Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Duka Ulang Tahun Ibu
Sastra

Duka Ulang Tahun Ibu

By Redaksi17 Maret 202611 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Gonsi Kusman
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Gonsi Kusman

Mahasiswa Semester VI Prodi Filsafat Ledalero 

Di kamar ibu, bau antiseptik menusuk hidung. Terasa seolah membalut setiap sudut. Cahaya neon redup, menyinari wajah ibu yang keriput. Garis-garis tipis itu kini semakin dalam.

Ia seolah mengukir peta duka atas pengalaman pahit yang meninggalkan jejak abadi. Aku berdiri di sisi kursi roda ibu. Tubuhku terasa kaku, nyaris membeku.

“Aku tak sanggup lagi menahan duka ini, bu,” bisikku dengan suara parau, tercekat di tenggorokan.

Luka-luka biru itu laksana gigitan ular berbisa, tak henti menjalar di lekuk-lekuk tubuhmu. Tiap denyutnya adalah belati di hatiku.

Ibu mengangkat tangan. Gemetar. Jemarinya kurus seperti ranting kering, meski saban hari begitu kokoh pelan mengusap. Hangat usapannya meneduhkan badai hatiku yang tak usai mengamuk.

“Tak apa, nak,” suaranya rintih, namun kekuatannya tak pernah goyah.

Meski tubuh dirundung luka, jiwa ibu masih tegar serupa pohon beringin tua yang kokoh di tengah hempasan badai.

“Nak! Usiaku tak lama lagi menyapa delapan puluh tahun. Itu sebuah karunia dari Sang Pencipta. Tidakkah kau menghafal sabda Ilahi dalam Kitab Suci, bahwa batas umur manusia tujuh puluh tahun dan jika kuat, delapan puluh.“ Senyum samarnya seolah menolak bayang kematian. Di matanya, tersimpan keikhlasan seorang pejuang yang telah melewati badai ribuan musim.

Di luar jendela, terik matahari perlahan redup. Sedikit lagi tenggelam dalam dingin pelukan petang. Aku mendorong kursi roda ibu ke ruang tengah. Televisi sementara menyala, sedang menyuguhkan berita pilu. Layar kaca itu menayangkan laporan tentang proyek tambang nikel yang menggigit Raja Ampat selepas geotermal menganga di Flores.

“Aduh…. Ngeri sekali,“ ungkap ibu sambil menarik napas panjang. Suaranya terbata-bata seperti daun gugur di angin musim semi.

Ia menatap hutan dibantai alat berat. Matanya membelalak seolah luka bumi itu mencerminkan luka di sekujur tubuhnya sendiri.

“Mau jadi apa bumi ini nanti jika hutan terus dibabat?”

“Seandainya mereka datang ke wilayah kita ini, tanah kita mungkin kena gusur,” balasku. Kekhawatiran itu menyelimuti hati seperti kabut tebal sedang mengepul.

Ibu tersenyum enggan mengulas lebih jauh. Mungkin lapar telah merayu lambungnya. Aku pun mendorong ibu ke sebuah meja kecil lalu menyuapinya sup hangat yang diresepkan dokter. Luka di bibirnya juga belum sembuh. Karena itu, tiap sendok yang menyentuh mulutnya adalah doa yang sedang merindukan pulih.

Usai makan, ia menelan pil-pil pahit. Harapannya samar bahwa ramuan itu akan menyembuhkan luka-lukanya. Tak lama berselang, kantuk merenggut matanya. Ia terlelap di kursi roda. Aku memapahnya ke ranjang. Tubuh itu terasa ringan bak daun kering yang hampir terlepas dari tangkainya.

Sebelum menurunkan kelambu, aku duduk di sisinya. Menatap wajah pucat itu. Tangannya lemas. Keriput di pipinya mengukir lebih dalam. Rambutnya kusam dan kering. Sebagian di sisi kiri kepalanya pun telah rontok.

“Ibu, usiamu memang sedang menari di ambang akhirat, tapi parasmu tetap anggun lebih mempesona dari sinar mentari. Meski lubang-lubang luka berserakan di pipimu, kau tetap ibu, yang tak pernah tamat,” bisikku penuh cinta. Aku tahu, wanita seperti ibu selalu butuh pujian, walau di tengah derita yang paling pahit sekalipun.
Sekitar pukul sembilan malam, ketukan pelan menyapa pintu depan. Aku menduga itu Om Tian, sepupu ibu yang setia. Benar. Om Tian. Sejak ibu jatuh sakit dua tahun lalu, ia datang setiap malam. Bagai bayangan setia, ia bercerita hingga larut meskipun rumahnya jauh. Senter tua di tangannya seolah menjadi saksi bisu dalam perjalanan waktu yang selalu menemani.

