Oleh: Matias Aleksandro
Tidak semua gelisah buat kau menyanyi,
Tidak semua bahagia buat kau menari,
Tidak semua sedih buat kau pecahkan cermin,
Tidak semua malu jadi pakaian yang cocok menutupi tubuh kau.
Tidak apa-apa, tanya dijawab dengan entah.
Di jantung kota, gereja selalu penuh kunjungan tiap minggu. Pemazmur di mimbar seperti biasa menebar ayat-ayat (yang bagi orang tua berarti kudus) ritus yang berarti kau diutus.
“Datang menggenapkan. Bukan meniadakan”
Tidak semua dimana-mana buat kau percaya ada satu hari saja, kau menarik rokok sambil melihat kepul asap sebagai masa lalu yang berusaha menjadi bahasa.
Dan tidak setiap hari kau menaati luka kau untuk sebuah kata diam: tidak apa-apa.
2026
Cinta
04.00 AM
Kau terbangun di kamar tidur yang tidak ingin mempercantik diri. Pakaian bertumpuk di kursi plastik coklat. Buku-buku berserakan di lantai. Dua atau lebih nyamuk yang mati di seprei.
Kamar dan kau sama-sama berantakan yang saling menemukan terjaga.
“Setidaknya ini masih punya keteraturan.” Kata seorang yang kau ingat adalah aktor di sebuah drama yang lama sekali kau nonton dan hari ini kata-kata itu datang dan membangunkanmu.
Kau pergi ke dapur, menuju kulkas. Ada kompiang dengan wijen diatasnya. Kau ingin makan satu atau dua atau mungkin lebih selagi orang tuamu belum juga punya cerita sepertimu, terjaga dan berantakan. Kau lihat kompiang itu dingin dan kesepian. Kau bersedih untuknya. Kemudian kau bersedih untuk dirimu sendiri.
Saat kau memakannya kau baru tahu, setidaknya kau butuh cinta dan kau sudah jatuh cinta berkali-kali di semua orang yang kau temui. Tapi kau belum mampu memiliki.
Dan cinta, tidak sederhana yang kau pikir kuat bertahan di dada. Kau perlu membaginya.
Cih! Kau ingin pergi lagi. Ingin memakan satu lagi kompiang. Dingin dan kesepian membuatmu merasa tidur kembali adalah mengutuk diri dengan pertanyaan; mengapa cinta?
10.00 AM
Kau akhirnya tidur dan berusaha mencintai di bait terakhir ini.
2026
File
Ingatan apa lagi yang bisa dijadikan file untuk handphone yang kau pegang sekarang? Seperti menanyakan apa kabar?
Orang-orang terlalu sering memenuhi RAM untuk masa depan yang gelisah. Dan kesedihan tidak mampu menyentuhnya.
Di google kau bisa temukan bait Chairil dengan salin atau screnshoot demi hidup seribu tahun lagi?
Sayangnya, takdir lebih puisi dibanding usia. Lelaki dengan luka itu pergi dari kata-katanya.
Lantas ingatan apa yang kau punya?
Handphone saya selalu penuh kesendirian. Tidak ada yang ramai semacam pesta berisi karaoke dan moke.
Ingatan apa lagi yang bisa dijadikan file untuk handphone yang kau pegang sekarang?
Bertahan. Barangkali bisa membilang itu sebagai doa dan bekerja. Kelak ada hal-hal yang suatu saat selalu saya cintai sampai mati.
2026
Kontemporer
Saya suka puisi. Mencintai sepertinya belum tepat.
Puisi itu pendek,
Seni dengan label cepat saji.
Instan tapi bertele-tele.
Membilang indie tapi seorang sepi.
Dasar anak muda sekarang!
Kata nenek yang usianya tinggal tinta macet dari pulpen milik saya.
2026
Si Pembaca di Kantin
Kantin bukan tempat yang baik bagi kesepian. Penjual hanya tahu bahagia adalah pembeli datang dengan 5 ribu atau 10 ribu di sakunya membeli semangkuk bakso atau sekedar kopi dan rokok. Sebagai mahasiswa dan pembaca buku, saya butuh sepi untuk tahu isi kepala penulis sebelum sepi sendiri membunuh saya dengan penasaran.
