Kupang, VoxNTT.com – Gubernur Melki Laka Lena merespons tuduhan Anggota DPRD, Nelson Matara yang menyebut telah merekayasa data kemiskinan dan stunting saat menyampaikan pidato tahunan di Kantor DPRD NTT, Jumat, 20 Februari 2026.
Melki membantah tudingan tersebut dan menegaskan data yang disampaikan pemerintah daerah bersumber dari lembaga resmi statistik.
“Kami terima data itu dari BPS. Kalau kita yakin BPS sudah bekerja dengan baik, maka harusnya data itu betul. Jadi bukan data dari kami,” katanya, Jumat, 20 Februari 2026.
Merujuk data Badan Pusat Statistik, persentase penduduk miskin di Nusa Tenggara Timur pada September 2025 sebesar 17,50 persen. Angka tersebut mengalami penurunan sebanyak 1,10 persen poin terhadap Maret 2025 dan menurun 1,52 persen poin terhadap September 2024.
Menurut BPS, jumlah penduduk miskin pada September 2025 sebesar 1,03 juta orang, menurun 57,09 ribu orang terhadap Maret 2025 dan menurun 76,24 ribu orang terhadap September 2024.
Persentase penduduk miskin perkotaan pada September 2025 sebesar 6,96 persen, menurun dibandingkan Maret 2025 yang sebesar 7,68 persen.
Sementara itu, persentase penduduk miskin pedesaan pada September 2025 sebesar 21,48 persen, menurun dibandingkan Maret 2025 yang sebesar 22,66 persen.
Dibanding Maret 2025, jumlah penduduk miskin September 2025 perkotaan menurun sebanyak 9,31 ribu orang (dari 121,85 ribu orang pada Maret 2025 menjadi 112,54 ribu orang pada September 2025).
Pada periode yang sama, jumlah penduduk miskin perdesaan menurun sebanyak 47,78 ribu orang (dari 966,93 ribu orang pada Maret 2025 menjadi 919,15 ribu orang pada September 2025).
Garis kemiskinan pada September 2025 tercatat sebesar Rp563.052 per kapita per bulan dengan komposisi garis kemiskinan makanan sebesar Rp425.350 (75,54 persen) dan garis kemiskinan bukan makanan sebesar Rp137.702 (24,46 persen).
Pada periode tersebut, rata-rata rumah tangga miskin di provinsi itu memiliki 5,88 anggota rumah tangga, sehingga besarnya garis kemiskinan per rumah tangga secara rata-rata mencapai Rp3.310.746 per bulan.
Selain data kemiskinan, pemerintah provinsi juga merujuk capaian ekonomi daerah. Perekonomian NTT berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku tahun 2025 mencapai Rp148,37 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp82,18 triliun.
Ekonomi NTT tahun 2025 tumbuh sebesar 5,14 persen (c-to-c). Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi tertinggi dicapai oleh perdagangan besar dan eceran serta reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 12,43 persen.
Dari sisi pengeluaran, komponen ekspor barang dan jasa mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 23,13 persen.
Pada triwulan IV-2025, ekonomi NTT tumbuh sebesar 5,34 persen dibandingkan periode yang sama pada 2024 (y-on-y), dengan pertumbuhan tertinggi pada lapangan usaha industri pengolahan sebesar 20,35 persen. Dari sisi pengeluaran, komponen ekspor barang dan jasa tumbuh 26,92 persen.
Adapun dibandingkan triwulan sebelumnya (q-to-q), ekonomi NTT pada triwulan IV-2025 mengalami pertumbuhan sebesar 5,02 persen.
Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha konstruksi sebesar 12,63 persen, sementara dari sisi pengeluaran komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah tumbuh 36,99 persen.
Struktur ekonomi NTT pada 2025 masih didominasi lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan dengan kontribusi 28,58 persen. Dari sisi pengeluaran, ekonomi masih didominasi Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga sebesar 65,16 persen.
Baca di sini sebelumnya: Anggota DPRD Tuduh Gubernur NTT Sembunyikan Data Stunting dalam Pidato Tahunan
Penulis: Ronis Natom