“Selamat malam. Ibumu sudah tidur?” sapa Om Tian seperti biasanya, sambil mengelap kakinya di keset.

“Mari masuk, om.”

Aku pun menutup pintu, rapat sekali, sebab waspada terhadap tikus-tikus liar dan licik. Mereka pernah merampok gaun-gaun kesayangan ibu. Beberapa di  antaranya telah tersobek lantaran gigitan mereka. Tak hanya itu, sepuluh ikat ikan kering di tong beras pun lenyap entah ke sarang gelap yang mana. Aku juga tak tahu. Kami pernah memasang jerat tapi mereka masih saja lolos. Sial…!

Malam itu, langit pekat tanpa bintang dan bulan. Jangkrik membisu. Hanya suara kami yang bergema; berdiskusi pilu tentang kondisi ibu yang merosot.
“Yono, sebentar lagi kau akan kuliah,” kata Om Tian. Suaranya berat seperti seorang pejabat menyesal setelah terbuka kedok korupsi.

“Iya, om.”

“Walau tempat kuliahmu tak jauh, tetapi waktumu akan tersita oleh tumpukan tugas. Kau sebaiknya tetap merawat ibu! Belum lagi harta warisan keluarga yang melimpah; tanah dan ternak peninggalan dari mendiang ayahmu.”

Aku terdiam. Dijerat dilema. Kuliah atau mengurus ibu? Jika kuliah, siapa yang menjaganya? Jika aku tidak pergi belajar, bagaimana aku harus mengelola warisan itu tanpa dasar pengetahuan?
“Kalau kau keberatan, fokus saja kuliahmu. Urusan ibu serahkan pada Joko atau Yanto, kedua kakakmu yang telah tamat kuliah itu. Tak ada gunanya mereka terus bergentayangan di bumi rantau,” tambah Om Tian.

Aku setuju. Keesokan pagi, kami menghubungi mereka. Keduanya siap. Namun, Yanto masih sibuk, sehingga Joko duluan datang merawat ibu. Yanto berjanji akan merawat ibu setelah urusannya selesai.

Seminggu kemudian, Joko tiba dari tanah rantauan bersama istri dan dua putranya. Wajah ibu berseri. Harapan berkilau bagai embun pagi. Kedatangan Joko, istrinya, dan kedua cucu kesayangan ibu itu terasa seperti penawar luka. Ibu melihat mereka berjejal bahagia. Sejenak, pucat di wajahnya seketika bersinar penuh kehangatan.

Aku langusung ingat Joko kecil yang selalu menemani ibu memetik bunga bakung di tanah warisan. Tangan kecilnya dulu selalu menggenggam erat tangan ibu. Ia berjanji tak akan pernah meninggalkan ibu. Janji itu kini bergaung di tengah ingatan.

“Bu, aku datang untukmu,” letup Joko memeluk erat tubuh ibu.

“Nak, rindu ini menyiksa,” balas ibu. Air matanya menggenang.

“Jangan khawatir, bu. Aku di sini.”
Joko perkenalkan keluarganya.
“Istri dan kedua putraku ini siap merawatmu.”
Ibu menjadi sangat yakin ketika melihat senyum mereka.

Om Tian berpesan, “Joko, rawatlah ibu baik-baik. Dan, kelola warisan ini dengan hati-hati. Tanah dan ternak ini adalah denyut nadi keluarga kalian. Biaya obat ibu dan kuliah Yono bergantung padanya.”

“Ya, pasti. Aku tanggung semuanya,” janji Joko. Tatapannya meyakinkan.

Kebahagiaan menyelimuti kami. Sebuah harapan baru merekah di tengah duka.

Hari bergulir. Joko merawat ibu lumayan lama. Namun, keadaan ibu tak lekas membaik. Malah luka lebam menyayat lebih ganas. Kepala ibu hampir botak mengerikan bagai reruntuhan hutan yang ditebang habis. Aku masih sibuk di kampus nyaris tak sempat pulang. Joko selalu yakinkan aku lewat telepon: “Ibu membaik, Yono. Kau focus saja kuliah.” Aku terlanjur percaya padanya dan terlalu sibuk membenamkan diri di hadapan tumpukan buku, berharap bisa membawa pulang banyak ilmu.

Saat aku pulang, kebenaran terkuak. Ternyata yang terjadi justru bersimpuh kebohongan besar; tubuh ibu membengkak penyakitan; mulut membisu; dan kaki kirinya pincang oleh luka.

“Paku karat,” kata Om Tian dengan mata berkaca-kaca, “lima tahun lalu, Joko paksa ibumu ke toilet sendirian.”

“Bodoh sekali! Sudah tahu ibu sakit,” pungkasku sambil mengutuk Joko.

