Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»Suku Ana Jogo Minta BPN Nagekeo Tunda Pembayaran Bidang Tanah 186
Regional NTT

Suku Ana Jogo Minta BPN Nagekeo Tunda Pembayaran Bidang Tanah 186

By Redaksi5 November 20253 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Marselinus Lado (Baju Hitam) bersama Ayahnya Donbosko Doko saat meninjau batas tanah suku Ana Jogo yang kini kepemilikannya mulai diklaim pihak lain, Kamis, 5 Juni 2025 (Foto: Patrianus Meo Djawa/ VoxNtt.com)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Mbay, VoxNTT.com – Persoalan kepemilikan tanah antara dua suku di Desa Labolewa, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo,
berpotensi konflik antarsuku jika tidak segera disikapi dengan bijak.

Persoalan ini diduga berawal dari kekeliruan dalam proses identifikasi dan penentuan batas-batas tanah pada peta bidang tanah nomor 186, yang kemudian berujung pada penetapan status kepemilikan yang keliru.

Kedua suku yang terlibat ialah Suku Ebu Dai dan Suku Ana Jogo, yang sama-sama berada dalam wilayah administrasi Desa Labolewa. Wilayah tersebut termasuk dalam kawasan terdampak pembangunan Waduk Mbay (Waduk Lambo).

Pada 5 Juni 2025, Marselinus Lado (60), ahli waris dari Suku Ana Jogo, telah meminta semua pihak untuk tidak melakukan spekulasi maupun klaim sepihak terkait kepemilikan tanah pada peta bidang 186 seluas 1,5 hektare yang berada di lokasi pembangunan Waduk Lambo.

Pernyataan tersebut pernah dimuat dalam berita VoxNtt.com berjudul “Ahli Waris Suku Ana Jogo Tegaskan Kepemilikan Tanah Ulayat di Lokasi Waduk Lambo” pada tanggal yang sama.

Namun kekhawatiran Marselinus kini menjadi kenyataan. Pada Rabu, 4 November 2025, Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kantor Pertanahan Kabupaten Nagekeo, Provinsi Nusa Tenggara Timur, telah menerbitkan surat undangan bernomor AT.02.02/768.53.17/X/2025 kepada pihak-pihak terdampak pembangunan Waduk Lambo untuk menerima pembayaran ganti rugi.

Dalam undangan tersebut, nama Marselinus Lado dan Suku Ana Jogo tidak tercantum sebagai penerima ganti rugi. Sebaliknya, BPN Nagekeo hanya mengundang Suku Ebu Dai sebagai pihak penerima uang ganti rugi atas bidang tanah nomor 186 yang sebelumnya dipersoalkan.

Kepada VoxNtt.com, Marselinus Lado menyampaikan bahwa sejak awal dirinya tidak berniat menempuh jalur hukum, seperti menggugat ke pengadilan.

Menurutnya, persoalan tanah ulayat lebih elegan dan terhormat jika diselesaikan melalui jalur adat dengan mengedepankan asas kekeluargaan. Langkah ini diambil demi menjaga hubungan baik antara kedua suku di masa mendatang.

Karena itu, Marselinus meminta BPN Nagekeo untuk menunda proses pembayaran ganti rugi kepada Suku Ebu Dai serta memberikan ruang bagi kedua suku untuk mencari solusi melalui musyawarah adat.

Ia juga berharap BPN Nagekeo dan pihak-pihak yang terlibat dalam proyek pembangunan Waduk Lambo mendukung upaya mediasi tersebut.

Jika BPN tetap memaksakan pembayaran kepada Suku Ebu Dai, maka Marselinus bersama seluruh anggota masyarakat adat Suku Ana Jogo akan melakukan aksi pemblokiran akses pekerja dan alat berat menuju area pembangunan waduk, terutama ke wilayah peta bidang 186.

“Kita semua mendukung pembangunan waduk. Beri kami ruang untuk bermusyawarah secara kekeluargaan agar pembangunan waduk tidak terganggu, dan hubungan kekeluargaan kami tetap terjaga,” ujar Marselinus.

Ia juga menegaskan, tanah pada peta bidang 186 tersebut merupakan bagian penting dari kehidupan komunitas adat Suku Ana Jogo. Wilayah itu telah lama dimanfaatkan untuk menanam berbagai jenis tanaman pangan dan tanaman umur panjang seperti kelapa dan bambu. Bahkan, sejumlah leluhur mereka dimakamkan di area tersebut.

Menanggapi persoalan ini, Petrus Bala Pattyona, pengacara nasional dari Kantor Hukum Petrus Bala Pattyona dan Rekan di Jakarta, memberikan pendapat hukumnya.

Ia menjelaskan, sesuai Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 39 Tahun 2023 tentang Pengadaan Tanah untuk Kepentingan Umum, proses ganti rugi harus didasarkan pada pendataan pemilik tanah yang sah dan disertai bukti-bukti pendukung.

Menurut Petrus, data kepemilikan tanah tidak dapat dibuat secara tiba-tiba atau dengan paksaan, karena harus dilengkapi dengan data pendukung dari pihak desa, Rukun Tetangga (RT), Rukun Warga (RW), atau keterangan masyarakat yang selama ini mengelola dan berkebun di lokasi tersebut.

“Kalau ada orang datang ke kantor BPN lalu memaksa agar diakui sebagai penerima ganti rugi, tentu akan ditolak. Data awal harus berasal dari pemerintah desa. Apalagi BPN akan tetap berpedoman pada Peraturan Kepala BPN tentang tata cara ganti rugi yang menjadi acuan selama ini,” jelas Petrus.

Terkait keluhan dan permintaan Marselius, VoxNtt.com belum berhasil mengkonfirmasi pihak BPN Nagekeo.

Penulis: Patrianus Meo Djawa 

BPN Nagekeo Nagekeo Waduk Lambo Waduk Mbay–Lambo
Previous ArticleUPT Samsat Manggarai Gencarkan Operasi Penertiban Pajak Kendaraan untuk Dongkrak PAD
Next Article DPRD Kutuk Aksi Premanisme di Kantor BPN Nagekeo

Related Posts

Jejak Skandal AKP Serfolus Tegu: Istri Simpanan, Dugaan Kekerasan hingga Laporan ke Propam

5 Juni 2026

‘Gema Mabar’ Diluncurkan, Pemkab Manggarai Barat Fokus pada Ketahanan Pangan hingga Pariwisata Berkelanjutan

2 Juni 2026

Manggarai Barat Dorong Koperasi Desa Merah Putih Beroperasi Meski Belum Punya Gerai

30 Mei 2026
Terkini

Jejak Skandal AKP Serfolus Tegu: Istri Simpanan, Dugaan Kekerasan hingga Laporan ke Propam

5 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Serahkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat Translok di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026

Pemkab Manggarai Barat Usulkan Satgas Perizinan untuk Perkuat Pengawasan Usaha

4 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Tinjau Pembangunan Sanitasi dan Lokasi HPL di Manggarai Barat

4 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.