Ruteng, VoxNTT.com – Seorang pelajar kelas IX SMP Fransiskus Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, bernama Armendo W. Jeferson (14) mengalami nasib tragis setelah dilaporkan tenggelam di lokasi wisata Air Terjun Tiwu Pai, Wontong, Desa To’e, Kecamatan Reok Barat, pada Minggu, 11 Januari 2026.
Peristiwa itu terjadi di tengah imbauan pengelola agar masyarakat tidak berkunjung ke Air Terjun Tiwu Pai saat cuaca hujan.
Pihak pengelola sebelumnya telah menutup sementara objek wisata tersebut sejak 5 Januari 2026 karena pertimbangan curah hujan yang tinggi dan faktor keselamatan pengunjung.
Pengelola Tiwu Pai, Irenius Andar, melalui akun Facebook miliknya, menyampaikan pengumuman penutupan tersebut kepada publik.
“Pantau terus info terbaru di Facebook Tiwu Pai dan Irenius Anadar. Terima kasih atas perhatian dan pengertiannya. CLOSED. Mohon bagikan. Hormat saya Irenius Andar,” tulis Irenius.
Meski demikian, rombongan pengunjung yang berasal dari SMP Fransiskus Ruteng tetap mendatangi lokasi wisata Air Terjun Tiwu Pai pada Minggu pagi. Dalam rombongan tersebut, Armendo dilaporkan terseret arus deras dan tenggelam.
Hingga Minggu malam, jasad korban belum ditemukan. Aparat TNI dan Polri yang dibantu warga Desa To’e telah melakukan pencarian hingga malam hari.
Pencarian akan dilanjutkan pada hari berikutnya dengan bantuan tim SAR. Selain pencarian, aparat juga melakukan pengamanan lokasi serta mengumpulkan keterangan dari saksi-saksi untuk mengetahui kronologi awal kejadian.
Proses pencarian dilakukan dengan mempertimbangkan faktor keselamatan mengingat medan yang terjal dan arus air yang deras.
Insiden tenggelamnya korban di tengah imbauan larangan berkunjung tersebut memunculkan berbagai tanggapan publik.
Laman Facebook “Tiwu Pai Irenius Andar” dipenuhi komentar warganet yang menyoroti peristiwa tersebut.
Dalam klarifikasinya, Irenius menulis di Facebook, “segala upaya sudah dilakukan agar tidak boleh ada kegiatan dan kata terakhir saya tidak boleh berenang hanya ambil foto saja dan ikuti aturannya. Di luar dugaan mereka sudah ada di kolam dan ada gait kecil informasikan kan tunggu om iren nanti dia jelaskan dan mereka melanggarnya.”
Ia juga menuliskan, “atas nama pribadi dan wisata alam Tiwu Pai Waterfall mengucapkan sangat prihatin dengan insiden ini. Mohon doa dan dukungannya.”
Klarifikasi tersebut mendapat beragam respons dari warganet. Sebagian mendukung Irenius, sementara yang lain mencercanya karena menilai imbauan yang disampaikan tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Salah satu akun menulis,
“Kau yang imbau untuk tidak berkunjung, kau sendiri yang izinkan mereka masuk foto-foto. Kau punya klarifikasi ini mau menghindar diri ka?” Komentar lain menyebutkan, “keluar imbauan tapi masih terima karcis untuk masuk. Yang benar saja anda ini. Jangan menghindar om, ini klarifikasi dianggap mau menghindar diri.”
Hingga kini, unggahan klarifikasi tersebut telah dikomentari ratusan warganet.
Berdasarkan keterangan awal, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 10.30 Wita. Korban bersama teman-temannya bergerak menuju lokasi air terjun setelah sebelumnya bertemu dengan pengelola Tiwu Pai untuk meminta izin masuk.
Saat itu, rombongan diizinkan masuk dengan syarat tidak melompat ke air terjun atau mandi, melainkan hanya untuk berfoto.
Namun, setibanya di tepi air, rombongan tersebut diduga tidak mengindahkan imbauan tersebut. Mereka berganti pakaian dan mandi di sekitar lokasi.
Tidak lama kemudian, rombongan lain berteriak histeris meminta pertolongan setelah salah satu dari mereka hanyut terbawa arus dan tenggelam.
Irenius disebut sempat mendatangi lokasi untuk memberikan pertolongan, namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil.
Penulis: Berto Davids

