Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»VOX POPULI»MAHASISWA»GMNI Jakarta Ajukan Nota Keberatan ke Presiden soal Perjanjian Dagang Indonesia–AS
MAHASISWA

GMNI Jakarta Ajukan Nota Keberatan ke Presiden soal Perjanjian Dagang Indonesia–AS

By Redaksi24 Februari 20262 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ketua DPD GMNI Jakarta, Deodatus Sunda pose di depan depan Gedung Kemlu RI, Selasa, 24 Februari 2026 (Foto: HO)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Jakarta, VoxNTT.com – Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPD GMNI) Jakarta resmi melayangkan Nota Keberatan Strategis dan Diplomatik kepada Presiden RI, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia terkait Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat.

GMNI Jakarta menilai ART bukan sekadar perjanjian dagang, melainkan instrumen imperialisme modern atau neokolonialisme yang dinilai berpotensi memiskinkan rakyat kecil dan merongrong kedaulatan agraria nasional.

Ketua DPD GMNI Jakarta, Deodatus Sunda menegaskan, kebijakan tersebut merupakan serangan langsung terhadap ideologi Marhaenisme.

“Marhaenisme menuntut kita untuk berdikari. Namun, ART ini justru meletakkan leher ekonomi rakyat di bawah sepatu boots kapitalisme global,”
tegas Deodatus di depan Gedung Kemlu RI, Selasa, 24 Februari 2026.

“Ini adalah pengkhianatan terhadap cita-cita Bung Karno untuk membebaskan si Marhaen dari pengisapan bangsa atas bangsa.”

GMNI Jakarta menyatakan akan terus menggalang kekuatan massa di akar rumput. “Jika pemerintah tetap memilih menjadi pelayan kepentingan asing daripada pelindung rakyatnya sendiri, maka GMNI akan berdiri paling depan untuk memimpin perlawanan ini.”

Sekretaris DPD GMNI Jakarta, S. Abraham Christian menilai perjanjian tersebut berpotensi memicu gelombang perampasan ruang hidup masyarakat secara sistematis dan menjadi ancaman terhadap cita-cita land reform.

Menurutnya, ART merupakan “surat kematian” bagi upaya reforma agraria nasional. “Bagaimana mungkin kita bicara kedaulatan pangan jika kebijakan ini justru memfasilitasi banjir komoditas pangan impor bersubsidi dari AS?” tukas Abraham.

Ia menambahkan, kebijakan tersebut dapat melemahkan daya tahan petani di pedesaan dan mendorong konversi lahan untuk kepentingan industri energi asing.

Abraham juga menyoroti ketergantungan struktural yang dinilai akan mematikan kreativitas industri nasional.

“Kita dipaksa menjadi pasar, bukan produsen. Kita dipaksa menjadi pengikut, bukan pelopor,” tambah Abraham.

Ia menegaskan, kewajiban membeli alat transportasi dan energi dari AS adalah bentuk penghinaan terhadap kemampuan anak bangsa untuk berdikari secara teknologi.

“Ini jelas melanggar spirit Dasasila Bandung dan Pasal 33 UUD 1945,” ujar Abraham.

Dalam nota keberatannya, GMNI Jakarta merangkum tiga poin utama, yakni dugaan imperialisme ekonomi baru melalui liberalisasi pangan, erosi kedaulatan agraria yang dinilai bertentangan dengan semangat Undang-Undang Pokok Agraria 1960, serta potensi pembatasan kedaulatan politik Indonesia dalam memilih mitra strategis internasional.

GMNI Jakarta juga menyinggung putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat pada 20 Februari 2026 yang menyatakan tarif resiprokal melanggar hukum.

Atas dasar itu, mereka mendesak pemerintah menghentikan ratifikasi ART, mengembalikan kebijakan ekonomi berdikari sesuai gagasan Sukarno, serta mengevaluasi keterlibatan Indonesia dalam lembaga internasional yang dinilai sarat kepentingan geopolitik tertentu. [VoN]

DPR RI GMNI GMNI Jakarta Presiden Prabowo Subianto
Previous ArticleBandara Frans Sales Lega Ruteng Raih Peringkat Pertama KPPN Award 2026
Next Article Wisuda yang Tidak Sekadar Mekar, tetapi Bertumbuh

Related Posts

Julie Laiskodat Sosialisasikan UU Sektor Keuangan di Manggarai, Soroti Bahaya Judi Online

31 Juli 2026

Fandis Nggarang Kritik Dugaan “Cawe-Cawe” Alumni dan Politik Uang dalam Kongres PMKRI

23 Juli 2026

Gubernur NTT Minta PMKRI Tetap Jadi Mitra Kritis Pemerintah

21 Juli 2026
Terkini

Apotek K-24 Resmikan Outlet di Labuan Bajo, Perluas Akses Layanan Kesehatan 24 Jam

4 Agustus 2026

Ketua DPRD Manggarai Timur Minta Agregat Jalan Watu Cie-Deno Dibongkar Jika Tak Sesuai Spesifikasi

4 Agustus 2026

Dua Belas Penundaan Menguji Kemanusiaan Akademik

4 Agustus 2026

ASN di Reok Barat Keluhkan Iuran HUT RI, Camat Sebut untuk Kelancaran Upacara

4 Agustus 2026

Camat Welak Kunjungi Tiga ODGJ di Desa Wewa, Sebut Penanganan ODGJ Jadi Prioritas

4 Agustus 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.