Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Ateis Bertanya: Mengapa Kamu Masih Beriman?
Gagasan

Ateis Bertanya: Mengapa Kamu Masih Beriman?

By Redaksi28 Maret 202610 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Melki Deni
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Melki Deni, S.Fil
Sedang Studi Teologi di Universidad Pontificia Comillas, Madrid, Spanyol

Nyaris setahun kami mengikuti kuliah pilihan “Surat-surat Paulus”, dan “Pengalaman Spiritual Yesus” di Universidad Pontificia Comillas, Madrid.

Saya terkejut setelah mengetahui bahwa seorang ibu sekelas dengan saya adalah ateis. Sebelumnya saya berpikir bahwa dia, seorang suster atau guru agama Katolik. Cara dia bertanya memang berbeda dari yang lain.

Sebelum mulai kuliah sore itu, saya bertanya mengapa, apakah alasan mendasar, dan untuk apa dia mesti menjadi ateis.

Dia menceritakan bahwa sebelumnya dia mempunyai masalah dengan uskup, pastor paroki, dan beberapa imam yang tidak disukainya.

Saya tidak ingin menganalisis lebih jauh apa masalahnya dengan mereka. Itu urusan pribadinya! Dia menjadi ateis, katanya, karena ingin menjadi “yang tidak” (bukan yang anti-) kepada Tuhan (?). Tujuannya adalah membebaskannya dari tekanan masalahnya.

Dia bertanya kepada saya apakah saya pernah mendengar seorang pastor bermasalah, skandal, dan melakukan perbuatan yang tidak mesti dilakukan dan dikatakan. Saya tegaskan, iya, beberapa kali.

Dia bertanya, mengapa saya masih beriman kepada Allah Tritunggal, dan percaya kepada agama dan para pemimpin agama yang bermasalah itu. Saya menjawab dengan bertanya lebih dahulu: Apa sebenarnya yang tidak dipercayai oleh kaum ateis?

Mereka tidak beriman kepada Tuhan atau tidak percaya terhadap ide-ide tentang Tuhan atau sikap etis dan tindakan moral para pemimpin agama?

Beriman dan percaya adalah dua kata kerja yang berbeda, memiliki makna yang berbeda, cara pengkhayatan yang berbeda, dan membutuhkan instrumen yang berbeda. Kepada Tuhan, kita harus menggunakan kata kerja “BERIMAN”, tetapi kita hanya bisa PERCAYA kepada manusia, orang tua, nenek moyang/leluhur, pemimpin agama, politikus, kawan, pengetahuan, keajaiban, binatang, dll.

Saya hanya BERIMAN kepada Allah Tritunggal, bukan kepada Bunda Maria, Santo/Santa, malaikat/malaikat agung, para pastor, uskup, paus, dll.

Saya tidak beriman kepada Kitab Suci, Tradisi, Magisterium Gereja, dan Ajaran Sosial Gereja. Saya tidak beriman kepada agama.

Saya tidak beriman kepada nenek moyang saya, karena nenek moyang saya mungkin jauh lebih berdosa dari saya: bagaimana mungkin nenek moyang saya (yang jauh lebih berdosa daripada saya) dapat mengampuni dosa-dosa saya, menyelamatkan, membebaskan dan dan menyucikan saya?

Tidak lama kemudian dia tanya lagi, mengapa kamu beriman kepada Allah Tritunggal dan yakin bahwa Allah Tritunggal itu ada. Sekali lagi saya memulai penjelasan dengan bertanya: apakah kamu pernah dengar ada yang tidak percaya dengan kematian?

Adakah orang pintar tanpa membutuhkan orang bodoh? Mungkinkah orang kaya tanpa orang miskin? Tetapi tidak dengan itu saya mau katakan Allah Tritunggal menciptakan kematian dan membuat perselisihan atau penggolongan manusia ke dalam kelas-kelas atau tingkat tertentu.

Lalu siapa yang menciptakan kematian? Mengapa kejahatan dan penderitaan harus ada? Mengapa Allah mau menciptakan manusia? Mengapa Allah mau menjadi manusia?

