekonomi umat dan apresiasi terhadap budaya,” katanya.
Festival Golo Curu Maria Ratu Rosari 2025 dijadwalkan berlangsung hingga 7 Oktober mendatang dan diharapkan menjadi ruang perjumpaan yang mempererat iman, budaya, dan persaudaraan lintas elemen masyarakat.
Kontributor: Isno Baco

