Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Spes Non-Confudit
Sastra

Spes Non-Confudit

By Redaksi29 November 20256 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Defri Ngao
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Defri Ngao

Siswa SMA Katolik St. Josef Freinademetz, Tambolaka, Sumba Barat Daya
  

Prolog:
Pergilah engkau pergi
Kau akan temukan dirimu……

Sang penyair pernah menuliskan puisi di di atas kertas putih. Saat itu dia masih asing (belum mengenal siapa dirinya. Ia menyelipkan tulisan itu ke dalam sebuah buku bersampul hitam. Dan mengatakan itu hadiah darinya untuk ulang tahunku yang ke 16. Sembari mengepulkan asap rokok di udara, dia mengatakan kepada dirinya. Siapa aku ini.

Tetapi hari ini, aku akan mati.
Aku tak tahu apakah aku bisa bangkit.
Setelah hampir satu tahun disekap dalam labirin kehancuran mereka mengira aku akan mati. Mereka menutup mataku dengan kain dan membawaku ke sebuah tempat yang sunyi dan gelap.

Aku ingat pembicaraanku dengan Sang penyair. Dia berkata aku tak takut pada gelap. Karena dalam hidup, ada terang dan ada gelap. “Gelap adalah bagian dari alam, “kata penyair. Tetapi jangan sampai kita mencapai titik kelam, karena kelam adalah tanda kita sudah menyerah. Kelam adalah sebuah kepahitan, satu titik ketika kita merasa hidup tak bisa dipertahankan lagi.

Aku tak tahu apakah sekarang aku sedang berada dalam gelap, atau kekelaman…….

Konspirasi alam semesta:
Setiap pagi. Hembusan angin selalu membawa kabar baru, seolah memberi aku dukungan untuk menjalani hari. Aku selalu bertanya siapa aku ini. “Kata kata itu selalu berlabu di dalam benakku”. Aku berjalan di tengah-tengah keraguan hidupku dengan pikiran yang masih sama.

Orang-orang berjalan di bawah matahari pagi, tertawa tanpa  beban dalam menjalani hidup yang tak ada ujungnya. Seorang anak muda yang selalu berjalan  ke sekolah bersamaku menceritakan kehebatan yang dia miliki. Dalam benak aku berpikir apa kehebatan yang harus ku ceritakan padanya? Aku sadar masih memiliki banyak kekurangan.

Aku sering duduk di tepian pantai, memandang biru laut yang luas, dengan asap rokok yang mengepul jauh hingga menyatu bersama awan gemawan. Banyak pertanyaan yang ada di benakku, yang tak pernah ku pikiran. Apa tujuan hidupku? Apakah aku hanya sebuah nama? Apakah jiwaku yang belum menemukan arah?

Terkadang, aku merasa seperti air yang mengalir. Berisik tanpa ada tujuan. Namun setiap kali matahari terbenam aku merasa menemukan jalan dari cahaya itu . Memang benar…. cahaya selalu menyinari di waktu yang tepat.

Harapan:
Suatu Malam, aku bertemu dengan seorang imam muda diosesan. Ia mengajar sekumpulan anak SMA diwilayah tersebut.

Aku tak mengajar Bahasa, menghitung atau menghafal sesuatu. Katanya sambil tersenyum.

Aku hanya coba meyakinkan anak anak bahwa “mereka berharga dan setiap mereka memiliki sesuatu yang harus dibanggakan.” Sahut imam tersebut

Kami duduk bersama di bawah tenangnya hujan yang membasahi halaman gereja. Ia menceritakan tentang murid SMAnya, tentang bagaimana mereka mencari jati diri, dan menyusun suatu harapan yang seringkali menganggu hidup mereka. Imam itu berbisik kepadaku .”SPES NON CONFUDIT” (harapan tidak menghianati hasil)

Aku terdiam, mencoba untuk mencernai kata kata tersebut. Aku memandang Bola mata Imam itu, yang menandakan bahwa akan ada harapan besar yang tumbuh dari situ.

Pertemuanku dengan imam ini telah membuat sebuah pesan tersirat yang mendalam dan sulit dijelaskan. Hari hari berlalu menggoreskan kisah mendalam. Aku merasakan bahwa aku telah menemukan seceraca harapan. Suara angin dan ombak yang berbisik kepadaku: kamu akan menemukan siapa dirimu.

Sebagian diriku yang selama ini telah mati kini telah bangkit kembali dari antara celah-celah keramaian kota. Kini aku mengerti bahwa akan selalu ada perubahan di tengah kehancuran yang terjadi

Dan entah mengapa, hari itu aku merasa sangat bahagia untuk pertama kalinya. Pagi itu aku bangun dengan penuh semangat dan penuh harapan dari dalam diriku. Aku telah memaknai kalimat itu. SPES NON CONFUDIT.