Toilet itu di belakang dapur, diakses lewat tangga kayu peninggalan ayah beberapa tahun lalu. Paku itu penyebab, tapi Joko biang keroknya. Ia tahu ibu rapuh; tak sanggup mengurus diri.
Lebih parah lagi, semua warisan habis.

Tanah-tanah yang dulu ayah pertahankan dengan darah dan air mata dari penjajah, telah dijual semuanya oleh Joko. Uang lenyap entah ke mana. Ditambah lagi sebelas hektar lahan yang lain telah dijual ke investor asing untuk dibangun hotel. Hutan yang pernah tumbuh di atas lahan itu pun dibabat sampai rata. Mata air pun mengering.

Hilanglah sumber air bagi beberapa desa di sekitar. Sawah-sawah milik warga di lembah menjadi kering. Padahal, ayah menolak keras untuk menjual tanah, saat krisis terparah melanda sekalipun. Dulu, ayah pernah berkata, “Tanah adalah nyawa. Makanan bisa dicari, tapi tanah sekali hilang tak akan kembali lagi.”
Tak tahukah Joko, bahwa tanah itu adalah satu-satunya kehidupan?

Aku ingat saat ibu masih kuat, ia pernah memegang segenggam tanah basah dari lahan warisan itu.

“Tanah ini seperti tubuhku, nak,” katanya, mata menerawang. “Kalau dijual demi membangun hotel, tak ada lagi kehidupan bagi kita.” Kini, tubuh ibu memang tak berdaya. Tanah itu pun tiada.
Ternyata, Joko menjual semuanya demi keinginan putra bungsunya. Uangnya dipakai untuk gonta-ganti mobil Lamborghini.

Sadis! Ia tega abaikan ibu dan kehidupan banyak orang demi keinginan sang anak. Amarah mendidih dalam dadaku. Kutarik ponsel mencari nama Joko.
“Joko!” Suaraku bergetar, “Kau jual nyawa ayah demi lamborghini anakmu? Demi gengsi anak tolol itu?”

Hening di ujung sana. “Yono, kau tak mengerti….” ucap Joko, membela diri
“Apa yang tak kumengerti? Luka di kaki ibu? Wajahnya yang bisu? Atau tanah yang kini jadi beton? Itu yang tak kumengerti?“ Jawabku, marah.
“Kau telah menghancurkan semuanya!” Panggilan itu terputus meninggalkanku dengan amarah yang membara.

Harapan redup. Aku mengutuk Joko karena ulahnya. Ia gagal mengurus ibu. Wasiat ayah dan janji cinta, kini lenyap di kegelapan pikirannya.
Kabar itu sampai pada Yanto. Mungkin Om Tian yang menyampaikannya. Beruntung urusan Yanto selesai. Dan, ia ingat janjinya.

Dua hari kemudian, Yanto datang. Wajahnya memancarkan duka mendalam. Ia tak tega melihat ibu hancur dan terkulai di ranjang medis. Di depan tubuh ibu yang kaku dan membisu, ia bersumpah, “Aku akan memulihkanmu secepatnya, bu.”

Aku menatap Yanto. Wajahnya memancarkan kesungguhan, tapi hatiku masih digelayuti ragu.
“Akankah sumpah ini jadi nyata atau sekadar pura-pura?” Sejenak aku bertanya dalam hati. “Mungkinkah ia akan berbeda? Atau hanya janji kosong seperti Joko dulu?”

Aku ingat Yanto kecil yang tak pernah mau kotor dan selalu tampak rapi. Kontras sekali dengan Joko yang selalu berlumuran tanah. Tapi janji Joko pun dulu begitu tulus. Apa yang membuat manusia berubah? Atau apakah ada yang tersembunyi di balik kesungguhan itu?

Harta sudah habis. Bagaimana menyembuhkan ibu? Apakah harus merampok di bank? Jangan sampai janji Yanto menciptakan luka baru.
“Bu, jangan takut. Aku rela berkorban demi menyembuhkanmu,” bisik Yanto sambil mencium kening ibu dengan lembut.

Menjelang matahari menepi di kaki langit, napas ibu tersengal. Monitor jantung di samping tempat tidur medis berbunyi nyaring, mengukur setiap sisa-sisa detak yang semakin lemah. Aku, Om Tian, dan Yanto saling memandang. Cemas menyelimuti kami.

Harapan kami mulai terbenam ke dalam pangkuan pilu ketika melihat kondisi ibu yang semakin kritis. Tanpa pikir panjang, Yanto memerintah kami untuk segera mengantar ibu ke rumah sakit swasta. Bayangkan saja, segala harta warisan telah habis dijual Joko, tapi Yanto nekat merawat ibu di rumah sakit swasta dengan biaya setinggi langit.

