Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»KOMUNITAS»Mahasiswa Asal Flores Wakili Jakarta Pusat Menggelar Hari Puisi Indonesia
KOMUNITAS

Mahasiswa Asal Flores Wakili Jakarta Pusat Menggelar Hari Puisi Indonesia

By Redaksi13 Agustus 20173 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Pengurus dan Dapur Teater Sastra Indonesia-Jakarta (Foto: Richard Djegaut)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Jakarta-Sekelompok mahasiswa asal Flores yang tergabung dalam Dapur Theater Sastra Indonesia (DTSI)-IKWJ  menggelar Peringatan Hari Puisi Indonesia 2017, di Taman Suropati, Jakarta Pusat, Minggu (13 /8/2017).

Kegiatan ini merupakan rangkaian dari peringatan Hari Puisi Indonesia 2017, yang puncaknya akan jatuh pada bulan Oktober mendatang.

Kegiatan yang ditaja oleh Dapur Theater Sastra Indonesia yang bernaung di bawah Ikatan Keluarga Besar Welak, Jakarta (IKWJ) tersebut di-koordinir oleh Rikard Djegadut selaku ketua pelaksana HPI Jakarta Pusat dan Pendiri DTSI.

Dalam sambutannya, Rikard Djegadut menyampaikan sebuah kilas balik perayaan Hari Puisi Indonesia yang selama lima tahun terakhir rutin dirayakan, serta terpilihnya Dapur Theater sastra Indonesia-IKWJ mewakili Jakarta Pusat dalam menaja kegiatan hari puisi tersebut.

Dia juga mengungkapkan, kegiatan ini digelar selain untuk menarik perhatian dan minat  masyarakat pada sastra khususnya puisi, juga sebagai bentuk kritik terhadap fenomena lunturnya konsep keutuhan dan maraknya kasus adu domba yang mengatas-namakan agama, suku dan ras.

Sehingga, kegiatan ini, tidaklah berlebihan bila dikatakan sebagai upaya konstruktif merawat keberagaman yang selama ini terus digoncangkan oleh sejumlah pihak yang berkepentingan.

“Berangkat dari fenomena tersebut, maka sengaja acara ini disuguhkan dengan mengusung tema Puisi: Merawat Keberagaman dan merekatkan kemesrahan”. Untuk menyuarakan jeritan anak negeri, melihat kondisi bangsa ini di mana terjadinya degradasi atas penghayatan, dan praktek konsep Bhineka Tunggal Ika.”

Acara malam puisi perayaan Hari Puisi Indonesia tersebut, berjalan cukup lancar. Tampil sebagai deklamator pembuka adalah Rian Agung, Mahasiswa Hukum Esa Unggul. Penampilan gemilang dari seorang Rian Agung menantang segenap peserta dan para hadirin, bahkan pengunjung taman yang awalnya hanya lalu-lalung dan melintas, seketika langkahnya terdiam dan memasangkan telinga serta mata ke arah suara yang lantang menggema.

“Rian membawakan puisi berjudul: Lima Tanya Untuk Tuhan. Ia mengkritisi pola pikir para theistik yang melegalkan pembunuhan dengan label, dan legalitas agama. Ia lalu menggugat Tuhan: mengapa Iman kepada yang Ilahi harus melibatkan kematian yang lain dan mengobarkan hidup  “mulia” dari insan yang lain. Suaranya menurun pertanda bait puisinya berakhir dan tepuk tangan hadirin menggelegar. Jelas Djegaut dalam pres release yang ditermia VoxNtt.com.

Deklamator berikutnya adalah Saudari Yustina Ndia—membawakan puisi Wahai Pemuda Mana Telurmu karya penyair besar Sutardji Calzoum Bachri.  “Puisi yang khusus menantang putra-putri pertiwi, dan segenap komponen bangsa agar merapatkan barisan menjaga kemerdekaan” terangnya.

Bahwasannya kemerdekaan itu tidak hanya dimengerti sebagai pelepasan diri dari tangan penjajah, melainkan bagaimana memaknai dan menghayatinya serta mempertahankannya.

Penampilan gemilang Yustin begitu Ia akrab disapa, sungguh menghipnotis segenap hadirin. Sementara puisi Di Negri Amplop, karya penyair kenamaan Gus Mus-dibawakan oleh Yanto Selai, dengan halus menyindir praktek-praktek kolusi, korupsi dan nepotisme sehingga acapkali Ibu Pertiwi menangis melihat anak-anaknya menjadi hamba uang.

Djegaut menjelaskan, dalam puisi Negeriku, lewat penampilan Yulin, Ibu pertiwi mengajukan pertanyaan retoris: mana ada negeri sesubur negeriku? Puisi seperti Bhineka Tunggal Ika, Negeriku ha…hi…masing-masing dibawakan oleh Jeremiaz dan Jefry Darman.

Beberapa hadirin juga diberikan kesempatan untuk membacakan puisi dan ditutup dengan puisi berjudul “Aku Masih Sangat Hafal Nyanyian Itu” karya KH. Mustofa Bisri yang dibawakan oleh Djegadut sendiri.

Puisi yang khusus mempersembahkan ke-kontras-an antara realitas kepahitan yang dialami bangsa ini dengan pandangan visioner pengarang lagu Indonesia Tanah Air Beta. Tepat  pada lirik-lirik ini sang deklamator menyanyikannya:

Indonesia tanah air

kita

Bahagia menjadi nestapa

Indonesia kini tiba-tiba

Selalu

dihina-hina bangsa

Di sana banyak orang lupa

Dibuai kepentingan

dunia

Tempat bertarung merebut kuasa

Sampai entah kapan

Akhirnya.

Acara diakhiri dengan pengambilan video ucapan selamat Hari Puisi Indonesia 2017, dari segenap pengurus dan anggota. (RDJ/BJ/VoN)

 

 

Previous ArticleHome Visit ala Yosef Amasuba Yang Layak Ditiru
Next Article Pramuka Harus Bangun Kerakter Generasi Muda

Related Posts

Romo Julivadis Tanto: Fasilitator Katekese Bukan Penguji Umat, tetapi Sesama Peziarah Iman

14 Februari 2026

GAMKI NTT Luncurkan Orela TV, Angkat Isu Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak

11 Februari 2026

Peringati Hari Pers Nasional, Wartawan di Manggarai Barat Salurkan Sembako ke Warga Pesisir

8 Februari 2026
Terkini

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026

Ketua PSSI Manggarai Barat Buka O2SN Gugus 04 Namo di Lembor Selatan

7 Maret 2026

Kisah Nangadhero, Desa Pesisir di Nagekeo Tempat Petani dan Nelayan Menjaga Harmoni

7 Maret 2026

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.