Angin pagi membisikan pesan ke telinggaku”teruslah berjalan dan temukan jati dirimu yang sebenarnya.” Aku menutup mataku dan mendalami kata kata tersebut sembari tersenyum dalam waktu yang lama.

Mencari yang hilang:
Suatu sore, aku menatap sabana yang tergulung jauh. Seorang anak laki-laki bertubuh kekar dan pendek muncul dengan sebuah buku di tangannya. Aku mengenalnya namanya Yohan. Salah satu pengikut dari imam mudah  itu. Imam mudah yang pernah bercerita padaku tentang harapan yang tak kan pernah mati .
“Mengapa kamu mengkuti imam itu.” Tanyaku.

Aku menginginkan satu perubahan dan menemukan tujuan dalam hidupku, aku ingin mencari jati diriku.

Kata- kata tersebut menikam namun hangat.
Aku duduk di tepaian pantai mengahadap laut selatan. Angin bertiup lebih kencang dari biasanya, seakan mengusir aku. Di langit Barat,

Warna jingga menetes seperti darah yang mengalir di atas perban.
“Kau tak pulang?”

Sebuah pertanyaan terdengar di telingaku, aku mencari sumber suara itu. Ternyata suara itu berasal dari dalam diriku.Tetapi aku merasa seperti orang lain yang berada di sampingku.

Aku tak menjawab
“Aku belum pulang……. Karena aku belum yakin punya jawaban Yang bisa ku bawa pulang.
Dadaku berdesir. Suara dari batin yang lama tersembunyi mulai muncul, berjalan tanpa arah. Lalu suara terdengar di telingaku. Bagaimana kalau aku belum menemukan jawabnya?”

Aku mencari suara tersebut. Namun tak kutemukan ujungnya.
Kau harus pulang. Pulang tak selalu butuh alasan. Kadang, pulang itu panggilan.

Langit perlahan berubah warna. Senja jatuh seluruhnya di antara celah- celah kota yang riu, tapi tak membuatku gelap. Mungkin aku mulai terbiasa dengan cahaya yang perlahan pergi.

Angin yang memberi petunjuk.
Malam turun perlahan, seperti selimut tipis yang hangat menutup, tapi tak sepenuhnya.
Aku duduk sendirian di antara hamparan embusan angin sepoi-sepoi basah. Dari. Jauh terdengar suara jangkrik seperti doa panjang yang tak diminta. Tetapi tetap dilantunkan selaras alam. Di tengah kesunyian itu aku tak merasa sendirian, meski tak ada seorangpun di antaraku.

Dari sinilah aku mendengar suara angin yang lewat di telingaku. Suara yang selama ini ingin kudengarkan.Suara itu bukan milik siapapun….. Tetapi milikku sendiri
“Apakah kau sudah menemukan dirimu?”
Suara yang terdengar keras diantara kedua telingaku .

Aku merindukan kepalaku. Dan aku menyadari bahwa musuh terbesarku bukan Dunia tetapi diriku sendiri.

Aku mulai sadar di tempat yang paling sunyi manusia bisa menemukan suara hatinya. Suara yang selama ini dikalahkan oleh kebisingan, ambisi, dan percintaan.

Aku menutup mata dan mengizinkan suara itu berbicara.

Menemukan jati diri (Epilog)
Malam pengujung tahun di kota. Aku menatap langit dan melihat kembang api yang seperti berperang melawan cahaya bintang. Aku mendengarkan suara bukan dari luar tapi dari dalam ingatan.

Seoarang imam deosesan pernah berkata “tidak ada kata terlambat untuk berubah. Semuanya akan menemukan dirinya masing-masing”.

Aku tersenyum kali ini tanpa takut. Aku memejamkan mata dan sabana itu perlahan muncul.

Beberapa air mata jatuh, bukan karena sedih. Tetapi karena aku merasa menemukan diriku yang telah lama hilang.

“Evereybody’s changing”. Lagu itu terdengar di telingaku seperti pesan tersirat yang memberikan sebuah tanda kepadaku.

Hidup tak selamanya harus berjalan dengan lurus tetapi hiduplah untuk mencari jalan yang lurus itu.

Dan pada malam terakhir itu aku menulis pada catatanku: aku sudah menemukan diriku yang telah lama hilang.

Defri Ngao SMA Katolik St. Josef Freinademetz
Previous ArticleKompetisi Marketing Digital PT-PAF di Unika Ruteng Minim Peminat
Next Article Bupati Ende Kenakan Atribut PDIP, Demokrat Minta Klarifikasi

Related Posts

Realita Gelap Pergaulan Bebas di Kalangan Gen Z

1 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026

Kemiskinan di Sumba Barat Daya: Antara Potensi Alam dan Beban Adat yang Mahal

22 Februari 2026
Terkini

Pengkab Taekwondo Sumba Barat Daya Dukung Ridwan Angsar Jadi Ketua Pengprov TI NTT

6 Maret 2026

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.