Mengapa Allah mau mati di kayu salib? Mengapa Allah mau menyucikan dosa-dosa manusia? Mengapa Allah harus bangkit dan datang kedua kali kepada para murid dan semua umat manusia?

Kalau ada manusia bisa menciptakan manusia, menyucikan dosa-dosa manusia, dan membangkitkan orang mati, saya beriman kepadanya!

Kalau ada manusia yang bisa berbuat, berbicara dan melakukan seperti yang Yesus lakukan, saya beriman kepadanya!

Karena ibu itu pernah menjadi seorang katolik fanatik, kemudian menjadi ateis tetapi tekun belajar Kitab Suci, Spiritualitas Kristiani, dan Sejarah Gereja, saya mencoba membeberkan hanya BEBERAPA teks Kitab Suci (selain yang diajarkan dalam Tradisi Gereja, ajaran teologis para Bapa Gereja, Katekismus Gereja Katolik, buku-buku teologi, dll., terutama pengalaman iman pribadi saya) yang berbicara tentang mengapa saya harus BERIMAN kepada Allah Tritunggal dan mesti PERCAYA kepada agama, para pemimpin agama, dan semua yang berkaitan dengan agama.

Allah Tritunggal adalah Logos Pencipta. Kejadian 1:1-2: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.” Banyak ahli saintifik, kaum ateis, dan penganut darwinisme mempersoalkan dan menganalisis lebih jauh teks ini, tetapi saya menganjurkanya membaca Gerhard von Rad dalam bukunya “El libro de Génesis”.

Rasul Paulus kepada jemaat di Roma 1:19-23 memberikan kesaksian bahwa Allah menghukum dan menyerahkan umat manusia kepada diri-Nya sendiri, karena manusia telah dengan sengaja dan bersalah berpaling dari-Nya.

Manusia itu fasik dan jahat, dan kefasikan itu bukan sekadar keadaan pasif, melainkan hasil kehendak mereka sendiri. Melalui perilaku mereka yang tidak adil dan sikap menjauh dari Allah, mereka merusak tatanan yang sah dengan menolak hak kedaulatan yang secara kodrati dimiliki oleh kebenaran Allah.

Jelaslah bahwa yang menentukan di sini adalah kehendak yang jahat, sebab pada dasarnya manusia mengetahui siapa Allah itu: karya-karya ciptaan menyatakan Sang Pencipta.

Siapa pun yang memandang dunia dengan mata iman dapat mengenali Pencipta yang tidak kelihatan, kekekalan-Nya, kemahakuasaan-Nya, dan keberadaan-Nya yang absolut.

Manusia memiliki jalan alami menuju pengenalan akan Allah, dan berada dalam tangannya sendiri apakah ia akan menempuh jalan tersebut atau tidak.

Akan tetapi, kemungkinan untuk mengenal Allah dan untuk menanggapi pengetahuan itu secara serius justru berubah menjadi tuduhan terhadap mereka yang mengeraskan hati.

Barang siapa tidak mau memberikan jawaban tanpa syarat terhadap pertanyaan-pertanyaan paling mendasar, sesungguhnya sedang menjatuhkan hukuman atas dirinya sendiri.

Namun justru inilah yang telah ditolak manusia terhadap Allah. Betapapun tinggi aspirasi dan upaya manusia, tanpa Allah pemikiran itu berakhir dalam kegagalan dan tenggelam dalam kegelapan hati yang paling dalam.

Kebijaksanaan manusia menjadi congkak, tetapi “kebenaran-kebenaran” yang saling bertentangan justru meneghinanya.

Manusia yang dengan kehendaknya sendiri dan dengan kekuatannya semata membangun suatu sistem pandangan dunia —yang segera dianggap keliru oleh generasi berikutnya─, menampilkan gambaran yang ironis dalam kepercayaan diri yang naif.

Yang paling mengejutkan ialah bahwa, dengan merendahkan martabatnya sendiri, manusia sujud kepada makhluk yang lebih rendah daripadanya dan melupakan Sang Pencipta demi ciptaan (Ul. 4:16–18; Rm. 1:23).

