Mbay, VoxNTT.com – Sebanyak 51 relawan dapur Algomerasi milik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kecamatan Wolowae, Kabupaten Nagekeo mengikuti pelatihan penjamahan makanan yang diselenggarakan oleh Yayasan Alpa Graha Titian Harapan di Aula Kantor Camat Wolowae, Sabtu, 7 Maret 2026
Kepala SPPG Wolowae, Maria Oktaviana Sena berkata, fokus materi pada pelatihan adalah kebijakan keamanan pangan siap saji, cemaran pangan dan penyakit bawaan pangan, pemeliharaan lingkungan kerja, pengendalian vektor dan binatang pembawa penyakit, kebersihan dan sanitasi peralatan, higene perorangan, serta tahapan proses produksi siap saji.
Pelatihan yang berlangsung selama satu hari tersebut menghadirkan tenaga ahli gizi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Nagekeo sebagai narasumber utama.
Para peserta diberikan materi mengenai cara penanganan bahan makanan yang higienis, teknik pengolahan yang aman, hingga prosedur penyajian makanan agar tetap layak konsumsi dan tidak terkontaminasi.
Tidak hanya menyasar relawan dapur, kegiatan ini juga melibatkan para suplayer bahan makanan yang selama ini menjadi bagian penting dalam rantai penyediaan pangan di dapur Algomerasi.
Para suplayer diberikan pemahaman mengenai standar pemilihan bahan baku, proses penyimpanan, serta distribusi bahan makanan yang sesuai dengan prinsip keamanan pangan.
Pelatihan penjamahan makanan ini juga merupakan upaya pencegahan agar kejadian keracunan makanan tidak terjadi di wilayah Kabupaten Nagekeo.
Melalui pelatihan ini, Yayasan Alpa Graha Titian Harapan sebagai mitra SPPG di Kecamatan Wolowae berharap seluruh relawan dapur maupun suplayer mampu memahami dan menerapkan prinsip penjamahan makanan yang benar.
Dengan demikian, setiap makanan yang diproduksi tidak hanya bergizi, tetapi juga aman dan sehat bagi masyarakat yang menjadi penerima manfaat program tersebut.
Panitia kegiatan menyampaikan bahwa program ini memiliki tujuan utama untuk memastikan para penerima manfaat memperoleh asupan gizi yang baik melalui makanan yang diproduksi secara higienis.
Para relawan dapur SPPG juga diingatkan bahwa mereka memiliki tanggung jawab moral untuk menyediakan makanan yang aman, sehat, dan layak konsumsi bagi masyarakat.
Sementara itu, di Kabupaten Nagekeo sendiri saat ini baru terdapat sembilan dapur Algomerasi yang telah beroperasi dari target sebanyak 46 dapur.
Sembilan dapur tersebut tersebar di enam kecamatan, dengan Kecamatan Keo Tengah menjadi satu-satunya wilayah yang belum memiliki dapur Algomerasi.
Dari sembilan dapur yang ada, tiga dapur berada di Kecamatan Aesesa. Tiga dapur lainnya tersebar di Kecamatan Mauponggo dan Boawae, sementara masing-masing satu dapur berada di Kecamatan Wolowae dan Kecamatan Nangaroro.
Sebagaimana diketahui, beberapa kasus keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) pernah terjadi di wilayah Nusa Tenggara Timur.
Pada Maret 2026, puluhan penerima manfaat di Kecamatan Inerie, Kabupaten Ngada, dilaporkan mengalami keracunan massal yang melibatkan balita, anak sekolah hingga ibu hamil.
Kasus tersebut memicu desakan Ketua DPRD Ngada agar dilakukan audit menyeluruh terhadap operasional SPPG.
Sebelumnya pada Desember 2025, sebanyak 82 siswa dari SDK Regina Pacis Bajawa dan SDI Waturutu juga dilaporkan mengalami keracunan makanan.
Secara umum, Provinsi NTT tercatat beberapa kali mengalami kejadian keracunan dalam program MBG.
Selain di Ngada, kasus serupa juga pernah terjadi di Kota Kupang yang melibatkan 215 siswa pada Juli 2025 serta di Kabupaten Timor Tengah Selatan pada Oktober 2025.
Penulis: Patrianus Meo Djawa

