Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Ketika Cinta Tak Dimiliki Lagi
Sastra

Ketika Cinta Tak Dimiliki Lagi

By Redaksi4 November 20252 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Albertus Cangkung 
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Albertus Cangkung

Guru Sejarah di SMAN 3 Cibal 

Di lembah masa yang tersimpan rapi,
kita pernah menulis janji di antara bintang.

Kala itu, malam terasa begitu muda,
dan waktu seolah tak pernah tergesa.

Kau menggenggam tanganku,
mengatakan cinta yang tumbuh dari doa,
bukan dari kebetulan semata.

Namun semesta diam menarik garis takdir,
menyisakan jarak yang tak bisa kita lawan.

Cinta itu dulu seperti gelombang laut,
menghempas keras ke pantai harapan,
mengukir buih di setiap mimpi yang kita bangun.

Tapi angin berubah, arah pun berbeda,
membawa kita ke pelabuhan sendiri-sendiri.

Aku melihatmu dari jauh,
menyusun langkah di jalan yang baru,
sedang aku belajar merelakan,
bahwa mencintai kadang berarti melepaskan.

Waktu berlalu seperti sungai yang tak berhenti,
membawa serpihan kenangan di arusnya.

Ada tawa di antara air mata,
ada doa yang tetap kupanjatkan tanpa suara.

Kita bukan lagi “kita”,
tapi bukan berarti aku menyesal pernah menjadi bagianmu.

Karena di hatiku, cinta itu masih hidup
bukan untuk dimiliki, melainkan untuk dikenang.

Kini, kita menari di kisah yang baru,
membangun bahagia dengan warna berbeda.

Kau mungkin telah menemukan rumah
di hati yang bukan milikku,
dan aku pun belajar bersyukur,
bahwa cinta sejati tak harus berakhir dengan kepemilikan.

Ia cukup hadir, memberi arti,
lalu pergi tanpa menghapus makna.

Dalam setiap senja yang membisu,
kadang wajahmu datang seperti bayangan,
mengingatkanku pada janji yang pernah kita tulis
di antara debur waktu dan cahaya bintang.

Aku tersenyum bukan karena masih luka,
tapi karena aku tahu,
cinta yang pernah ada, tetaplah suci,
meski tak lagi bertaut dalam genggam.

Takdir memutus tali, tapi tak menghapus rasa.

Karena cinta sejati tak selalu jadi “kita”.

Dia menjadi cerita indah yang berharga,
mengajari hati bahwa kehilangan pun bisa damai.

Dalam diam, kita bahagia meski tak bersama.

Dan di antara jeda waktu yang sunyi,
aku masih percaya:
ada cinta yang tak lagi dimiliki,
namun tetap abadi dalam doa yang tak pernah berhenti.

Albertus Cangkung
Previous ArticleRuteng Jadi Tuan Rumah Muscab Empat DPC di Flores, Refafi Gah Yakin Hanura Lolos ke Senayan 2029
Next Article Malam: Antologi Puisi Yosti Ritan

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.