Dalam berbagai kesempatan Alkitab menegaskan bahwa “tidak seorang pun dapat melihat Allah dan tetap hidup” (Kel. 19:21; 33:20; dan lain-lain). Yudaisme kemudian mengembangkan secara mendalam kesadaran akan transendensi Allah ini; gema pemahaman tersebut juga tampak dalam Perjanjian Baru (Yoh. 1:18; 1Tim. 6:16).

Karena itu timbul persoalan mengenai perantara antara Allah —yang pada hakikat-Nya tidak kelihatan— dan dunia ciptaan. Kolose 1:15-18 menegaskan: “Manusia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dia-lah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.
Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia. Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu.”

Menurut Kej. 1:26 manusia diciptakan menurut gambar Allah, suatu pernyataan fundamental yang menjadi dasar refleksi Paulus dalam 1Kor. 11:7 dan Kol. 3:10.

Kristus di sini dipandang sebagai realisasi sempurna dari manusia menurut rencana Allah, sebagai prototipe sejati, yang mungkin berkaitan dengan spekulasi Yahudi mengenai Adam purba. Namun, manusia pertama tetaplah ciptaan, sedangkan teks Kolose 1:15-18 tadi menampilkan Kristus sebagai pelaku penciptaan.

Rasul Paulus dalam 2Ptr. 3:14–18 menunjukkan bahwa pada masa surat ini ditulis, Petrus dan Paulus —meskipun pernah mengalami ketegangan tertentu di antara mereka (Gal. 2:11–16)— dipandang sebagai sejalan dalam ajaran mereka.

Rasul Paulus menyampaikan pengajarannya berdasarkan kebijaksanaan yang dianugerahkan Allah kepadanya. Rasul Paulus berbicara mengenai pengharapan akan kedatangan akhir zaman. Memang, dalam surat-suratnya terdapat bagian-bagian yang sulit dipahami.

Orang-orang yang tidak berpengetahuan dalam hal keagamaan dan yang tidak teguh dalam iman memutarbalikkan perkataannya demi mendukung gagasan mereka sendiri.

Para penerima surat Kolose 1:15-18 ini, berbeda dengan mereka yang “tidak teguh” dalam iman (bdk. 2Ptr. 3:16: “… orang-orang yang tidak memahaminya dan tidak teguh imannya, memutarbalikkanya menjadi kebinasaann merek sendiri”), memiliki “keteguhan” iman, dan mereka tidak boleh membiarkan diri digoyahkan oleh pengaruh menyesatkan dari ajaran-ajaran palsu mengenai kebebasan dan mengenai anggapan bahwa pengharapan eskatologis tidak lagi relevan. Ajaran ini mengarah pada konsekuensi praktis dari pengharapan akan kedatangan Tuhan (2Ptr. 3:11–13).

Penerima surat, termasuk kita, didorong untuk hidup sedemikian rupa sehingga ketika Yesus datang, kita tidak menolak mereka, melainkan menerima kita “dalam damai,” sebagai pribadi yang “tidak bercacat dan tidak bercela” (1Ptr. 1:19), dan dengan demikian kita layak memasuki dunia baru yang dijanjikan.

Terhadap para pastor yang melakukan kesalahan, skandal, dan dosa, saya tidak pernah berpikir bahwa itu dosa gereja universal. Itu dosa pribadinya. Itu tidak ada kaitannya sama sekali iman saya.

Bahkan tanggung jawab iman saya adalah mendoakannya, bukan mengutuknya lalu mengatakan saya lebih kudus, suci dan murni daripada saya lainnya. Kalau saya mendeklarasi diri sebagai yang paling suci, kudus, dan murni, saya sudah melakukan dosa besar.

Bagaimana mungkin saya berdoa dan beriman teguh sambil mengutuk dan menghitung dosa-dosa orang lain? Ada dosa sosial yang mengharuskan saya berbicara, menegur, mengkritik, dan mempersoalkannya di ranah hukum.

