Rahim nyata yang Tuhan berikan kepada manusia adalah alam. Alam adalah kehidupan manusia. Lingkungan hidup adalah salah satu medan perwujudan perjanjian Allah dan manusia. Mari merawat rahim hidup kita, lingkungan hidup kita.
(Minggu Prapaskah V, Tahun A; Jumat, 27 Maret 2026; Yeh 37:21-28; Yer 31:10.11-12b.13; R:10d; Yoh 11:45-56)
Oleh: Rm. Inosensius Sutam
1
Tuhan adalah hidup manusia. Ia menghembuskan udara. Ia mengalirkan air. Menyuburkan tanah. Memberikan cahaya. Menumbuhkan semua untuk manusia. Ia memulihkan manusia. Ia menghidupkannya. Ia membuat semuanya benar, baik, indah, dan kudus. Kedua bacaan hari ini menunjukkan hal ini.
2
Dalam bacaan pertama (Yeh 37:21-28), Tuhan mempersatukan orang Israel, memberikan tanah, menjadikan mereka sebuah bangsa dengan satu gembala, menghapus dosanya, mengadakan perjanjian dengan mereka, mereka menjadi umatNya, Dia menjadi Allahnya yang memberikan mereka berkat dan menguduskannya.
3
Dalam bacaan Injil (Yoh 11:45-56), Allah dalam Yesus mengalahkan kematian. Ia membangkitkan Lazarus. Ia melepaskan Lazarus dari bau busuk dan memberinya wangi kehidupan baru. Ia mengubah kubur menjadi rahim hidup.
4
Bacaan hari ini menyadarkan kita bahwa menyebut Tuhan adalah menyebut kehidupan.
Pertama, Tuhan adalah hidup manusia. Manusia berada dalam telapak tanganNya. Sekian dekatnya Tuhan dengan manusia. Maka ia merasa jauh dariNya. Perasaan jauh itu menumbuhkan kebebasan dan otonomi manusia. Tuhan tidak mau menjadikan manusia seperti robot. Namun sering hal itu merangsang dosa manusia.
5
Kedua, Tuhan adalah rahim hidup manusia. Dia hanya ingin manusia bertumbuh dan hidup. Ia menghidupkannya dari kematian.
6
Ketiga, rahim nyata yang Tuhan berikan kepada manusia adalah alam. Dalam bacaan tadi, kita mendengar setingan ekologis seperti tanah, bangsa, bait. Alam adalah kehidupan manusia. Lingkungan hidup adalah salah satu medan perwujudan perjanjian Allah dan manusia. Mari merawat rahim hidup kita, lingkungan hidup kita.

