Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»Lapen Bengkang-Lidang Dibongkar Warga, DPRD: Tak Semestinya Salahkan Kontraktor
Regional NTT

Lapen Bengkang-Lidang Dibongkar Warga, DPRD: Tak Semestinya Salahkan Kontraktor

By Redaksi17 Desember 20254 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Anggota DPRD Manggarai, Dedy Ongkor saat diwawancarai di kediamannya. (Foto: Berto Davids/VoxNtt.com)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ruteng, VoxNTT.com – Proyek pengerjaan Lapisan Penetrasi (Lapen) jalur Bengkang – Lidang – Ling, Desa Compang Ndehes, Kecamatan Wae Ri’i, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) dibongkar warga.

Aksi pembongkaran itu terekam dalam video 1 menit 8 detik yang diperoleh VoxNtt.com, Selasa, 16 Desember 2025, dari unggahan alamat facebook, Bony.

Video tersebut mempertontonkan tangan seorang warga yang mencongkel lapen dengan mudah hingga terkelupas, diduga pengerjaan yang asal-asalan dan berkualitas buruk.

Titik paling terparah yang dibongkar warga itu berlokasi di jalur Lidang menuju Ling.

Pagu dan kalender kerja proyek tersebut belum diketahui secara pasti. Informasi yang diperoleh VoxNtt.com, proyek rehabilitasi itu diduga dikerjakan oleh seorang Kepala Desa di Kecamatan Wae Ri’i.

Menurut keterangan Bony selaku pemilik unggahan, proyek itu berkualitas buruk, baru seumur jagung dikerjakan lapennya sudah retak, terkupas dan mudah dicungkil pakai tangan.

Ia menduga penggunaan suhu panas aspal tidak sesuai dengan spesifikasi teknis pekerjaan lapen.

“Kualitasnya buruk sekali. Saya menduga suhu panas aspal waktu penyiraman tidak sesuai standar, daya rekat dengan batu pecah tidak lengket, sehingga ini belum bisa dikatakan sesuai spesifikasi,” kata mantan Anggota DPRD Manggarai itu.

Ia berharap lembaga penegak hukum menelusuri pengerjaan proyek yang diduga tak sesuai standar spesifikasi itu karena sudah berakibat pada kerugian keuangan negara.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Citra Ayu Purwarini saat dikonfirmasi VoxNtt.com mengaku sudah turun langsung ke lokasi untuk mengecek proyek lapen yang dibongkar warga.

Citra bilang, proyek itu belum PHO dan masih dalam tahap pengerjaan.

Pihaknya juga sudah memerintahkan kontraktor untuk memperbaiki kembali lapen yang terkelupas itu.

“Kami sudah ke lokasi, langsung perbaik tadi, karena memang proyeknya masih pelaksanaan di lapangan,” kata Citra menjawab VoxNtt.com melalui pesan singkat.

Persoalan tersebut pun mendapat tanggapan dari Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Manggarai, Dedy Ongkor.

Menurut dia, persoalan proyek lapen Bengkang-Lidang itu tidak semestinya menyalahi kontraktor.

Kondisi cuaca yang kurang bersahabat harusnya jadi pertimbangan semua pihak.

Untuk itu, ia memberi masukan ke pemerintah agar ke depan kebijakan waktu pelelangan proyek bisa dikakukan sebelum musim hujan.

Sebab, kata Dedy, penentuan jadwal pelaksanaan proyek di musim hujan sangat mempengaruhi kualitas pengerjaan.

Untuk meminimalisasi potensi kerusakan, pemerintah harus memajukan jadwal pelelangan dan pengerjaanya.

Ia mengaku sudah pernah memberi masukan ini ke pemerintah sewaktu rapat paripurna bersama bupati.

“Kami dari demokrat sudah pernah sampaikan ini ke pemerintah agar proses pelelangan proyek khususnya proyek fisik harus dimajukan sebelum musim hujan,” kata Dedy saat ditemui VoxNtt.com, Selasa siang.

Dalam konteks persoalan pengerjaan lapen di Kampung Lidang, menurutnya, hal itu hanya persoalan daya rekat aspal yang dipengaruhi oleh musim hujan.

Hujan turun membasahi lapen yang baru dikerjakan sehingga berdampak pada daya rekat aspal, mudah sekali untuk terkelupas.

“Dampaknya ke situ, daya rekat aspal di batu yang sudah kena air hujan agak berat, susah. Begitu sudah risikonya kalau kerja musim hujan, semua proyek pasti mengalami kendala akibat faktor cuaca di akhir tahun,” ungkap Dedy.

Ia berharap masukan ini mendapat respons baik dari pemerintah agar tahun depan jadwal pelelangannya dilakukan sebelum musim hujan, sehingga saat musim hujan masyarakat sudah bisa menikmati hasilnya.

“Pokoknya tahun depan kami minta pemerintah agar proses tendernya secepatnya mulai bulan Mei bersamaan dengan perencanaan jangka waktu kerja 120 hari, sehingga target waktu bulan Juli sampai Oktober kita sudah bisa action,” ungkap Dedy.

“Selama ini proses pelelangan dan tendernya mulai bulan Juli dan Agustus sehingga banyak pekerjaan yang kurang berhasil karena rentan waktu kalender kerjanya dibuat sampai musim hujan Desember. Kasihan kontraktor yang jadi korban,” tambah Dedy.

Kebijakan memajukan jadwal waktu pelelangan proyek ini sangat penting, selain meminimalisasi dampak buruk juga membantu mempercepat pertumbuhan ekonomi.

Hadirnya proyek-proyek itu, kata Dedy, bisa menciptakan efek positif perputaran ekonomi di masyarakat.

“Dampaknya baik untuk pertumbuhan ekonomi kalau proyek ini cepat dikerjakan, artinya uang APBD yang turun bisa dimanfaatkan langsung oleh para pekerja proyek, para pemasak, para penjual material, para peminjam alat dan lain sebagainya,” pungkas Dedy.

Dedy juga menekankan pentingnya pengawasan Dinas PUPR melalui PPK dan Konsultan agar proses pengerjaan proyek berjalan dengan baik.

Pengawasan bagi Dedy sangat penting, karena selain mengurangi risiko dampak pengerjaan bagi kontraktor, ia juga ingin agar kontraktor dan semua pihak yang terlibat di dalamnya tidak tersangkut masalah hukum di kemudian hari karena pekerjaan.

“Pengawasan itu penting, saya tidak mau mereka terlibat masalah hukum di kemudian hari,” tegas dia.

“Kurang lebih begitu masukan saya untuk pemerintah, semoga tahun 2026 ada kebijakan yang pas untuk para pekerja proyek,” tutupnya.

Penulis: Berto Davids

Dinas PUPR Manggarai DPRD Manggarai Manggarai
Previous ArticleGugatan Praperadilan Ditolak, Penetapan Tersangka Kasus BBM Bersubsidi di Manggarai Dinyatakan Sah
Next Article Kades Woedoa Minta Polisi Usut Dugaan Pemalsuan Dokumen Pengadaan Benih Durian

Related Posts

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026

Perjuangan Mama Martina, Banting Tulang untuk Hidupi Keluarga sembari Rawat Suami Stroke

5 Maret 2026

Rumah Warga di Cibal Barat Ambruk Diterpa Hujan dan Angin Kencang

5 Maret 2026
Terkini

Pengkab Taekwondo Sumba Barat Daya Dukung Ridwan Angsar Jadi Ketua Pengprov TI NTT

6 Maret 2026

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.