Beberapa masalah dan skandal besar dalam gereja tidak mengganggu iman saya akan Allah Tritunggal. Kalau ada Allah lain yang jauh lebih dahsyat daripada Allah yang saya imani, saya melarikan diri dan menyembah Allah itu.

Tetapi saya ingat Yunus: meskipun Yunus ingin lari dari panggilan Allah yang saya imani, namun Allah menggunakannya untuk menjadi pewarta dan pemberi saksi tentangNya. Tentang dosa, Paulus menulis kepada jemaat di Roma (7:15,17-20): “Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. Kalau demikian bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku. Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku.”

Sejarah Gereja adalah sejarah menguduskan, memanggil kembali yang berjalan di luar jalan keselamatan, dan yang hidup di luar kehendak Allah.

Rasul Paulus ditobatkan (dan menobatkan diri) dari penganiaya umat Allah itu menjadi Rasul Internasional, bahkan dengan tegas mengatakan: “Celakalah aku, jika aku tidak mewartakan Injil” (1 Kor. 9, 16). Bagi Rasul Paulus, sebagai rasul dan gembala jiwa-jiwa, hanya ada satu tujuan utama: memenangkan manusia bagi Kristus (1Kor. 9:19).

Segala sesuatu yang lain ia tempatkan di bawah orientasi soteriologis ini. Meskipun ia bebas di dalam Kristus dan tidak berada di bawah ketundukan siapa pun, ia dengan sengaja menjadikan dirinya hamba bagi semua orang, supaya ia dapat memenangkan sebanyak mungkin orang.

Setelah menjelaskan itu selama kurang lebih 10 menit, dia meminta saya merekomendasikannya buku-buku apa saja yang bisa dibacanya untuk mendalami imannya. Saya merekomendasikannya buku-buku dari Simone Weil.

Simone Weil, filsuf, mistikus, dan gnostik Prancis itu memahami sangat baik tentang agama Katolik, Sakramen-Sakramen dalam Gereja, ajaran para Bapa Gereja, dan makna manusia universal. Lalu kami masuk kelas lagi.

Di dalam kelas saya menyimpulkan begini: Semua kaum ateis salah kaprah. Mereka sebenarnya hanya menolak percaya kepada seluruh ide tentang Tuhan, bukan Tuhan itu sendiri.

Bagaimana dia bisa TIDAK percaya terhadap seseorang atau sesuatu yang ia sendiri TIDAK kenal, TIDAK tahu, TIDAK paham? Kaum beriman TIDAK hanya percaya kepada Tuhan, dan ide-ide tentang-Nya, TETAPI juga beriman kepada-Nya.

Kaum beriman TIDAK beriman kepada ide-ide tentang Tuhan, TETAPI kepada, di dalam, oleh, dan dari Tuhan karena mereka mengenal, mengetahui, mengalami dan memahami bahwa Tuhan adalah subjek-realitas yang jauh dari ide-ide manusia tentang-Nya. Kalau Tuhan sama dengan dan harus sesuai seperti ide-ide manusia, itu, bagi saya, bukanlah Tuhan tetapi ciptaan manusia.

Melki Deni
Previous ArticleMenikmati Refrein Lagu yang Seolah Berdoa, Mari Jalani Hari Ini Sampai Pagi Lagi
Next Article Menyiapkan Punggung Kehidupan untuk Raja Damai            

Related Posts

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026

Lagu MBG: Ketika Rakyat Berbicara lewat Nada

2 Juni 2026

Pancasila Sebagai Identitas Nasional: Menjaga Jiwa Indonesia di Tengah Arus Zaman

1 Juni 2026
Terkini

Menteri Transmigrasi RI Serahkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat Translok di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026

Pemkab Manggarai Barat Usulkan Satgas Perizinan untuk Perkuat Pengawasan Usaha

4 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Tinjau Pembangunan Sanitasi dan Lokasi HPL di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Kejari Manggarai Barat Pulihkan Kerugian Negara Rp2,09 Miliar dari Dua Kasus Korupsi

4 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.