Borong, VoxNTT.com – Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Manggarai Timur, Pranata Kristiani Agas, mengungkapkan sebanyak 2.870 keluarga di daerah itu masuk kategori berisiko stunting dan akan didampingi melalui program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING).
Kristiani mengatakan, jumlah keluarga berisiko stunting di Manggarai Timur tergolong tinggi. Dari total keluarga tersebut, terdapat sekitar 10 ribu balita yang mengalami persoalan gizi.
“Artinya jika ini tidak ditangani secara serius, akan menambah angka prevalensi stunting,” jelas Kristiani di sela kegiatan sosialisasi program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) di Aula Kantor Bupati Manggarai Timur, Senin, 27 April 2026.
Menurut dia, selama ini penanganan stunting lebih banyak difokuskan pada anak yang sudah mengalami stunting, sementara akar persoalan dari keluarga berisiko belum ditangani secara maksimal.
“Seperti pa Bupati sampaikan, ini ibarat bak air, kita kuras airnya. Airnya kita ibaratkan anak stunting. Tapi kita lupa keran airnya kita tutup. Keran air itu datang dari keluarga berisiko stunting,” tegasnya.
Ia menambahkan, pemerintah daerah menargetkan seluruh 2.870 keluarga berisiko stunting dapat didampingi oleh orang tua asuh. Pada tahap awal, pihaknya menargetkan 50 orang tua asuh.
“Untuk orang tua asuh juga kita target 2.870. Hari ini kita targetkan 50 orangtua asuh. Hari ini juga kita akan kasih surat cinta untuk calon orang tua asuh,” imbuhnya.
Kristiani menjelaskan, orang tua asuh dalam program GENTING tidak hanya memberikan bantuan materiil seperti nutrisi dan rumah layak huni, tetapi juga memberikan edukasi kepada keluarga berisiko stunting.
Sementara itu, Kepala Perwakilan BKKBN NTT, Faizal Fahmi, mengatakan program GENTING merupakan salah satu prioritas Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga yang ditujukan untuk menjangkau keluarga berisiko stunting di seluruh Indonesia.
“Ini adalah salah satu kegiatan prioritas dari kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga di seluruh Indonesia. Jadi di kementerian punya target, ditargetkan 1 juta keluarga rersiko stunting bisa didampingi,” ungkap Faizal, Senin siang.
Ia menjelaskan, target keluarga berisiko stunting dalam program tersebut di Nusa Tenggara Timur mencapai 27 ribu keluarga. Dari jumlah itu, Kabupaten Manggarai Timur mendapat sasaran pendampingan sebanyak 2.870 keluarga.
Menurut Faizal, program GENTING bertujuan memberikan pendampingan melalui bantuan nutrisi, rumah layak huni, air bersih, hingga jamban sehat.
Ia menegaskan, pelaksanaan program ini mengandalkan semangat gotong royong karena tidak menggunakan anggaran negara, baik APBN maupun APBD.
Faizal berharap Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur segera menyiapkan para orang tua asuh serta memetakan keluarga sasaran yang akan menerima pendampingan.
Bupati Manggarai Timur, Agas Andreas menegaskan penanganan stunting membutuhkan kolaborasi berbagai pihak karena akar persoalannya sangat kompleks dan multidimensi.
“Sebagaimana kita ketahui bersama, penanganan stunting memerlukan kolaborasi sinergis berbagai pihak, mengingat akar permasalahannya amat kompleks dan bersifat multidimensi,” tegas Andreas.
Ia mengatakan, keterlibatan unsur pemerintah, BUMN, BUMD, individu, LSM, komunitas, swasta, dan media sebagai orang tua asuh diharapkan dapat meningkatkan efektivitas penanganan stunting di Manggarai Timur.
“Kolaborasi yang sinergis masih harus terus kita upayakan, agar ke depan jumlah keluarga berisiko stunting (KRS) di Manggarai Timur dapat menurun secara signifikan,” ungkapnya.
Kontributor: Nansi Taris