“Kau gila? Dari manakah kau mendapatkan uang biaya pengobatan ibu? Apakah kita menjual ginjal demi ibu?” Bantahku.
Dilema merancu pikiranku. Namun Yanto tak menjawab. Ia Bersama Om Tian mengankat ibu ke mobil Ambulance.

Setiba di rumah sakit, Yanto menyuruh aku dan Om Tian menjaga ibu. Sedangkan, ia pergi ke rumah Om Donal, sahabat lama ayah. Kebetulan Yanto sudah sangat akrab dengan Om Donal. Aku tahu baik, dulu sebelum ayah meninggal, Yanto selalu diajak oleh ayah setiap kali pergi mengunjungi Om Donal.

Mereka berdua sama-sama hobi bermain catur. Aku pernah melihat Yanto dan Om Donal bermain catur di teras rumahnya, tawa mereka pecah saat salah satu diantaranya kalah. Tapi kali ini, Yanto pergi bukan untuk catur. Ia pergi meminta bantuan biaya.

Tak lama setelahnya, sekitar pukul tujuh malam, Yanto kembali tiba di rumah sakit. Di ruangan Melati, tempat ibu dirawat, raut wajah Yanto tampak seperti prajurit yang kalah di medan perang. Wajahnya merah padam. Matanya berkaca-kaca menahan amarah yang membuncah. Ia menatap tajam ke ibu yang terbaring kaku di atas tempat tidur medis.

“Ada apa gerangan, Yanto?” tanya Om Tian dengan penuh hati-hati. Merasa aura kelam yang memancar dari keponakannya.

Yanto menarik napas panjang. Suaranya tercekat; “Aku kecewa dengan Joko. Dia telah menghancurkan nama baik mendiang ayah dan ibu. Ternyata, Joko pernah mendatangi rumah Om Donal untuk meminjam uang ratusan juta. Sampai sekarang uangnya belum dibayar.

Makanya, Om Donal tak percaya lagi pada keluarga kita untuk memberikan pinjaman. Om Donal trauma dengan janji Joko. Dan dalam waktu dekat Om Donal akan menyita rumah kita sebagai ganti rugi uang yang dipinjam Joko.”

Dunia seketika terasa kiamat ketika aku mendengar berita itu. Rumah, satu-satunya tempat kami bernaung kini terancam. Aku langsung memeluk ibu dengan erat. Mata air di desa sudah mengering dan tanah-tanah warisan telah berganti beton.

“Selamat ulang tahun, bu,” ucapku pada telinga ibu, nyaris tanpa suara. Aku baru sadar, hari ini adalah ulang tahunnya yang ke delapan puluh. Namun, tak ada perayaan. Tak ada kue, tak ada lilin. Hanya penderitaan.

Di sela-sela jari ibu yang dingin, aku selipkan sekuntum bunga mawar yang kujumput di halaman rumah; simbol kecil dari kehidupan yang pernah ada, yang kini rapuh di genggaman. Apakah bunga ini akan tetap segar atau layu bersamamu, bu?
“Bu, aku tak punya kekuatan untuk memulihkanmu. Sekali lagi, selamat ulang tahun yang ke delapan puluh. Selamat memasuki masa penderitaan. Maafkan aku.”

Napas ibu melemah. Monitor jantung memekik memenuhi seisi ruangan. Dokter dan perawat berdatangan, tetapi semua sudah terlambat. Ibu, sang beringin tua akhirnya tumbang. Namun, sebelum matanya terpejam, aku melihat senyum yang samar menari di bibirnya. Aku, Yanto dan Om Tian bediri kaku sambil berdoa di samping ibu. Jika para medis tak sanggup menyembuhkan ibu, barangkali Tuhan akan menjatuhkan mujizat.[*]

Nitapleat, 2025

Gonsi Kusman
Previous ArticlePolisi Gagalkan Penyelundupan 1,7 Ton Minyak Tanah dari Labuan Bajo ke Bima
Next Article Ini Sosok Polisi yang Sujud Memohon Demi Meredam Perang Tanding di Manggarai

Related Posts

Cerpen: Konoha di Pintu Langit

15 Maret 2026

Cerpen: Elegi di Pesisir Watotena

14 Maret 2026

Cerpen: Gerhana di Belanga Nepa

12 Maret 2026
Terkini

Aktivis KontraS Disiram Air Keras, Padma Indonesia: Bentuk Teror terhadap Pembela HAM

17 Maret 2026

“Wajah” Kebenaran dan Kontrol Sosial di Era Digital

17 Maret 2026

Ini Sosok Polisi yang Sujud Memohon Demi Meredam Perang Tanding di Manggarai

17 Maret 2026

Duka Ulang Tahun Ibu

17 Maret 2026

Polisi Gagalkan Penyelundupan 1,7 Ton Minyak Tanah dari Labuan Bajo ke Bima

16 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.