Buku yang saya baca pun memiliki kata-kata yang menggambarkan penasaran penulis.
“Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas.”
Sepi yang masing-masing miliki, sebenarnya menyerupai mata pisau. Membunuh kita untuk tahu mengapa kematian adalah permintaan utang cerita dan ending. Tuhan yang rela menjadikan kita serupa dengan-Nya tidak ingin ciptaan yang Dia buat penuh dengan misteri. Tuhan juga membenci penasaran.
Di kantin, orang-orang di sini melarikan diri dari rasa lapar dan melupakan utang mereka. Di kantin, saya tahu tidak ada yang salah, kita Cuma memberi kebebasan untuk tidak lagi sibuk dengan cerita yang mungkin berlibur dari halaman selanjutnya. Seperti tanda titik di buku-buku. Penulis yang saya baca bukunya juga pasti begitu. Mahasiswa juga tahu tidak ada semangkuk bakso atau kopi atau rokok yang menyelamatkan tubuhnya di perpustakaan. Saya yang membutuhkan sepi dan sebuah bacaan juga tidak pernah lagi mengunjungi perpustakaan sejak saya mencuri satu buku. Buku itu sementara saya baca hari ini di kantin.
Manusia, atau barangkali Cuma saya, sadar bahwa ada kutukan yang selalu ditanggung sejak hawa tahu ular beludak itu bukan Cuma memberi jebakan : tanda tanya.
2026
Insomnia
Lelaki itu jatuh cinta. Untuk merayakannya dia meminum kopi. Ia percaya dada yang tiba-tiba berdebar adalah ketika dia menemukan seorang yang cocok untuk cerita kesepian.
Tegukan dan tegukan, membuatnya ingin tenggelam ke dalam gelas. Entah kenangan atau bayangan, kopinya tumpah dan menghitam dalam kamar.
Cinta bisa juga bikin mati. Katanya, di jam 4 pagi.
2026
Rambut Saya Semakin Lebat
Hujan selalu bisa menumbuhkan segala sesuatu yang dia temukan. Bukan hanya rumput di halaman rumah atau daun-daun pohon jati yang kembali ke dahan. Rambut saya juga semakin lebat di bulan-bulan ketika hujan datang mengetuk-ngetuk jendela. “ Tuhan bilang kau orang yang selalu percaya ada kenangan di kepalamu.” Begitulah setiap saat hujan selalu bisa menunda kepergian saya ke salon dan malah mengingat bagaimana hujan terus menumbuhkan segala sesuatu yang dia temukan.
2026
Kalau Cinta Itu Jatuh yang Tak Menyakitkan, Kenapa Kau Menipu Diri untuk Tidak Menyerah
Sebuah film yang saya tonton,
Seorang perempuan membilang seperti ini
Hati manusia itu terbatas dan kita berujung pada rasa-rasa yang mengalah.
Saya mendengarnya, seperti seorang teman, seperti orang yang harus menjaga rahasia,
Dan headset adalah kesepakatan agar ceritanya tak dikuping orang satu rumah.
Agar yang lain tidak perlu tahu sampai bermimpi di tidurnya, kelemahan itu bukan dosa. Kelemahan itu pengakuan.
Dan handphone saya di jam 2 pagi ikut bergabung dengan perasaannya
Sudah berapa jauh kau dengar?
Sudah berapa tahu kau lihat?
Dan saya benda mati yang tidak pernah lepas dari tanganmu
Seperti kau berusaha memberi semuanya
Walau nyatanya
Kaulah yang manusia. Bukan saya.
Di titik di baris sebelumnya adalah cara saya
Menghapus dan menulis berulangkali
Untuk menyangkal atau mengakui
Cinta tidak butuh bahasa
Dia butuh tubuhmu
Untuk menyerah.
2026
Penulis bernama lengkap Matias Aleksandro Sogemaking. Lahir di Maumere, 10 Mei 1999. Alumni Seminari Menengah San Do Minggo Hokeng,Flores Timur, Nusa Tenggara Timur(NTT). Sekarang berdomisili di Kupang, NTT.

