Oleh: Florentina Ina Wai
Di sebuah tempat di mana cahaya selalu lembut seperti senja yang tak pernah berakhir, berdirilah sebuah gerbang. Namanya Gerbang Sektor Melati. Udara di sana membawa aroma yang aneh indah. Kemenyan yang sakral, lilin yang tenang, dan entah bagaimana, ada sedikit wangi seblak yang menggoda.
Empat perempuan berjalan beriringan menuju gerbang itu. Kain kafan mereka rapi, seolah baru saja selesai sesi foto untuk feed Instagram. Mereka adalah Lala, Maria, Sisil, dan Theresa. Empat sekawan dari grup WhatsApp bernama ‘Intelijen Jempol Kanan’.
Seorang malaikat berdiri di depan gerbang, memegang tablet transparan yang bercahaya. Matanya menyipit saat melihat data di layar.
“Tunggu,” suaranya lembut namun tegas. “Sistem saya mendeteksi sesuatu yang aneh. Kalian berempat ini… beda server keyakinan. Secara prosedur, kalian seharusnya berpisah di persimpangan tadi, sesuai tembok agama masing-masing. Kenapa kalian masih gandengan tangan?”
Lala, sang pemimpin rombongan, maju selangkah. Hijabnya tetap tegak paripurna, bahkan di ambang pintu surga.
“Aduh, Yang Mulia,” katanya sambil tersenyum. “Di dunia kami memang beda tembok. Tapi kami punya Paspor Kesabaran Kolektif. Kami ini WNI, Yang Mulia! Kami sudah lulus ujian yang lebih berat dari sekadar beda server. Kami selamat dari banjir, macet, dan drama grup keluarga yang isinya hoaks semua.”
Ia menarik napas, lalu melanjutkan, “Kami sudah latihan toleransi lewat cara paling nyata: War Takjil bareng. Kalau sistem Anda mau misahin kami, berarti sistemnya perlu di-update pakai kearifan lokal Konoha.”
Malaikat itu terdiam. Jemarinya mulai menggeser layar tablet, membedah amal mereka satu per satu.
“Maria,” panggil malaikat. “Kamu tercatat sering me-report akun pelakor sampai hilang dari peradaban?”
Maria tertawa kecil, tangan masih mengawetkan aroma sambal terasi di sakunya. “Itu sedekah jariyah, Yang Mulia! Menyelamatkan mental istri sah adalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Instagram.”
Malaikat beralih ke Sisil, yang matanya masih melirik ke arah langit seolah mencari sesuatu. “Sisil, kamu tercatat sering mengetik ‘Info Loker’ di kolom komentar duka?”
“Itu solusi resiliensi ekonomi, Taz!” seru Sisil antusias. “Dan doa ‘Ya Allah sisakan satu yang begini’ di postingan suami orang yang loyal adalah bentuk testimoni bahwa produk Langit memang berkualitas premium.”
Theresa mendapat giliran berikutnya. Ia menggenggam Rosario erat-erat. “Theresa, kamu tercatat galau karena cinta beda agama tapi malah flexing nonton konser maraton?”
Theresa menghela napas puitis. “Dulu di bumi saya sudah cukup menderita nangis di depan pagar gereja karena dia ibadah di seberang tembok yang berbeda, Yang Mulia. Pura-pura bahagia dengan nonton Coldplay sampai Singapura demi harga diri di depan mantan adalah ujian kesabaran tingkat tinggi yang menguras tenaga dan biaya.”
Malaikat terdiam cukup lama. Layar tabletnya tiba-tiba berubah warna menjadi merah-putih. Sebuah notifikasi besar muncul: “PENGALAMAN HIDUP DI KONOHA: LULUS DENGAN PUJIAN.”
“Baiklah,” kata malaikat akhirnya, sambil memberikan stempel besar pada manifes mereka. “Karena di dunia kalian lebih memilih kompak daripada saling menghakimi, dan karena penderitaan kalian sebagai warga negara sudah melampaui batas standar manusia biasa, kalian boleh masuk lewat jalur ‘WNI Satu Frekuensi’. Beda server tidak masalah, yang penting solidaritas jempol kalian juara.”
Gerbang terbuka. Namun alih-alih langsung sujud syukur, Sisil malah mengangkat ponsel gaibnya tinggi-tinggi ke udara.
“Taz! Eh, Yang Mulia!” panggil Sisil protes. “Ini bandwidth surga kecepatannya berapa Mbps? Kok saya mau cek status paket terakhir saya di aplikasi oren belum update? Tulisannya masih ‘Sedang Transit di Hub Akhirat’. Jangan sampai saya kasih bintang satu buat logistik pusat!”
Lala ikut menimpali sambil memperagakan gerakan parodi ala pramugari. “Iya, Yang Mulia. Saya mau upload konten parodi ‘POV: Masuk Surga Jalur Orang Dalam’ kok loading-nya lama? Masa surga kalah sama Wi-Fi warung kopi? Kalau internetnya lemot, nanti kami ghibahnya manual, apa nggak malah berisik?”
Maria hanya bisa geleng-geleng kepala. Dari balik kain kafannya, ia mengeluarkan Sambal Terasi Saset dan Bubuk Cabai Level 30.
“Udahlah, Sis. Fokus makan dulu,” ujar Maria sambil menuangkan sambal ke piring emasnya. “Sesempurna apa pun hidangan di sini, kalau nggak ada sensasi ‘bibir dower’, rasanya kayak ada yang hilang. Ini namanya Sarkasme Lidah WNI: sudah dikasih surga, masih nyari sasetan harga seribuan demi nostalgia rasa penderitaan di bumi.”
Theresa merangkul Lala. Mereka menatap pemandangan Alpen surga yang jauh lebih indah dari Grup Wisata Swiss Batch ke-1000 yang dulu hanya mereka tonton lewat layar ponsel saat dasteran di depan kipas angin.
“Liat kan, La?” bisik Theresa haru. “Ternyata tembok agama itu bisa runtuh cuma gara-gara kita satu frekuensi. Akhirnya kita satu server juga di sini, tanpa perlu ada yang pindah tembok atau login ulang.”
Lala tersenyum, menggenggam erat tangan teman-temannya. “Kita sudah sampai, Th. Bukan karena kita sempurna. Tapi karena kita belajar berjalan bersama, meski beda jalan.”
Surga kini punya warna baru. Merah sambal terasi, wangi kemenyan yang sakral, dan tawa empat perempuan yang tak pernah bisa di-mute oleh hukum alam mana pun.
Di kejauhan, Malaikat Penjaga hanya bisa bergumam lirih sambil menutup gerbang.
“Selamat datang di keabadian… semoga kalian tidak membuat petisi untuk mengganti warna awan menjadi ‘Sage Green’ agar lebih estetik.”
Dan keempat perempuan itu tertawa. Karena mereka tahu, di mana pun mereka berada, di bumi atau di langit, mereka akan tetap menjadi diri mereka sendiri. Mereka berempat, warganet Konoha yang tak pernah berhenti berkomentar, bahkan di pintu surga.

